forum indonesia muda sandi iswahyudi
Tiga pemateri lintas generasi membuktikan budaya boleh dan bisa diinovasikan dengan teknologi. Kegiatan diadakan oleh FIM (Forum Indonesia Muda) Regional Malang (Sumber IG FIMalang)

Kelebihan anak muda, berani untuk mengambil keputusan dan risiko. Berani mengejar sesuatu walau tidak banyak yang mendukung. Serta yang luar biasa, ketika sebagian dari mereka melestarikan budaya.

Kekaguman ini sangat beralasan. Di tengah perkembangan zaman, jika ada anak muda yang melestarikan kebudayaan Indonesia, bagi saya sungguh luar biasa. Sebab pandangan anak-anak muda tentang budaya yaitu: kuno, milik orang tua, dan kaku.

Jika hal ini dibiarkan terus, bisa dipastikan budaya Indonesia hanya tinggal kenangan. Padahal budaya berisi tentang nilai, identitas, sejarah bangsa, hingga keunikan-keunikan negeri.

Saya pribadi mulai menyukai kebudayaan Indonesia dua tahun terakhir. Mulai suka kain-kain khas buatan dari berbagai daerah. Di mana kain itu bukan saja menampilkan perpaduan corak dan warna yang cantik. Tapi juga tersirat identitas di dalamnya. Ada nilai yang terkandung disetiap coraknya.

Sabtu (19/3) pukul 16.00 WIB ketakutan akan minimnya generasi muda pecinta budaya sedikit terobati. Sore itu saya menghadiri acara yang diadakan oleh FIM (Forum Indonesia Muda) Regional Malang, bertempat di Laughboratorium, jalan Jakarta, Kota Malang.

Dihadiri oleh 90% kaum muda, baik yang masih mahasiswa/sudah bekerja. Awalnya saya pikir, yang datang sedikit, ternyata lebih dari 30 pemuda hadir. Luar biasa bukan? Pematerinya tiga orang, yaitu Priyo Sunanto, Afthon Muhammad, dan Verdy Firmantoro.

Priyo Sunanto pelaku seni dan budayawan Kota Malang

“Baru kali ini saya bicara dihadapan 90% anak muda,” ungkapnya membuka diskusi dengan senyum merekah. Priyo menjelaskan, sesungguhnya semua manusia adalah seorang seniman dan budayawan.

Contohnya seperti sebelum berangkat ke suatu acara, kita akan berkaca untuk menyesuaikan penampilan. Cocok tidaknya pakaian tersebut, itu sudah masuk ranah seni. “Terus, dari bangun tidur sampai tidur lagi, kita tidak akan pernah lepas dari budaya,” jelas Priyo.

Mbah Priyo sapaan akrabnya, mengatakan, “Seni budaya tidak kolot (kuno), bisa berkembang sesuai perkembangan zaman. Seni budaya boleh diinovasi, agar ia terus hidup.”

Saya menangkap, Mbah Priyo ingin menanamkan pada peserta bahwa kita boleh menginovasikan budaya sesuai dengan ketertarikan kita. Misalnya saya suka dengan desain, fotografi, dan ngeblog. Saya bisa masukkan unsur-unsur budaya ditiap kategori yang saya suka.

Ia juga ingin mendobrak pemahaman pemuda yang selama ini salah tentang budaya. Bahwa budaya itu bisa dikemas sesuai dengan perkembangan zaman.

Kamu suka apa? Kamu memiliki hobi desain, fotografi, videografi/apa? Semua itu bisa kamu masukkan unsur-unsur budaya Indonesia.

Afthon Muhammad mengemas budaya dengan teknologi AR

Afthon Muhammad, pemuda pemilik bisnis clothing line Kertanusa yang saya perkirakan umurnya masih kepala dua, seolah-olah menjawab pertanyaan Mbah Priyo.

Ia bercerita, bahwa dulu saat SMA di Jakarta apatis dengan budaya. Kemudian pindah ke Surabaya, ia mulai suka dengan budaya. Sekarang, dirinya telah jatuh cinta dan memiliki bisnis dengan unsur budaya Indonesia.

Afthon menggabungkan teknologi dan budaya. Ia mengemas budaya yang kesannya kuno menjadi modern, sehingga generasi muda suka. Ia dan tim membuat beragam produk, salah satunya, kaos yang ada karakter budaya. Kaos tersebut diintegrasikan dengan teknologi AR (Augmented Reality).

Sehingga ketika kaos disorot dengan smartphone, langsung memunculkan video cerita dibalik karakter tersebut.

Hem… keren, dengan teknologi ini, pemuda akan lebih tahu tentang budaya Indonesia. Saya tahu teknologi ini ketika ke Bandung dan Kediri. Di sana teknologi AR digunakan oleh brand besar untuk mempromosikan barang dan jasanya.

Jika teknologi semacam ini diterapkan diberbagai macam kebudayaan Indonesia, bisa dipastikan banyak anak muda tertarik dan suka. Sebab anak-anak muda suka dengan kemasan yang modern.

Afthon menjelaskan tentang perpaduan budaya dan teknologi sangat antusias dan menggebu-gebu. Hal ini menunjukkan, ia sudah merasakan atas apa yang dilakukan. Serta ia ingin menyampaikan nilai yang penting pada generasi muda. Bukan hanya terkait bisnis kreatif, namun juga melestarikan identitas bangsa.

Saya pasti juga akan seperti itu, jika menyampaikan suatu nilai yang memang bermanfaat bukan untuk pribadi semata.

“Teknologi tidak mengganti budaya, tapi mendukung dan menjadikannya semakin eksis,” tuturnya.

Poin penting yang saya dapatkan. Dalam hal bisnis kreatif, segala hal yang dibalut dengan budaya memiliki potensi yang besar. Selain Indonesia memiliki beragam kebudayaan dari Sabang-Merauke. Juga turis mancanegara suka dengan hal-hal yang berbau budaya.

Bagaimana, apakah kamu tertarik berbisnis kreatif dengan memasukkan unsur-unsur budaya Indonesia?

Verdy Firmantoro melestarikan naskah-naskah kuno

Pemateri ketiga adalah Verdy, pemuda yang memiliki inovasi untuk digitalisasi naskah-naskah kuno Indonesia. Alumni jurusan komunikasi UB ini mengatakan dirinya tidak memiliki latar belakang kebudayaan.

Namun kesukaannya untuk mempelajari tentang kebudayaan membuatnya memiliki ide semacam ini.

Kenapa Verdy melakukan ini? Jawabnya karena ia cinta dengan budaya Indonesia, dan tidak ingin identitas itu hilang suatu saat nanti.

Kemarin ada beberapa poin yang disampaikan Verdy, membuat saya tertarik dan mulai memantapkan diri untuk ikut melestarikan kebudayaan Indonesia. Pertama saat proses pengumpulan naskah-naskah kuno banyak yang sudah berada dibeberapa negara Eropa. Hal ini diakibatkan karena kurang kepedulian masyarakat.

Kedua, naskah-naskah kuno dikomersilkan dan orang luar negeri juga memburunya. Ketiga, naskah-naskah kuno di Indonesia banyak yang mulai rusak.

Itu jika melihat dari naskah-naskah kuno. Sepertinya budaya lain Indonesia juga diambang kehancuran dan bisa jadi suatu saat akan hilang. Jika kita sebagai generasi muda tidak mulai suka dan cinta kepadanya.

Terus bagaimana caranya agar anak-anak muda, sedikit demi sedikit mulai tertarik dan suka? Caranya mudah, kemas budaya dengan teknologi, bisa dalam bentuk video, animasi, kaos, game/lainnya. Anak-anak muda akan mulai tertarik, suka, dan kemudian cinta pada budaya Indonesia.

“Tak kenal maka tak suka. Kuncinya mengenalkan budaya pada pemuda. Kemas budaya dengan teknologi. Mereka nanti akan mulai tertarik dan suka., kata Afthon.

Verdy dan Afthon merupakan salah satu bukti, bahwa masih ada pemuda yang peduli dengan kebudayaan Indonesia. Saya juga yakin, diberbagai daerah masih banyak generasi muda yang melestarikannya.

Budaya mengajarkan tentang nilai, keberanian untuk maju dan raih mimpi, serta pengingat akan luar biasanya Indonesia.

Mari kita jaga dan lestarikan bersama-sama!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here