sandi iswahyudi

Baru aku sadari, jika bicaramu adalah lakumu. Aku tahu ada banyak tipe orang, ada yang banyak bicara dan bertindak, banyak bicara sedikit bertindak, dan banyak bertindak, sedikit bicara.

Engkau ada dibagian, banyak bertindak sedikit bicara. Aku harus tahu, sadar dan tak boleh menuntut sesuatu yang itu bukan dirimu.

Aku harus berdamai dengan diri, bersyukur karena masih bisa memilikimu. Merasakan kehadiran kasih sayangmu. Kulihat banyak diluar sana, yang tidak bisa merasakan sentuhan seorang ayah.

Maka tak ada pilihan lain, selain bersyukur bukan karena terpaksa, tapi kewajiban.

BACA JUGA: Bersama Bapak #1: Prolog Sepanjang Masa

Salah satu bentuk sayang dan perhatianmu padaku. Yaitu, sejak kecil kau ajarkan aku untuk mandiri. Kau ajarkan aku untuk tahu tentang bagaimana meringankan pekerjaan orang tua.

Seperti cuci piring, cari air untuk kebutuhan di rumah, memasak, dan cuci baju. Kau ajarkan aku bertahap. Seingatku dulu, kau ajarkan aku cuci pirang sejak SD. Beberapa kali aku pun menolak, ya… namanya juga anak-anak.

Tapi aku tetap melakukannya, bahkan sampai sekarang. Sekarang aku tahu, manfaat didikanmu itu. Aku jadi tahu pekerjaan rumah.

Aku jadi tahu pekerjaan seperti ini, bisa meringankan pekerjaan orang tua. Bisa membuatmu dan ibu tersenyum. Sebagai anak, ini juga menjadi salah satu bakti ke orang tua.

Apalagi nanti saat aku sudah berkeluarga, keterampilan seperti ini bisa membantu pekerjaan istri. Bahkan ini juga menjadi sunnah Rasul, yaitu membantu pekerjaan istri.

Hikmah lain yang aku dapat, adalah tentang kerja keras, dan melakukan sesuatu dengan tulus. Walau pekerjaan rumah itu remeh, jika tak dikerjakan dengan tulus, tentu sangat membosankan bukan?

BACA JUGA: (+Video Animasi) Pengalaman Menggunakan Zenfone Laser ZE550KL 5.5: Kamera Laser Auto Focus, Fitur Mengagumkan dengan Harga 2 jutaan

Ya… walaupun nanti misal kita gunakan pembantu untuk selesaikan pekerjaan rumah. Tapi menurut saya poinnya bukan itu. Melainkan tentang tanggung jawab. Bagaimana seharusnya seseorang bukan hanya suka dengan yang manis/enak tapi juga suka dengan sesuatu yang kotor, bau atau semacamnya.

Sekarang saat aku sudah menginjak dewasa, umur 23-an, aku tahu jika kasihmu tak mudah menguap. Kasihmu bertahan lama dan tak akan hilang.

Maka, rasa sayang itu tak bisa dirasakan dalam sekejap. Butuh waktu untuk memahami dan merasakan indahnya. Dengan ketulusan rasa itu akan mendarah daging dan abadi bagi para pecinta dan penikmatnya.

Terima kasih bapak, atas kasihmu selama ini.


Batu, 9/1/2016

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here