Diary Ramadan #2: Tamparan Prof. Dr. Hamka di Kala Berbuka Puasa

diary ramadan prof. dr. hamka

Lama aku tidak menulis diary Ramadan ini, setelah pada 7 Juni 2016 aku menulis tentang adik yang menjadi ibu.

Setelah itu, aku tidak lagi menulis. Padahal banyak kisah dan pengalaman yang ingin aku ceritakan. Ingin aku bagi pada pembaca.

Malam ini, hati, tangan, dan pikiran menguat agar aku menulis kisah Ramadanku.

Setelah berbuka puasa, pukul 18.34 WIB, aku langsung menyalakan laptop sambil ditemani es campur yang belum habis.

Keinginanku ini, setelah aku membaca buku yang terhenti pada sebuah pemaparan yang menohok diri. Pemahaman yang menjadi semacam kunci dan hal mendasar yang harus aku miliki dan aplikasikan dalam menjalani kehidupan.

Tamparan Prof. Dr. Hamka

Kata-kata itu aku ulangi lagi, dan ternyata meruntuhkan pemahamanku yang salah akan memandang sebuah permasalahan, kejadian dalam kehidupan. Makanya kemudian aku terbangun, tangan, pikiran, dan tubuh langsung tergerak menguat untuk aku menuliskan ini.

Agar orang lain, yang belum tahu, harapannya bisa mendapatkan manfaatnya. Sedangkan mereka yang sudah tahu, menjadi semakin memahami.

Aku juga berharap lewat menulis ini, aku mengingat dan mudah untuk mengaplikasikan dalam kehidupan. Semoga kita dipermudah untuk memahami dan mengaplikasikannya.

Bismillah, inilah kata-kata itu,

“Segala sesuatu di dalam alam ini baik dan buruknya bukanlah pada zat sesuatu itu, tetapi pada penghargaan kehendak kita atasnya, menurut tinggi rendahnya akal kita. Apalah gunanya pena emas bagi orang yang tak pandai menulis? Apalah harga Al-Quran bagi seorang Vrijdenker (tidak beragama)? Apalah harga intan bagi orang gila? Sebab itulah manusia disuruh membersihkan akal budi, supaya dengan dia kita mencapai bahagia yang sejati.”

Lewat pemaparan ini, aku tertampar. Aku masih melihat yang buruk itu buruk, yang baik itu baik. Aku masih dengan seenaknya saja memberi label pada sesuatu, yang kadang label itu tak memberi kebahagiaan, melainkan keburukan bagi diriku sendiri.

Makanya, Allah berfirman, “Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

Hem… baiknya memang kita selalu memandang segala sesuatu dengan pikiran positif. Seperti kata, Dr. Ibrahim Elfiky dalam bukunya Terapi Berpikir Positif menjelaskan, pikiran positif dapat berpengaruh pada fisik, kesehatan, citra diri, kepribadian hingga kesuksesan seseorang.

Gagal itu nikmat

Ke depan, aku akan terus mengingat makna ini. Kemudian sedikit demi sedikit aku aplikasikan dalam kehidupan. Aku tak akan memberikan label pada sesuatu dengan mudahnya. Aku akan selalu berpikir positif, dan yakin akan Allah, bahwa ia akan selalu berikan yang terbaik buat hambanya.

BACA JUGA: Catatan Untuk KMGP 2 Karya Bunda Helvy Tiana Rosa

Jika ini aku lakukan tentu aku akan tenang, bahagia, dan nikmat menjalani hidup. Sebab ketika aku memandang sesuatu itu buruk dan gagal. Tentu akan sangat berdampak pada psikis dan kehidupanku. Seperti 2015 lalu, aku gagal mengikuti seleksi pelatihan FIM (Forum Indonesia Muda). Saat itu aku sudah gagal tiga kali, dan berpikir yang buruk tentang diriku.

Barulah 2016 ini, aku menyadari bahwa kegagalan itu adalah hadiah terindah dari Allah. Kegagalan itu adalah cara Allah menempatkan aku pada posisi dan waktu yang pas. Sehingga saat aku lolos mengikuti pelatihan FIM 2016, aku bisa memaksimalkan kesempatan yang ada. Aku bisa percaya diri dan bersyukur atas apa yang sudah aku dapatkan.

Kalaulah misalnya, 2015 aku lolos pelatihan ini, tentu aku tak akan bisa maksimal, tak akan tahu tentang diri, dan mungkin aku tak akan bersyukur atas raihan yang aku dapatkan.

Gagal itu nikmat, ia adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah pada hamba-hambanya.

Alhamdulillah…

Terkait kutipan di atas yang membuat hati, tangan, dan pikiranku langsung tergerak untuk menulis, mengabadikan, serta membaginya. Tahukah sobat itu dari buku dan karangan siapa?

Ya, kalimat itu saya kutip dari buku Tasawuf Modern; Bahagia itu Dekat dengan Kita Ada di dalam Diri Kita, karya Prof. Dr. Hamka.

Tahukah siapa penulis itu?

Saya sebenarnya sudah tahu lama, namun hati ini mulai tergerak untuk membeli buku-buku beliau dan menelusuri tulisan-tulisannya setelah bulan lalu beli buku karangan anaknya berjudul Ayah. Buku itu menceritakan sisi lain Prof. Dr. Hamka dari sudut pandang anak kandungnya.

BACA JUGA: SNSC FIMalang: Cara Bangun Keluarga Produktif di Medsos

Dari membaca kisah itu, aku terperanjat, dan semacam menemukan oase di padang pasir. Bagaimana tidak, beliau tidak lulus sekolah formal, beliau belajar otodidak, kemudian hijrah untuk belajar ke bermacam guru. Sampai beliau belajar di Arab Saudi.

Kemudian beliau seorang yang luar biasa, diejek, dihina, hingga difitnah oleh penguasa saat itu. Tapi tetap berjiwa besar, tidak dendam, dan mau memaafkan penguasa tersebut.

Hem…

Makanya setelah membaca buku Ayah, aku ingin membaca tulisan-tulisan beliau yang lain terutama dalam hal agama. Karena aku yakin, orang setabah, sebijak seperti Prof. Dr. Hamka, tentu memiliki pegangan/sandaran ilmu agama yang kuat.

Alhamdulillah kemarin, saat puasa, saya ke toko buku di Malang, dan menemukan dua buku beliau, salah satunya tentang Tasawuf Modern.

Buku yang ternyata luar biasa, dan sayang kenapa tidak dari dahulu aku membacanya.

Salah satu hadiah luar biasa di Ramadan kali ini, aku mengetahui dan mulai mempelajari salah satu tokoh besar, seorang ulama, sastrawan, dan pejuang Indonesia yang luar biasa. Aku tahu disisa umur yang memasuki kepala dua danmasih bujang.

Sehingga aku berdoa semoga lewat berguru dari Prof. Dr. Hamka dengan mempelajari tulisan-tulisan beliau. Aku bisa seperti beliau, menjadi seorang pemimpin yang lurus dijalannya, yang konsisten menulis untuk menebar kebaikan dan kebermanfaatan bagi sesama.

Hadiah yang indah, dan menentramkan.

“Buku adalah sebaik-baik teman duduk,” Dr. Aidh Al-Qarni, penulis buku La Tahzan.

Duhai sobat, izinkan aku untuk mengajakmu membiasakan membaca buku. Kemudian mencatat sarinya, dan membagikan apa yang kita pahami dari buku tersebut.

Kita tidak akan pernah tahu dari mana kita akan dapatkan pemahaman ilmu. Mendapatkan manfaat dari ilmu. Kita juga tidak akan pernah tahu, di mana kita akan dapatkan keberkahan ilmu.

Akhirnya, Semoga Allah memudahkan kita dalam mempelajari ilmu-ilmu-Nya, memahami, serta mengamalkannya.

37 Comments

Reply