blogger video animator sandi iswahyudiTahukan bagaimana konflik itu? Apalagi era sekarang, pergulatan jiwa dan lingkungan berpengaruh besar dalam kemunculan konflik.

Konflik akan selalu ada di mana pun kita berada. Baik skala kecil ataupun besar. Apalagi bagi kita yang suka berorganisasi/berkomunitas. Kemudian mendapatkan tanggung jawab hingga jabatan tertentu. Konflik pun akan datang silih berganti, menyapa hingga menegur kita.

Banyak konflik yang ditanggapi dengan emosi dan amarah.

Melalui cara ini, ada yang teman, kemudian jadi musuh, ada juga yang tadinya tidak dekat, menjadi semakin akrab. Semua itu tergantung dari bagaimana kita menerima, kemudian meresponnya.

Kata Steven Covey, penulis dan motivator, ada waktu jeda antara stimulus dan respon. Waktu jeda tersebut, untuk menimbang dan memikirkan respon yang akan dilakukan. Apakah respon positif atau negatif.

Jika konflik direspon dengan negatif, hasilnya pun negatif. Minimal, tenaga dan pikiran terkuras. Serta aktivitas kita lainnya, akan terhambat juga.

Jadi pilihan pasti dan bijak, lawan konflik dengan sikap positif. Kita akan mampu mendapatkan jalan keluarnya, hati, tenaga, dan pikiran tetap sehat. Tentu aktivitas kita yang beragam tetap berjalan pula, tanpa terhalang dengan konflik yang sedang dihadapi.

Ya, walaupun tidak semudah mengatakannya. Saya pun sekarang masih belajar untuk mempraktikkan hal ini dengan konsisten. Menyelesaikan konflik dengan baik dan fokus pada solusi, daripada masalah.

Tidak ada pilihan lain, selain menghadapi konflik dengan sikap positif. Toh, konflik itu hadir dalam rangka meningkatkan kualitas diri kita. Menjadikan diri dewasa, bijak, dan bisa memandang segala sesuatunya dari berbagai sisi.

Allah tidak akan menurunkan sesuatu, kecuali penuh dengan hikmah. Apalagi kehidupan ini sementara, serta penuh dengan suka dan duka.

Semua itu merupakan keseimbangan hidup. Maka, apa yang perlu dikhawatirkan lagi? Apa yang membuat kita bimbang untuk menghadapi konflik dengan sikap positif?

Yuk, selalu perbaiki niat, introspeksi diri setiap saat—untuk apa kita hidup dan di mana tempat kembali—fokus pada solusi, dan menjadikan konflik media untuk mendewasakan diri. Terpenting, ikut dan aktiflah di komunitas/organisasi yang disuka.

Bagaimana, siap untuk menghadapi konflik dengan positif?

Konflik itu adalah stimulus, responnya tergantung kita. Mau yang positif atau negatif. Mau yang lebih meningkatkan kepribadian diri/sebaliknya? Mari terus belajar dan memperbaiki diri.

Inilah salah satu hikmah kita aktif di komunitas atau organisasi, kita akan terbiasa bertemu dengan konflik, dari yang awalnya tidak kenal jadi akrab. Akhirnya, konflik bukan menjadi hambatan, melainkan jembatan untuk meningkatkan kualitas diri.

Bagaimana, apakah saat ini kamu sudah aktif di komunitas atau organisasi? Bagaimana pengalamanmu terkait konflik di sana? Yuk ceritakan, kisahnya dan bagaimana kamu mengatasinya!

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here