Berbicara sama halnya seperti kombinasi angka dalam sebuah kunci koper. Tugas kita adalah menemukan kombinasi angka yang tepat dalam tata letak dan waktu yang tepat. Sehingga kita dapat memperoleh apa yang kita inginkan (Charles Bonar Sirait-The Power Of Public Speaking)

Masih ingat jelas memori saat itu, ketika saya semester pertengahan dan aktif diorganisasi intra kampus.

“Sandi, kamu itu bicaranya mbulet—berputar-putar, membingungkan/tidak langsung ke poin inti,” ungkap salah satu teman saya diorganisasi.

Hal ini ternyata juga dibenarkan dengan ucapan orang lain. Bahwa saya bicaranya memang mbulet.

Kemudian, saya tanyakan ke orang yang sama pada dua tahun berikutnya, tahun 2014 saat saya PKL di Unilever. Bahwa saya bicaranya mbulet

Padahal kemampuan berbicara, merupakan aset dan investasi yang sangat berharga dan menguntungkan.

Public speaking saat ini memberikan begitu banyak kesempatan bagi kita semua untuk meningkatkan karier, talenta kepemimpinan, kemampuan percaya diri, bahkan sebagai sarana untuk memperbanyak jumlah teman, sahabat, kolega, kenalan, dan lain-lain (The Power Of Public Speaking)

Kemudian kalau kamu yang dapatkan perkataan—masukkan/kritik—seperti itu. Bagaimana perasaanmu?

Apakah kamu akan marah?

Terus pergi dan memutus kontak dengan teman dan organisasimu tersebut. Tanpa berpikir panjang, apakah benar saya seperti itu/tidak?

Serta tidak memedulikan efek jangka panjang dari keputusan yang diambil?

Ataukah kamu akan sabar dan memilih jalur dewasa?

Yaitu, kamu tetap menghargai temanmu, bahkan terima kasih atas saran yang diberikan. Kemudian kamu terus memperbaiki diri supaya bicaramu tak lagi mbulet seperti dulu. 

Kamu pilih yang mana?

Kalau saya pribadi, memilih jalur kedua, saya akan tetap sabar dengan melihat sisi lain, dan terus perbaiki diri. Walaupun awalnya saya emosi atas perkataannya tersebut.

Tapi saya sadar, bahwa seorang pemimpin hebat itu. Dia harus berani dan terbiasa dengan saran-kritikan, baik dari sahabat, orang yang gak dikenal hingga musuhnya sendiri.

Apalagi, pemimpin itu minimal harus terampil public speaking-nya. Di mana komunikasi pada masyarakat bawah-tinggi berbeda-beda cara dan pengemasannya

Selanjutnya, setelah saya berdamai dengan hal tersebut. Saya melakukan lima langkah untuk perbaikan diri, yang mungkin bisa kamu terapkan juga.

1. Mintalah pendapat pada orang yang kamu percaya.

Kamu bisa minta pendapat tentang kualitas public speaking-mu pada mentor, saudara/teman satu organisasi. Kamu akan mendapatkan penilaian objektif dengan langkah ini. Setelah itu, kamu akan tahu harus kemana arahnya.

Saat itu, saya minta pendapat dari sahabat/kakak saya. Saat itu, saya minta pendapat ke Mas Wawan, beliau orang yang hebat, organisasi dan prestasi ok, terlebih beliau dewasa dalam melihat sesuatu. Kata beliau, “Gak papa San. Bicara mbulet itu bisa melihat sisi lain yang orang lain gak tahu.”

2. Biasakan untuk bicara di depan umum

Membiasakan diri, berbicara di depan umum, membuatmu terbiasa melakukan itu.

Jangka panjangnya, kamu akan semakin menikmati berbicara di depan umum.

Cara paling mudah dan gampang membiasakannya, ikut dan aktiflah di organisasi.

Kamu akan memiliki banyak kesempatan untuk berbicara di depan umum.

Saya memberanikan dan membiasakan diri untuk terus bersuara serta menyampaikan pendapat. Baik di forum formal maupun non. Walaupun, mereka mungkin tidak langsung bisa menangkap inti pembicaraan saya.

Saya saat itu terus mengulangi beberapa kali, ke lawan bicara. Supaya mereka menangkap pesan yang saya utarakan.

3. Jika ingin kualitas public speaking bagus? Belajarlah menulis dengan konsisten!

Menulis, akan membuatmu bicara dengan runut. Sebab di dalam menulis, kamu akan belajar struktur kepenulisan yang rapi dan terstruktur. Bagaimana tulisan itu menarik, dan bagaimana tulisan itu menggugah.

Saya juga membiasakan menulis baik curhat hingga tulisan untuk diterbitkan di media online-offline. Dari sini, saya merasa teknik menulis juga bisa diaplikasikan ke teknik bicara.

Bagaimana pendahuluannya, isi, kemudian penutup. Atau pada kondisi tertentu, kita awali dengan lead yang menarik, baru masuk ke isi kemudian kesimpulan.

4. Teruslah terlibat aktif di organisasi/komunitas!

Banyak bukti yang menunjukkan, bahwa aktivis dia pandai berbicara dan mengutarakan gagasan.

Pandai memobilisasi masa.

Di organisasi, kamu belajar public speaking gratis. Beda, jika kamu ikut kelas public speaking?

Saya juga hingga hari ini, aktif terus di organisasi, tempat untuk menempa kepribadian diri. Tempat yang pas untuk belajar tentang segala hal. Termasuk salah satunya seni berbicara, baik pada orang yang umurnya dibawah kita-yang mereka lebih dewasa.

5. Supaya public speaking-mu bagus, banyaklah membaca buku!

Seperti halnya tubuh, yang membutuhkan makanan/minuman untuk beraktivitas.

Begitu juga dengan public speaking, semakin banyak buku yang dibaca, kosa kata-wawasanmu luas.

Ini sangat berguna, ketika kamu menjadi pemateri-pembaca acara dengan momen berbeda-beda.

Saya sekarang juga membiasakan untuk membaca buku. Terutama buku tentang public speaking dari para pakar. Saya membaca, kemudian mempraktikkannya. Salah satu buku yang bagus berjudul The Power Of Public Speaking karya Charles Bonar Sirait.

Terpenting dari poin-poin ini, jangan pernah berhenti bicara dan belajar!

Teruslah konsisten, dan temukan kenapa kamu harus melakukan ini?

Kenapa kamu harus ahli, dan apa manfaat yang orang lain dapat dengan keahlian yang kamu punya?

Motivasi yang kuat dan besar, membuatmu akan menjadi public speaker handal selanjutnya.

Alhamdulillah kemarin, saat bertemu sama pimpinan di organisasi untuk membahas projek yang akan dilakukan. Beliau bilang saat kami akan membahas projek, “Sandi, kamu ko bicaranya sistematis?”

Saat itu juga saya jawab, bahwa ini juga termasuk dampak dari kebiasaan saya menulis.

Saya merasa memang, menulis itu memiliki dampak yang luar biasa, bagi kepribadian, khususnya seni bicara kita. Alhamdulillah saat ini, apa yang saya sampaikan ke orang lain tidak lagi mbulet seperti dulu. Saya akan terus berusaha untuk perbaiki diri terus. Agar kedepannya, saya menyampaikan pendapat-gagasan tidak lagi mbulet, tapi langsung mengena ke sasaran. Aamiin

Salah satu mimpi saya adalah menjadi pembicara andal, baik yang formal maupun non formal. Saya ingin berbagi apa yang saya miliki, dan menginspirasi pengalaman yang saya dapatkan.

Lewat ketulusan dan kontinuitas menulis, mimpi itu pasti akan terwujud. Apalagi, jika mimpi kita demi kebaikan bersama?

6 KOMENTAR

  1. Nah saya pun sampai saat ini masih butuh pengalaman2 berbicara di depan umum, masih grogi soalnya, terus sekana saya demam panggung, imajinasi saya membayangkan: Tubuh saya berubah menjadi kecil di depan sendirian diliatin orang banyak. Biasanya kalau demam panggung gitu, omongannya saya tak terkontrol pikiran, mubh koyoe sama Mbulet

    • Hihi semangat mas. Mari terus belajar. Kalau saya mendapatkan ilmu dari guru saya, salah satu cara supaya kita terbiasa bicara di depan umum, dengan membiasakan berbicara di depan kaca tiap harinya mas.

      Terus dengan kita terbiasa menulis, secara gak langsung gaya bicara kita akan terbiasa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here