mata najwa kota batu sandi iswahyudi
Sumber gambar: jatim.metrotvnews.com

Tahu acara Mata Najwa on stage, kemarin Sabtu (3/10) di Kota Batu? Ada tujuh fakta menarik yang harus Anda ketahui, khususnya yang kemarin tidak bisa hadir.

Siapa yang tidak kenal dengan Mata Najwa, acara keren yang selalu mendatangkan tokoh-tokoh nasional, dari mulai seniman, budayawan, hingga politikus.

Ternyata, Sabtu kemarin ada banyak fakta yang terjadi, dan beruntung saya bisa menyaksikannya langsung.

Berikut tujuh fakta yang ada di Mata Najwa on stage Kota Batu, Jawa Timur kemarin.

Pertama diadakan pertama kali di lapangan sepak bola

Sebelumnya saya juga pernah ikut Mata Najwa on stage di kampus saya, Universitas Muhammdiyah Malang yang diadakan di Dome UMM.

Kemudian saya juga lihat beberapa kali acara yang on stage di kampus-kampus via layar TV namun diadakan di gedung/aula. Namun Sabtu kemarin, Pemerintah Kota Batu mengemasnya berbeda, yaitu diadakan di Stadion Brantas Jl. Sultan Agung.

Lokasi yang menurut saya cukup strategis bisa diakses dari Malang atau Kediri-Jombang. Selain itu lokasi ini juga dekat dengan berbagai wisata Kota Batu dan beberapa hotel. Seperti Museum Angkut, Museum Tubuh, dan Jawa Timur Park 1.

Sepertinya pemilihan tempat, juga sebagai ajang mempromosikan wisata ke para pengunjung.

Kedua penonton yang hadir sebanyak 25 ribu orang

Karakter stadion merakyat dengan kapasitas yang besar, membuat pengunjung dari berbagai lapisan hadir serta membaur.

Alhasil kemarin, sebanyak 25 ribu penonton hadir, mulai dari mahasiswa, pedagang, hingga masyarakat umum dari berbagai lapisan. Ada yang berada di tribun penonton, ada juga yang lesehan di lapangannya.

Saya kemarin sebenarnya dapat di tribun penonton gate B, namun saya memilih lesehan yang dilapangannya.

Alasannnya supaya lebih dekat, lebih merasakan atmosfer para penonton dan lima narasumber Mata Najwa. Selain itu, saya supaya mudah dalam pengambilan foto.

Maklum saya menggunakan kamera HP, sehingga kalau duduk di tribun pasti dapat juga fotonya, namun hasil kurang memuaskan.

Ketiga dapat MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia)

Tempat yang berbeda dari acara Mata Najwa on stage sebelum-sebelumnya, ditambah dengan jumlah penonton yang luar biasa untuk pertama kalinya, membuat acara talk show kemarin mendapatkan MURI.

Penghargaan ini diterima langsung oleh Walikota Batu Eddy Rumpoko dan Pemred Metro TV Putra Nababan.

Hem, keren selamat ya Kota Batu. Saya sebagai orang yang lahir di sini, ikut senang dan bangga dengan penghargaan yang diterima.

Semoga lewat penghargaan ini Kota Batu terus berinovasi membuat gembrakan-gebrakan lain guna meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan warganya.

Salah satu hikmah Kota Batu dan Metro TV mendapatkan penghargaan ini adalah, pentingnya kita untuk jadi beda. Ketika kita berbeda, orang akan cepat mengenal kita.

Keempat Sabtu kencan ramai-ramai dengan tokoh inspiratif

Hal yang bikin heran lagi, kemarinkan Sabtu, biasanya waktunya yang muda-mudi kencan. Tapi kemarin muda-mudi hingga yang sudah berkeluarga ikut membaur di sini, menonton tokoh-tokoh inspiratif tanah air.

Saya pikir bakalan tidak ramai, apalagi kemarin yang saya tahu Arema bertanding,

Jadi kemarin Mbak Najwa dan presenternya sebelum Mata Najwa on air bilang, yang ke sini jomblo ya?

Hehe…  malahan kalau saya tahu yang ke sini sudah punya pacar dan berkeluarga. Kalau saya sendiri, masih jomblo sih makanya ke sini biar bisa kencan sama tokoh-tokoh inspiratif.

Kemarin yang hadir dari seniman (Syahrini, Cak Lontong, Sujiwo Tejo) dan politkus (Pramono Anung dan Saifullah Yusuf). Serta ada juga band pengiring yaitu Rif dan The Overtunes.

Saya tidak menyesal hadir kemarin, bahkan senang dan bersyukur bisa langsung belajar dari orang-orang hebat.

Kelima jualan dan merokok saat acara berlangsung

Fakta unik lainnya di Mata Najwa kemarin, saya bisa menemui pedagang makanan yang bisa berjualan saat acara berlangsung yaitu pedagang tahu dan kacang kedelai. Mereka mondar-mandir menawarkan dagangannnya ke penonton yang lesehan.

Asik jugakan, sambil nonton makan kacang kedelai bersama teman/keluarga.

Terus saya juga melihat beberapa penonton yang bebas merokok saat acara berlangsung.

Hehe…, kalau biasanya acara Mata Najwa on stage sebelum-sebelumnya pasti dua hal di atas tidak bisa dilakukan bukan?

Saya pikir memang mungkin kedepan, Mata Najwa on stage tidak hanya dilakukan di gedung kampus, namun juga di tempat-tempat yang merakyat, seperti stadion sepak bola.

Keenam presiden datang ke Mata Najwa

Kemarin yang membuat spesial lagi, kedatangan presiden ke acara Mata Najwa. Bahkan beliau jadi narasumber juga. Bukan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, namun yang saya maksud Presiden Republik Jancukers, Sujiwo Tejo.

Saya senang dengan beliau yang berbeda dari seniman pada umumnya. Beliau menghadirkan gerak dan membuka cakrawala baru.

Seperti kata beliau saat on air Mata Najwa sudah berlangsung, “Jancuk itu artinya luas, bisa ungkapan marah dan sayang.”

Saya pun juga sudah membaca buku beliau berjudul Republik Jancukers. Saya suka dengan pemikiran-pemikiran beliau, yang melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda.

Ketujuh pentingnya bekerja sesuai passion

Tema kemarin sangat luar biasa bagi saya, yaitu “Mari Beraksi.” Lima tokoh yang hadir kemarin, dari politisi dan seniman, mereka beraksi dengan cara masing-masing dengan satu tujuan, untuk berkontribusi positif bagi Indonesia.

Kemudian yang menjadi inti dari acara kemarin yang saya pikir perlu digaris bahawi adalah “bekerja sesuai passion.” Bekerja sesuai kesenangan/kesukaan kita.

Siapa sangka ternyata dulu Cak Lontong lulusan ITS teknik elektro, sekarang jadi pelawak. Kemudian Sujiwo Tejo lulusan ITB jurusan teknik sipil, sekarang memilih jadi seniman, penulis buku, dan dalang edan—sebutan dari Mbak Najwa—serta Saifullah Yusuf yang saat SMA bermimpi menjadi guru ngaji, ternyata sekarang terjun di dunia politik.

Saya pikir mereka tidak nyaman dengan kehidupannya sekarang, karena tidak bekerja sesuai dengan jurusan. Namun sebaliknya, mereka senang dan menikmatinya.

Sujiwo Tejo berpesan pada generasi muda, kalau gak senang sama pekerjaan sekarang, harus cari yang lain. Kalian harus melakukan pekerjaan tersebut dengan cinta, kalau gak gitu gak etis pada diri sendiri.

Hal ini pun juga dibenarkan sama Syahrini, “Iya bener, kita harus mengerjakan sesuai yang kita sukai.”

Saya pun juga sepakat kalau kita harus bekerja sesuai dengan kesukaan/passion. Soalnya kalau kita tidak bekerja sesuai passion, bisa dipastikan pasti akan cepat bosen dan mudah sekali stress.

Seperti saya saat ini sangat menikmati pekerjaan saya sebagai blogger, reporter, penulis konten, serta aktivis gerakan sosial.

Kalau mengikuti talk show kemarin, berarti saya sudah menemukan passion saya. Alhamdulillah, berarti saya tinggal tekun dan kerja keras. Agar apa yang saya lakukan bisa meraih kesuksesan serta memberi manfaat bagi yang lain. Aamiin

Kalau sudah menemukan passion, lakukan ini!

Terus kalau kita sudah menemukan passion, apa yang harus dilakukan. Anda bisa melakukan beberapa hal di bawah ini, yang saya rangkum dari kelima narasumber kemarin.

Cak Lontong: Kalau kita melakukan sesuatu jangan pernah menyerah dan takut gagal. Coba terus sampai-sampai kegagalan itu bosan sama kita.

Gus Ipul: Para generasi muda sekarang harus belajar sungguh-sungguh, tingkatkan keterampilan, dan kemampuan diri. Karena kedepan tantangan yang kalian hadapi lebih besar dan berat.

Syahrini: Kalau sudah menemukan passion, tinggal kalian kerja keras dan terus fokus.

Sujiwo Tedjo: Tetap konsisten dan kerja keras terhadap apa yang kamu sukai.

Pramono Anung: Bermimpilah setinggi langit. Jangan pernah takut untuk bermimpi!

Memang kalau yang paling enak dan seru, nonton Mata Najwa on stage secara langsung. Sebab akan langsung merasakan atmosfer sang narasumber, hingga kejadian lucu lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here