buku book sandi iswahyudiPesan dari Helvy Tiana Rosa dan Buku untuk yang Tercinta — Jika tak mampu berkata maka buku menjadi salah satu alternatif untuk katakan sesuatu pada seseorang.

Semua orang bisa bicara, tapi tak banyak yang mampu sampaikan sesuatu dengan baik, dan pendengar menerima pesannya.  Kemudian mengamalkannya.

Jika tak sanggup, kita bisa menulis. Namun menulis pun demikian. Tak banyak yang mampu menulis dengan menggugah, merasuk, diterima, dan menghipnotis pembaca untuk melakukan apa yang diinginkan.

Menurut saya, buku bisa menjadi salah satu alternatif untuk kita mengirim pesan itu.

Sebab buku merupakan media yang sudah diramu, dianalisis, hingga dikemas sedemikian rupa, sehingga menarik dan pesan tersampaikan.

Seperti sekarang, saya membeli tiga buah buku. Satu buku berjudul, #DiarySally Inspirasi Hijab Syar’i, 20 Kisah Nyata Perjuangan Muslimah Berhijab Syari. Saya hadiahkan untuk adik saya.

Saya ingin dia termotivasi dan tergugah, kemudian mengikuti pesan yang ada dibuku tersebut. Yaitu memakai hijab syar’i sesuai ajaran Islam.

Dulu saya pernah berbincang dengannya untuk sebaiknya memakai hijab. Tapi belum berhasil. Entah karena waktu kurang tepat, data, cerita kurang pas, atau komponen lain.

Maka hari ini saat ke toko buku saya menemukan buku yang saya rasa pas untuk dia. Berkisah tentang beberapa orang yang mendapat hidayah untuk berhijab.

Semua orang suka cerita. Maka banyak pesan yang dikemas lewat cerita, agar mudah diterima.

Harapan saya, semoga dia sadar dan mendapat hidayah untuk lebih baik lagi. Saya tidak dapat menjamin 100% akan berhasil strategi ini. Tapi usaha selalu tak hianati hasil. Usaha yang dibalut dengan doa akan menjadi senjata yang sangat ampuh. Dan ketika kita bergantung pada Dzat Pembolak Balik Hati, maka tak ada yang perlu dirisaukan.

Saya mulai suka buku sejak 2015. Semangat, kemudian redup kembali. Sekarang, setelah mengikuti pelatihan FIM dan bertemu bu Helvy Tiana Rosa semangat itu kembali membara, alhamdulillah

BACA JUGA: 6 Poin Menusuk Helvy Tiana Rosa dan Sebuah Kontemplasi

Saya seperti mendapatkan tamparan keras dari beliau.

Jika ingin jadi penulis, maka buku jadikan seperti nafas. Jika tidak, kita seperti orang pincang.

Dan memang ketika kita suka akan sesuatu, jangan setengah-setengah supaya hasilnya tidak setengah-setengah juga.

Saya ingin menjadi inspirator, traveler, socialpreneur, dan tentu penulis. Mimpi ini bisa saya dapatkan, salah satu langkah dasarnya lewat menulis. Menulis juga menjadi langkah kecil saya untuk berbuat sesuatu yang positif. Saya percaya satu kalimat positif dan bermakna, akan memberikan inspirasi-dampak luar biasa bagi banyak orang.

Selama ini aktivitas saya baca buku masih kurang, dan saya merasa perbendaharaan kata masih sedikit.

Setelah bertemu sama Bu Helvy, saya tahu kuncinya ada pada buku yang saya baca. Maka sekarang, saya mulai membiasakan lagi membaca buku bergenre novel.

Novel membuat perbendaharaan kata banyak, tulisan hidup, dan hati selalu bergemuruh untuk membaca serta menulis. Tiga hari membaca novel, saya sudah merasakan dampaknya.

Apakah Anda merasakan juga ketika membaca?

O ya, saya sarankan, jika Anda suka baca buku juga, agar dapatkan manfaatnya, menulislah. Ini satu paket yang tidak bisa Anda pisahkan.

Saya ibaratkan buku, adalah makanan yang harus kita konsumsi tiap hari. Sedangkan menulis, adalah aktivitas untuk mengeluarkan energi di tubuh.

Jadi jika tidak seimbang, tahu sendirikan bagaimana dampaknya?

2 KOMENTAR

  1. Setuju sekali gan. Buku memang hanyalah sebuah buku jika kita mau memandangnya seperti itu. Namun jika kita mau memandangnya sebagai pesan atau suatu hal lain yang bermakna, maka tergantung dari sudut pandang kita.

    Saya ingat saya punya buku novel tere liye terbaru dari kekasih saya. Ada makna tersendiri bagi saya 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here