Hey Startic sandi iswahyudi blogger indonesia
Beberapa macam hasil kreasi Hey Startic yang ada di IG: heystartic

5 Pelajaran dari Hey Startic PPI 2015 — Lebih baik hidup dari sampah daripada menjadi sampah, kata Agnes Santoso Co. Founder Hey Startic saat saya wawancarai di stand PPI 2015 kemarin.

Pasti saya tidak akan percaya jikalau saya ketemu dengan cewek cantik ini di mall/kampus misalnya. Kalau dia adalah seorang pengusaha sosial yang fokus pada pengolahan sampah. Tampang yang cantik membuat kesan mustahil untuk dia terjun di usaha seperti ini.

Namun, saya baru percaya dan sangat tertarik untuk berbincang-bincang saat datang ke stan Hey Startic di Pameran Produksi Indonesia (PPI) 2015 6 Agustus 2015 kemarin.

Ketidak percayaan tersebut disebabkan, kebanyakan cewek ingin kerja di tempat yang berkelas, bersih, harum, gemerlap, dan mengangkat derajat sosial seseorang. Namun Agnes Santoso dan adiknya, Vania Santoso mengambil jalan lain.

Jalan untuk menjadi generasi muda yang berkontribusi bagi negeri. Bukan yang hanya berpangku tangan/menyalahkan orang lain. Hebat saya kagum dibuatnya. Apalagi saat diskusi, Agnes menjawab semua pertanyaan saya dan Fendi—blogger Madura—dengan menyakinkan.

Jujur saya memang sudah sejak lama, tertarik dengan aktivis sosial, terutama yang berhubungan dengan sampah. Bagi saya, mereka sungguh luar biasa. Mereka berani keluar dari zona nyaman, memikirkan orang lain, serta lingkungan ini. Apalagi sampah, menjadi salah satu permasalahan utama di Indonesia yang belum teratasi hingga saat ini.

Dari perbincangan singkat dengan Agnes ada beberapa hal yang bisa saya petik. Mungkin nantinya, juga memberi manfaat bagi Anda—pembaca.

Pertama jangan memandang di mana kamu hidup! 

Saya pribadi hingga saat ini terus mencoba untuk 100% fokus pada apa yang bisa saya lakukan. Walaupun sulit, toh Agnes dan tim telah membuktikannya. Mereka menyulap sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang.

Kedua apa yang kita berikan itulah yang diterima

Konsepnya sama seperti sedekah. Kalau orang yang bersedekah itu tidak akan pernah jatuh miskin. Mereka akan mendapatkan sesuatu yang berlipat ganda. Seperti itulah yang saya lihat dari Agnes dan tim. Melalui AV Peduli yang dibentuknya, mereka memberi manfaat pada masyarakat sekitar. Mulai menanam pohon hingga memberikan pelatihan tentang mengolah sampah.

Hasilnya, AV Peduli mendapatkan banyak penghargaan baik dalam maupun luar negeri. Lebih hebat lagi, kebaikan-kebaikan itu, akan terus mengalir menjadi bekal di akhirat kelak.

Enak bukan, kalau punya ilmu yang bermanfaat?

Ketiga menggabungkan sampah dengan barang yang sudah dikenal

Cara ini juga bisa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kalau di bisnis Hey Startic di tasnya, Agnes mencampurkan sampah dengan kulit ada juga yang full dari sampah. Kalau menggabungkan sampah dengan kulit, bertujuan untuk membuang stigma masyarakat Indonesia tentang sampah itu sendiri.

Kemudian terkait harga yang ditawarkan pun antara 100-300 ribu tergantung bahannya apa. Walaupun sudah digabungkan seperti ini, masih ada saja yang memandang rendah. Padahal kalau di luar negeri banyak sekali permintaan, seperti di Australia dan Belanda.

Keempat motivasi untuk berbuat lebih bagi lingkungan 

Saya percaya dengan kekuatan niat. Semakin kuat niatan kita, maka energi dan komitmen yang dihasilkan pun akan semakin besar. Apalagi ketika niatan tersebut untuk lingkungan dan negara.

Hasilnya, hingga sekarang AV Peduli tetap bisa terus konsisten, tanpa ada rasa bosan untuk berhenti. Hebat bukan?
Apalagi masih muda-muda. Kalau misal, anak muda sekarang masih saja menuntut. Anak muda di AV Peduli sudah bisa melakukan kontribusi nyata bagi lingkungan mereka.

Hem tindakan yang patut untuk dicontoh. Walaupun saya memang hingga saat ini, masih belum bisa melakukan hal besar seperti AV Peduli. Tapi, saya berkomitmen untuk aktif terlibat di kegiatan sosial serta melakukan hal-hal kecil untuk kebaikan.

Yaa…walaupun tidak berdampak besar. Tapi saya percaya, tindakan kita sekecil apapun sangat berdampak terhadap lingkungan.

Kelima sulap barang yang menjadi permasalahan banyak pihak

Di Indonesia, sampah merupakan permasalahan utama. Maka ketika kita mampu menghasilkan sebuah solusi yang praktis. Bisa dipastikan akan cepat dikenal, dan tentu sangat bermanfaat bagi masyarakat banyak. Seperti produk AV Peduli yang memberikan dampak secara ekonomi dan lingkungan. Kemudian, jika di Malang program Klinik Asuransi Sampah memberi dampak secara kesehatan dan lingkungan juga.

Akhirnya pertemuan singkat saya dengan Agnes, memberikan semacam penguat untuk terus berkontribusi positif bagi bangsa, lewat apapun yang bisa kita lakukan.  Selain itu menjadi semacam penguat saya, untuk terus berkomitmen di organisasi sosial, terutama berhubungan dengan lingkungan. Siap berkontribusi untuk negeri?

5 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here