kolam renang Dinasty Smart Hotel Solo sandi iswahyudi
Kolam renang di Dinasty Smart Hotel Solo

Dinasty Smart Hotel Solo: Mencolok, Tapi Suasana Nyaman, Tenang, dan Bikin Tidur Nyenyak — “Hem.. merah mencolok dan tersembunyi di keramaian.”

Itulah kesan yang saya tangkap pertama kali saat sampai di Dinasty Smart Hotel Solo Jl. MT. Haryono 80 Manahan. Saat itu saya tidak langsung masuk ke hotel, namun saya mencari toko yang jual es krim.

Maklum suasana sore itu, pukul 15.00-an cukup panas. Terlebih saya berjalan kaki ± 2 Km dari Stasiun Balapan Solo ke lokasi hotel.

Saya beli dua buah es krim yang segar. Baru kemudian saya menuju hotel. “Selamat sore pak,” ucap Pak Satpam sambil membukakan pintu pada saya.

“Terima kasih kembali pak.” Saya pun langsung chek in kepada dua orang cewek resepsionis. Wajah ramah dan sikap sigap keduanya membuat proses chek in saya cepat.

Sehingga dalam beberapa menit, saya langsung menuju kamar nomor 107 lantai 1.

Ternyata di kamar sudah ada Pak Malik. Rekan dari Malang juga, yang selama dua hari, kami akan meliput Festival Payung Indonesia di Taman Balekambang.

Saya langsung menaruh tas, di sisi kanan tempat tidur.

Selintas saat masuk kamar, kamarnya luas, bersih, dan juga memiliki tempat tidur yang besar. Kemudian ada kesan nyaman, sebab dekorasi di beberapa sisi warnanya, sesuai warna kayu.

Setelah itu saya sekilas membuka kamar mandi, untuk melihat kondisinya. Kondisinya bersih, ada dua handuk, terus juga bisa buat air hangat dan air dingin.

Airnya bisa dinikmati dari shower, atau kran bawah yang membantu sekali untuk berwudhu. 

Saya tak langsung tidur, tapi makan es krim dahulu yang sudah dibeli sambil nonton LCD TV. Saya lihat lagi, ternyata TV-nya terdapat juga saluran internasional, seperti DW TV hingga animal planet.

Hihi… lumayan bisa nonton, di rumah tidak ada yang beginian.

Terus saya lihat di sisi kanan bawah TV ada dua buah air mineral yang sudah tersaji. Lumayan buat menghilangkan dahaga selama perjalanan menuju hotel.

Sambil nonton TV, saya menghidupkan AC dengan suhu 16°C. Langsung dingin deh ruangan, alhamdulillah.

Setelah itu saya tertarik melihat Pak Malik yang sedang asyik mainan natebook yang terkoneksi dengan facebook. “Lumayan San, koneksi Wi-Finya di sini lebih cepat dari internet.”

Wouw… ok pak, saya pun tak menyianyiakan kesempatan ini. Langsung saja, tablet saya, ASUS Fonepad 8 saya aktifkan Wi-Finya.

Setelah terkoneksi, langsung deh banyak pemberitahuan masuk hihi, seperti WA, BBM, dan email.

Sambil rebahan di tempat tidur, saya juga update aplikasi di tablet. Hihi, mumpung gratisan gitu.

Saya bisa streaming di youtube mendengarkan lagu-lagu terbaru hingga yang lawas seperti Lestari Alamku ciptaan Gombloh.

Ternyata cepat juga Wi-Finya mantaplah. Jadi lebih menghemat koneksi data saya.

Hari pertama di Solo, Jumat (11/9/2015), saya tidak kemana-mana, hanya saat malam saya keluar sebentar, karena perut sudah keroncongan.

Soalnya selama satu hari, saya hanya makan satu kali saat di rumah sebelum berangkat ke Stasiun Kereta Api Malang.

Malamnya saya ke sisi Selatan Dinasty Smart Hotel, untuk mencari-cari kuliner apa yang ada di sini. Ternyata saat mencapai pertigaan dengan berjalan kaki ± 50 meter.

Saya sudah menemukan berbagai warga yang menjual kuliner, mulai dari Soto Ayam Madura, mie ayam, kafe, angkringan, hingga depot yang banyak menjual lauk pauk kuliner khas Solo.

Cukup srategis juga lokasi hotel ini. Dari pertigaan ini, saya bisa juga ke Taman Balekambang, Stadion Manahan (500 meter), atau ke pasar burung dan ikan.

Terus kalau mau ke restoran bisa ke daerah Jl. Slamet Riyadi juga dekat. Baratnya hotel adalah RS Brayat Minulya. Kemudian dekat dengan Terminal Tirtonadi dan akses ke bandhara cuma 15 menit saja.

Saat itu pilihan saya jatuh di depot, dan memilih menu gudeg, ditambah ikan asin, ditemani dengan dua buah kerupuk rambak.

Hem… mantap. Rasa gudegnya pas, tidak semanis yang di Yogyakarta. Apalagi saat saya tambahi beberapa sambal. Hehe, saya soalnya kalau makan suka yang pedas.

Dari segi porsi nasi sedikit, dibanding di Malang porsinya banyak. Apalagi di warung belakang kampus saya, yang suka ramai saat mahasiswa sarapan/makan siang, porsinya laki banget :D.

Tapi alhamdulillah, kenyang dan energi bisa bertahan hingga pagi.

Malam pertama di hotel, saya baru tidur pukul 23.00-an, karena menyelesaikan satu posting tulisan tentang pengalaman saya naik transportasi umum: kereta api dan bus.

Maklum sudah beberapa hari ini, blog saya masih belum terposting artikel baru.

Ternyata, sampai malam mengetik, suasananya tenang dan nyaman. Saya jarang mendengar suara mobil atau sepeda berlalu lalang. Padahal letak kamar saya persis di samping tempat parkir.

Malam itu saya tidur pukul 23.00 lebih. Alhamdulillah bisa tidur nyenyak, tenang dan nyaman.

Tempatnya tersembunyi, namun tidak asing. Membuat tidur nyaman, tenang dan nyenyak, dengan lokasi yang strategis pula.

Hari kedua (12/9/2015), agenda saya cukup padat. Pagi sebelum ke Festival Payung Indonesia saya dan Pak Malik sarapan dahulu di hotel. Saya mengambil menu nasi goreng dengan lauk ayam krispy dan sayuran, serta minumnya kopi.

Kopikan, minuman yang cocok dinikmati saat pagi hari, untuk menambah semangat dan inspirasi. Kami sambil makan dan minum, juga menikmati suasana kolam renang dengan tanaman pohon bunga kenanga yang bermekaran.

Karena lokasi makan berhadapan langsung dengan kolam renang dan beberapa tanaman yang indah.

Jadi menambah suasana yang santai dan tenang. Apalagi saat pagi, oleh pihak hotel diperdengarkan lagu-lagu Jawa dengan pelan. Klop deh, suasana yang ok.

Saat di sini saya banyak memotret, karena suasana yang mendukung. Ditambah lagi, dengan atraksi cahaya matahari yang berusaha masuk, ke celah-celah sudut.

Menghasilkan berkas-berkas cahaya yang cantik. Cocok diabadikan dalam sebuah kamera, lumayan buat bahan posting di instagram saya.

Kemudian, beberapa menit setelah makan, saya dan Pak Malik langsung ke Festival Payung Indonesia. Di sana saya melihat-lihat, berfoto narsis, dan berhasil mewawancarai pengrajin di Banyumas Purwokerto dan Klaten Jawa Tengah.

Baru siangnya, kami merasakan kemegahan Soga Restaurant & Lounge di Jl. Slamet Riyadi 261 Solo ,yang dibalut dengan desain khas Jawa.

Apalagi saat kami makan di sini, ditemani dengan musik Jawa yang pelan. Membuat rasa cinta dan kerinduan akan kampung halaman semakin dalam.

Makanannya khas jawa. Beberapa makanan disisipi dengan nama-nama batik. Jadi saya bisa makan sambil mengenal corak-corak batik.

Sorenya saya kembali lagi ke Festival Payung Indonesia, observasi kedua yang ternyata lebih ramai daripada pagi tadi. Mulai dari anak kecil, muda-mudi, hingga para orang tua.

Semua berbaur dalam suasanya yang meriah, antara kesenian, edukasi budaya leluhur, dan perayaan.

Sambil bertemu dengan dua teman saya, pertama dari Universitas Muhammadiyah Surakarta dan kedua Poltekkes. Bertemu dengan mereka, saya mendapatkan beberapa hal menarik dan semangat untuk terus berusaha melakukan yang terbaik.

Pukul 17.30-an, saya kembali pulang ke hotel, sebab Pak Malik malamnya mau chek out. Saat balik pulang, saya tidak mengambil jalan menyusuri kampung-kampung.

Namun saya mengambil jalur lain, saya melewati jalur jalan besar Solo-Yogyakarta. Enak si tinggal lurus doang dan lebih dekat, gak panas lagi :D.

Iya kalau sore gak panas. Namun jika siang, hem jangan tanya panasnya. Gak percaya panasnya? Silahkan di coba ya! Hihi…

Dari perjalanan ini, saya jadi tahu, kalau hotel yang saya tempati berjarak 50 meter dari jalan besar/utama jalur Solo-Yogyakarta.

Malam kedua, saya hanya keluar untuk makan di lokasi yang sama, yaitu depot di pertigaan jalan yang menjual beraneka ragam lauk pauk. Saya suka makanan di sini, karena makanannya enak dan harga pas dikantong.

Tidur dihari kedua, saya merasakan sensasi sama. Nyaman, tenang, dan nyenyak bebas dari bisingnya suara mobil serta kendaraan bermotor yang melintas di jalan kecil depan hotel.

Lelah setelah berjalan dan beraktivitas seharian, hilang. Sehingga di saat bangun di hari ketiga, badan fit dan siap menuju ke tempat berikutnya, yaitu Yogyakarta baru kemudian diteruskan lagi ke Magelang.

Dinasty Smart Hotel yang tergabung dalam Grup Danar Hadi Batik, menawarkan fasilitas lengkap—fasilitas di dalam kamar,  kolam renang, ruangan fitness, ruangan untuk rapat, restoran, dan fasilitas gratis penjemputan area Kota Solo—serta paket wisata budaya di Solo.

Untuk kolam renang sendiri, saya dapat informasi dari Pak Roni GM Dinasty Smart Hotel, kalau bisa dibuat untuk acara pernikahan atau ulang tahun. Beberapa tamu hotel, juga pernah mengadakan acara pernikahan di sini.

Harga kamarnya pun terjangkau bagi traveler, apalagi bila join sama teman. Jatuhnya lebih irit lagi. Suasananya nyaman dan tenang.

Alhasil Dinasty Smart Hotel masuk hotel budget di Solo, bisa menjadi pilihan utama saya ketika berkunjung ke Solo lagi.

Dinasty Smart Hotel

Jl. MT. Haryono 80 Manahan Solo

www.dinastyhotelsolo.com

email : info@dinastyhotelsolo.com

Tlpn: +62 271718000

31 KOMENTAR

  1. Sangat senang dan nyaman menginap di Dinasty Hotel Solo..pelayanannya ramah nyaman ,apalagi diantar sama dijemput di Banadara Solo..lain kali nginap lagi kalau ke solo

  2. aku udah pernah nginep di sini nih
    tenang, adem, bisa renang, bisa fitness juga apalagi ada fasilitas penjemputan, endess deh pokoknya nih hotel 😀 😀

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here