PPI 2015: Bagaimana Kalau Aktivis Medsos Bersatu Kampanyekan Produk Indonesia?

Pameran produksi indonesia 2015 surabaya

Mari kita dukung, produk-produk Indonesia (Dok. Pribadi)

Pameran Produksi Indonesia (PPI) 2015 di Surabaya sejak 6-9 Agustus kemarin, telah usai. Apa yang di dapatkan? Seremonial, hura-hura atau afirmasi peningkatan IKM (Industri Kecil Menengah) untuk menghadapi MEA 2015?

Bagi Pak Yunus Muhammad, Kompasiana, dalam tulisannya, PPI 2015 hanyalah pintu awal untuk menunjukkan bahwa kita kaya akan SDA, selanjutnya terserah kita mau melakukan apa.

Saya pribadi khawatir kalau ini hanyalah semacam seremonial tahunan semata. Yang mungkin hanya bermanfaat bagi sebagian orang saja, sedangkan bagi IKM hinggga masyarakat secara umum belum berdampak secara signifikan.

Padahal sebenarnya dari segi tema yang diusung, yaitu “Bangga Menggunakan Produk Indonesia” bagus dan memang harus seperti itu. Tapi sangat disayangkan jika hal itu, hanya digunakan saat pameran berlangsung, sedangkan dalam praktik di lapangan belum sepenuhnya dilakukan secara konsisten.

Sebagai contoh  sederhananya, saya baru tahu kalau ternyata Indonesia sudah bisa buat lift sendiri, dan berkualitas ekspor. Seperti ke Dubai dan Malaysia. Produk yang ditawarkan pun beragam: passenger lift, bed lift, home lift, dumbwaiter, freight lift, hingga travolator. (Baca selengkapnya di Lift Buatan Indonesia).

Hebat bukan? Mungkin sebagian dari Anda sudah tahu/bahkan baru tahu setelah membaca tulisan dari saya/blogger/kompasioner lainnya.

Kemudian juga, ada anak muda dari Surabaya yang tergabung di AV Peduli, dengan karya tas hingga dompetnya mampu mengolah sampah menjadi barang yang bernilai jual tinggi. Dampaknya lapangan pekerjaan baru tercipta dan mengharumkan nama bangsa lewat produknya yang telah eskpor. Seperti ke Australia dan Belanda (Baca selengkapnya di AV Peduli).

Terus ada juga produk Exotico yang sudah ekspor. Yaitu kopi inovasi khas Indonesia yang juga sudah dapatkan penghargaan di Kanada 2015. Di mana mereka mencukupi kebutuhan bahan baku kopi dari petani dari Sabang sampai Merauke. (Baca selengkapnya di Kopi Exotico Indonesia).

Serta berbagai produk hebat lainnya yang dipamerkan kemarin, sebanyak 159-an.

Produk-produk yang ada kemarin belum menyeluruh dari Sabang sampai Merauke lo. Walaupun kemarin ada mutiara dari Lombok, namun belum mewakili semua provinsi.

Bayangkan kalau semua ada dari Sabang sampai Merauke? Pasti akan menjadi semacam bukti pada kita semua, kalau sebenarnya Indonesia itu mampu dan bisa menjadi negara maju.

Mampu untuk mencukupi kebutuhan sendiri, tanpa terlalu bergantung pada negara asing. Toh, jika kita manfaatkan persentase lebih banyak produk dalam negeri, bisa dipastikan angka pengangguran lebih sedikit. Kesejahteraan meningkat. Saudara-saudara kita di daerah-daerah yang belum terjangkau fasilitas, bisa merasakannya. Hebat bukan?

Mungkin ini terlalu idealis.

Bukti kekuatan media sosial, terinspirasi dari Mbak Nilam Sari Kebab Turki Baba Rafi

Namun menurut saya, ini bisa diwujudkan dengan kekuatan media sosial saat ini. Contohnya, yang juga sudah terbukti berhasil, adalah Kebab Turki Baba Rafi. Saat sesi pertama PPI 2015 (6/8) Mbak Nilam Sari pimpinan Kebab Turki Baba Rafi bilang, kalau usahanya, bisa menjadi semacam ini juga berkat kekuatan media sosial. Mbak Nilam benar-benar memaksimalkannya, mulai dari web hingga instagram untuk berpromosi.

Kemudian, sejak kemarin saya renungkan, hal yang sama berarti juga bisa dilakukan untuk mengkampayekan produk-produk dalam negeri.

Terus pertanyaannya sekarang, kenapa sejak kemarin masih belum ada kampaye secara berkala dan konsisten untuk mengkampayekan produk-produk dalam negeri?

Padahal kalau saya amati, sudah banyak kebijakan yang gak sesuai bisa jatuh karena media sosial. Terus juga produk yang gak baik bagi kesehatan, seperti rokok misalnya, bisa memengaruhi masyarakat dari anak kecil-orang tua. Juga karena kekuatan media sosial.

Bayangkan kalau kekuatan media sosial, kita arahkan untuk kampaye “bangga menggunakan produk dalam negeri.” Apa yang akan terjadi? Tentu kecintaan anak negeri pada produk buatan sendiri, akan meningkat.

Usulan kampaye “Bangga menggunakan produk sendiri!”

Apalagi saat saya ketahui di PPI 2015 kemarin, ternyata masih banyak IKM yang belum memanfaatkan media sosial secara maksimal.

Hasilnya banyak masyarakat Indonesia tidak tahu produk sendiri. Itu yang mereka bisa akses internet, kalau yang belum bisa?

Melihat permasalahan tersebut ada beberapa usulan untuk kampaye ini. Entah nanti akan diterima, disetujui oleh aktivis medsos atau gak. Namun semoga bisa memberikan inspirasi untuk program kampaye cinta produk Indonesia kedepannya.

Pertama aktivis media sosial bersatu gemakan #CintaProdukIndonesia

Aktivis media sosial seperti blogger-kompasiana, videografer, fotografer, hingga animator. Masing-masing membuat konten sesuai keterampilan dengan tema #CintaProdukIndonesia. Kemudian karya-karya tersebut disebar ke berbagai media sosial secara berkala dan konsisten. Misalnya 1 minggu sekali/tiga hari sekali.

Saya yakin, secara perlahan-lahan, khususnya generasi muda akan mengenal produk sendiri. Kalau sudah mengenal, kemudian berlanjut ke cinta dan bangga.

Kedua logo #CintaProdukIndonesia sebagai bentuk keseragaman

Untuk menyeragamkan atau sebagai tanda menggalakkan kampaye ini, ada semacam logo #CintaProdukIndonesia. Terus dilengkapi juga dengan hastag-hastag untuk menunjangnya.

Penggunaan logo, hastag, dan moto membuat pembaca mudah ingat akan kampaye yang digalakkan. Apalagi kalau itu berhubungan banget sama kehidupan sekitar. Bisa dipastikan mudah sekali nempel ke benak mereka—masyarakat Indonesia.

Ketiga ada lembaga/perusahaan/pemerintah yang menaunginya

Supaya terkordinir dengan rapi, saya rasa perlu ada semacam wadah untuk menaungi aktivis-aktivis ini. Bisa membentuk sendiri, lembaga, perusahaan/mungkin pemerintah.

Bagaimana menurut Anda akan usulan saya ini? Realistiskah untuk diaplikasikan?

Itulah paparan dari saya terkait kampaye #CintaProdukIndonesia atau keberlanjutan dari #BanggaMenggunakanProdukIndonesia.

Poin penting yang kita harapkan bersama adalah, pengetahuan hingga rasa bangga menggunakan produk sendiri itu mengarat dalam diri masing-masing anak negeri. Kalau itu sudah terjadi, bisa dipastikan Indonesia akan menjadi negara yang sejahtera.

Saya pikir inilah momen yang pas, untuk membuat gerakan yang sistematis dan berkelanjutan tentang #CintaProdukIndonesia. Selamat ulang tahun ke-70 Indonesiaku tercinta. Jayalah selalu.

4 Comments

Reply