4 Tips Bagi Pebisnis dari Nilam Sari Sambil Makan Kebab Turki Baba Rafi

Pameran produksi Indonesia 2015 surabaya

Tiga peserta yang mendapatkan hadiah dari PT. Baba Rafi Indonesia, sebab telah menang dalam lomba makan kebab terheboh. Sedangkan saya belum beruntung (Sumber FB PPI 2015)

Hem, Kebab Baba Rafi selalu kurindukan. Tapi maaf aku makan ya, bukan aku tak cinta. Tapi karena aku lapar.

Di atas adalah kalimat saya secara spontan ketika menikmati pesona kebab yang masih hangat. Gigitan pertama sedikit, karena baru dua kali ini makan kebab. Baru gigitan kedua dan seterusnya makin menggila, membuat perut yang tadinya keroncongan, langsung kenyang :D.

Saya gak suka Kebab Turki Baba Rafi

Percaya gak kalau awalnya, saya tidak suka Kebab Turki Baba Rafi?

Saya baru makan kebab hingga kini dua kali, pertama saat dibelikan adik dari pulang sekolah. Kedua saat menghadiri acara Pameran Produksi Indonesia (PPI) 2015 di Surabaya dari 6-9 Agustus kemarin.

Saat itu yang membuat saya gak suka sama kebab ada dua hal. Pertama saya orangnya hemat. Jadi kalau beli makanan, lebih saya prioritaskan yang berat, seperti lalapan dan tahu telor. Sedangkan kalau untuk makanan ringan, biasanya benar-benar saya batasi 🙂 Kedua saya masih belum tahu rasa dan siapa yang membuat. Seperti kata pepatah, tidak kenal maka tidak sayang.   

Dua hal di ataslah, yang membuat saya gak suka sama kebab. Walaupun sebelumnya adik saya sendiri, sudah pernah bilang. Kalau dia begitu suka sama kebab, sampai-sampai dia mau nitip saat saya ke Malang. Sayangnya saya sampai sekarang belum bisa bawakan, soalnya belum ketemu. Maaf ya, bukan karena gak suka, tapi karena belum ketemu sama si kebab 😀

PPI 2015 menyadarkan mulut dan hati saya untuk si kebab

Di PPI 2015 saya hadir selama dua hari 6-7 Agustus. Bagi saya bukan hanya momen untuk belajar lebih jauh tentang produk-produk unggulan Indonesia yang telah mendunia. Tapi juga menjadi semacam penyadaran pada saya, bahwa ternyata Kebab Turki Baba Rafi begitu memesona. Baik untuk mulut dan hati saya.

Tahukan, Kebab Turki Baba Rafi yang dipimpin oleh Mas Hendy Setiono dan Mbak Nilam Sari ini ternyata memiliki banyak prestasi yang luar biasa.

  1. Menjadi franchise Indonesia yang memiliki cabang di beberapa negara: Srilanka, Belanda, Brunei, Singapore, Malaysia, Filipina, dan Tiongkok
  2. Mulai tahun 2009-2014 mendapatkan berbagai penghargaan nasional hingga internasional. Seperti 2013, mendapatkan penghargaan sebagai Pelaku Pasar Waralaba Terbaik dan Paling Cepat Berkembang 2013 yang diberikan oleh Majalah Franchise.

Hem hebat bukan? Saya baru tahu! Orang luar negeri saja sudah mengonsumsi kebab buatan Indonesia. Masak yang Indonesia tidak mendukung produk dalam negeri?

Satu gigitan bikin nagih lagi dan keyang

Saat kemarin ke PPI 2015, Kebab Turki Baba Rafi memberikan makan gratis kebab sebanyak 100 buah bagi pengunjung pameran.

Saya sebenarnya tidak mau daftar, karena sebelumnya udah makan siang sedikit. Namun karena saya lihat masih belum banyak peserta, akhirnya saya pun daftar juga. Hitung-hitung ikut meramaikan dan berpartisipasi di acara ini.

Eh ternyata belum satu jam, outlet kebab tersebut, sudah diserang oleh anak-anak SMA. Mereka mengantre untuk mendapatkan kebab yang masih hangat. Kebab pun habis dalam hitungan menit.

Dalam hati saya bilang, hem untung saya sudah dapatkan kebab. Minimalkan bisa buat mengganjal perut.

Saya langsung cari tempat yang pas, kemudian membuka kemasan kebab yang terbungkus. Hem masih hangat, dan baunya pun khas. Bikin orang ingin segera memakannya. Saya kemudian makan sedikit saja untuk merasakan sensasi yang dihasilkan.

Rasanya hangat, terus isi yang didalamnya juga terasa masih fresh. Dipadukan dengan bau yang harum menjadikan saya tak ingin berlama-lama membiarkan kebab itu tersisa. Akhirnya dalam hitungan menit kebab tersebut habis. Perut pun langsung kenyang. Alhamdulillah…

Ternyata enak juga ya si Kebab Turki Baba Rafi ini, alhamdulillah saya masih bisa merasakannya.

Ada hal lain yang mengejutkan saya, saat teman blogger memposting keseruannya makan kebab di PPI 2015. Foto tersebut kemudian dikomentari oleh salah satu netizen, dia bilang, kalau anak-anaknya dirumah sangat suka dengan kebab.

Saya pun langsung bersyukur untung aja, saya bisa merasakan kebab gratis dan bertemu ownernya langsung—Mbak Nilam Sari.

Mbak Nilam Sari membuat saya semakin cinta dan kagum pada kebab

Sesi yang ditunggu di PPI 2015, pada hari pertama 6 Agustus kemarin yaitu, acara sharing Mbak Nilam Sari selaku owner Kebab Turki Baba Rafi kepada kami—blogger dan kompasioner—dan pengunjung pameran.

Saat itu acara talk show dimoderatori oleh Mbak Avy Kompasioner Surabaya.

Kemudian diskusi panjang kemarin, menghasilkan beberapa topik menarik yang coba saya rangkum dalam beberapa poin. Semoga bisa memberikan inspirasi hingga manfaat bagi saya dan Anda. Berikut empat poin tersebut.

Pertama nikah muda dan anak bawa rezeki

Kata siapa nikah muda dan punya anak membawa petaka. Justru membawa rezeki yang berlimpah dari arah yang tak diduga-duga.

Hal itulah yang dibuktikan oleh Mas Hendy dan Mbak Nilam Sari. Mereka berdua menikah pada umur 19 tahun. Walaupun masih muda, meraka tidak putus asa dan saling tabah menghadapi cobaan hidup. Pernah usaha, kemudian jatuh kembali. Hingga akhirnya, mereka mulai naik berkat bisnis kebab turki dengan brand Baba Rafi. Baba berasal dari panggilan anak pada sang ayah, sedangkan Rafi nama anaknya yang pertama.

Alhasil hingga sekarang, bisnis mereka terus melebarkan sayap. Berarti dari sini hikmahnya segera menikah, dan berikan anak nama yang bagus.

Apalagi, sumber rezeki dari berdagang itu sebanyak 9, sedangkan bekerja hanya satu.

Kedua kreatif, inovatif, adaptasi, dan pelayanan maksimal

Seperti dalam ilmu total quality manajemen, satu konsumen di belakangnya membawa 1.000 konsumen. Jika satu konsumen puas, yang lainnya ikut. Jika tidak sebaliknya, 1.000 calon konsumen akan lari ke yang lain.

Konsep di atas juga diterapkan oleh Kebab Turki Baba Rafi, mereka memberikan pelayanan dan jaminan pada konsumen dengan maksimal. Apalagi ketika mereka ekspor ke negara lainnya. Mereka akan beradaptasi dengan negara tersebut dengan maksimal, agar diterima oleh masyarakat setempat.

Dalam hal kreatifitas dan inovatif, Kebab Turki Baba Rafi setiap tahunnya memproduksi menu baru. Kombinasi dari resep tradisional dan modern, yang di sesuaikan dengan lidah konsumen.

Sebab kalau usaha tidak terus menciptakan produk yang kreatif dan inovatif. Usaha tersebut tidak akan bertahan lama.

Ketiga maksimalkan sosial media untuk promosi produk

Indonesia saat ini menjadi salah satu negara pengguna internet terbesar dunia.

Kesempatan ini pun dimanfaatkan oleh Mbak Nilam Sari dan tim mempromosikan produk mulai dari web-instagram. Terbutki dengan memanfaatkan akun sosial media yang banyak dan sebagian besar gratis itu, bisa menekan pengeluaran untuk promosi. Seperti usaha terbaru Mbak Nilam Sari, yaitu Waroengmee, yang memaksimalkan instagram untuk mempromosikan produk.

Enakkan, murah meriah dan hasilnya memuaskan. Usaha Anda sudah gunakan sosial media juga?

Sayangnya poin ketiga ini, kalau saya amati, masih banyak pengusaha, terutama IKM yang belum memaksimalkan sosial media untuk promos.

Keempat atur dan jalankan CSR dengan baik

CSR (Corporate Social Responsibility) merupakan salah satu poin penting dalam industri. Di mana CSR menjadi tanggung jawab industri pada masyarakat sekitar. Kalau perusahaan Mbak Nilam, CSR-nya memberikan semacam bimbingan bagi mereka yang tertarik berbisnis.

Jika Anda tertarik tentang bimbingan bisnis ini, langsung saja kepoin sosial media PT. Baba Rafi Indonesia.

CSR sebenarnya tidak akan membuat perusahaan merugi, namun sebaliknya akan memberikan manfaat lebih bagi perusahaan. Seperti halnya sedekah, tidak akan memiskinkan. Melainkan sebaliknya mendapatkan rezeki dari arah yang gak disangka-sangka.

Bagaimana menurut Anda akan empat poin yang bisa saya tangkap dari talk show di acara PPI 2015 kemarin? Poin mana yang akan Anda terapkan dahulu dalam bisnis?

Apapun itu, sudah semestinya, kita baik sebagai konsumen/produsen terus mendukung tanpa henti, produk-produk buatan negeri. Kemudian kita bangga menggunakannya. Kalau bukan kita yang mencintai produk sendiri, terus siapa lagi?

25 Comments

  1. Hilda Ikka
  2. m_rifqi_s

Reply