kickfest 2015 malang sandi iswahyudi“Ekonomi kreatif itu tidak ada habisnya. Karena berhubungan dengan daya kreasi,” kata Pak Fajar Utomo dari Badan Ekonomi Kreatif.

Menarik tidak pernyataan dari Pak Fajar menurut Anda?

Kalau ekonomi yang didasarkan pada sumber daya alam itu akan habis dan tidak dapat diperbarui. Namun beda jika berhubungan dengan ekonomi kreatif, tidak ada habisnya.

Selama pemuda-pemudi Indonesia memiliki kreasi dan disalurkan ke hal yang tepat. Selama itu ekonomi kreatif selalu ada dan bisa menopang ekonomi Indonesia.

Jadi potensi untuk bergelut di ekonomi kreatif sangatlah besar. Apakah Anda tertarik untuk terjun di dunia kreatif ini?

Kalau saya lansir travel.tempo.co ekonomi kreatif terdiri atas 15 subsektor, yakni arsitektur, desain, film, video dan fotografi, kuliner, kerajinan, mode, musik, penertiban dan percetakan, permainan interaktif, periklanan, riset dan pengembangan, seni rupa, seni pertunjukan, teknologi informasi, serta televisi dan radio.

Pernyataan Pak Fajar di atas disampaikan saat acara Talk Show Kickfest 2015 (Selasa, 1/9/2015) bertempat di Ria Djenaka Coffee and Resto Jl. Bandung No. 5 Malang. Menghadirkan dua pelaku bisnis kreatif, yaitu Mas Firdaus Arisandi owner Heroin sekaligus pengurus dari Kick Malang dan Mas Fiky Nugrahawan Affandi owner Ria Djenaka.

Dari dua pelaku bisnis ini, banyak hal yang saya dapatkan, terutama terkait potensi berbisnis di industri kreatif. Berikut saya paparkan beberapa poin yang saya dapatkan di Kickfest 2015 Malang, semoga memberikan manfaat bagi Anda.

Pertama berawal dari ketidaksengajaan, suka makan dan nongkrong

Pemateri awal adalah Mas Firdaus owner Heroin. Industri yang memproduksi mulai dari bawahan-atas (sepatu-topi), baik untuk cowok dan cewek. Mas Firdaus berkisah, jika dia terjun ke dunia fashion berawal dari ketidaksengajaan. Kemudian menjualnya dari mulut ke mulut kepada konsumen.

“Kalau bajunya tidak terjual, ya saya pakai sendiri, hahaha…,” tawa Mas Firdaus mengiringi kisahnya saat pertama bergelut dibisnis fashion.

Hem menarik bukan? Hanya karena ketidaksengajaan bisa eksis sampai sekarang. Lain halnya, bagi Mas Fiky owner Ria Djenaka Coffee and Resto.

Beliau berkisah kalau mulai berbisnis karena hobinya yang suka makan dan nongkrong. Dari situ, beliau mulai berpikir, bagaimana caranya hobi tersebut bisa menghasilkan. Akhirnya tercetuslah Ria Djenaka, tempat nongkrong dan makan dengan banyak desain-desain menarik khas tempo dahulu.

“Saya terjun dibisnis ini, karena saya suka makan dan nongkrong,”ujar Mas Fiky.

Jadi kesimpulan dipoin ini, bagi Anda yang memiliki hobi bisa juga disalurkan ke bisnis. Banyak juga, saya temui pebisnis sukses yang memulai dari hobi.

Kemudian, Mas Firdaus mulai bisnis dari ketidaksengajaan dan sukses. Pasti kalau Anda sengaja dan berniat untuk itu, bisa juga sukses.

Kedua bisnis fashion dan kuliner tidak ada matinya

Setuju tidak dengan pernyataan saya, kalau bisnis dibidang kuliner dan fashion tidak ada habisnya?

Kuliner, setiap hari orang butuh makan. Sedangkan fashion kebutuhan yang tidak bisa terpisahkan lagi. Bahkan bagi sebagian orang, fashion sudah menjadi kebutuhan pokok.

Mas Firdaus  dan Mas Fiky sudah menyadari hal ini. Alhasil, mereka terus berkreasi agar bisnis yang dijalankan tetap bertahan bahkan berkembang.

Seperti kata Mas Fiky, di Malang sendiri persaingan dibidang kuliner sudah semakin kompetitif. Tiap tahunnya, ada saja kafe/rumah makan yang buka. Kemasannya bermacam-macam dengan berbagai menu Indonesia hingga mancanegara. Hal inikan menunjukkan bahwa MEA sudah masuk dari dahulu.

“Namun saya yakin, makanan Indonesia akan terus eksis di tanah sendiri daripada makanan dari negara lain,” tandas Mas Fiky saat ditanya terkait MEA pada usaha kuliner.

Saya pun sepakat dengan Mas Fiky. Kuliner Indonesia beragam, dibuat dari rempah-rempah yang bermacam pula. Saya yakin dan berharap, kuliner Indonesia terus eksis di negeri sendiri.

Ini juga menjadi sinyal bagi Anda, untuk berbisnis kuliner nusantara. Apalagi bagi Anda yang memiliki resep kuliner daerah/dari nenek moyang.

Ketiga industri kreatif terus berkeasi dan meningkatkan kualitas

Bisnis apa pun itu, untuk bisa bertahan dan berkembang, salah satu kuncinya dengan berkreasi/inovasi. Kalau di perusahaan, ada bagian khusus menangani masalah penelitian dan pengembangan produk. Salah satu tujuannya, agar perusahaan tetap bertahan dan berkembang.

Hal ini juga dilakukan oleh Mas Fiky dan Mas Firdaus. Mereka berdua terus meningkatkan kualitas, berkreasi, dan berinovasi tanpa henti. Terbukti hingga hari ini, usaha mereka berdua tetap eksis di tengah persaingan pasar yang semakin kompetitif.

Keempat hadapi MEA dengan percaya diri

MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) akan segera datang. Kita tidak bisa menghindari hal itu. Maka salah satu caranya, ya harus kita hadapi dengan percaya diri. Kita hadapi MEA bersama-sama, kita saling merangkul satu sama lain.

Supaya saudara-saudara kita bisa bertahan bahkan berkembang di lingkungan MEA nanti.

Mas Firdaus dan tim Heroin sendiri dalam menghadapi MEA dengan terus berinovasi dan percaya diri.

“Kita persiapkan diri malah sebelum ada MEA. Mulai dari segi brand. Kita terus berinovasi dan terpenting percaya diri menghadapinya,” ujar Mas Firdaus.

Kelima bersinergi satu sama lain lewat industri kreatif untuk hadapi MEA

Kemudian sesi menarik bagi saya, saat Pak Fajar Utomo Badan Ekonomi Kreatif memaparkan beberapa kali fakta unik.

Pertama tentang kekuatan sebuah film. Beliau menceritakan bahwa orang barat dalam membuat film, bukan hanya menilai kesuksesan dari jumlah masyarakat yang menonton ke bioskop. Namun lebih jauh, bagaimana film memberi dampak secara psikologis terhadap penonton dan suatu negara yang dijadikan latar film.

Film menjadi ajang yang sangat potensial untuk mengenalkan tradisi hingga wisata di suatu negara.

Contohnya, film bertema Korea. Siapa sekarang yang tidak kenal negara itu? Siapa sekarang yang tidak ingin berkunjung ke sana? Sebagian besar pemuda-pemudi suka dan ingin berkunjung ke Korea.

Contoh lainnya seperti film 5 cm. Lewat film tersebut, pengunjung di Gunung Semeru meningkat pesat dari sebelumnya.

Bagaimana hebat bukan? Apalagi jika banyak film berlatar Indonesia yang difilmkan di negara lain.

Kedua masing-masing industri kreatif tidak bisa berdiri sendiri. Mereka harus saling bersinergi satu sama lain, agar bertahan dan bisa berkembang.

Saya sepakat akan hal ini, seperti halnya ketika rakyat Indonesia perang dengan penjajah. Lewat persatuan dan kesatuan akhirnya bangsa kita merdeka.

MEA kita ibaratkan seperti penjajah. Cara kita melawan adalah bersatu padu, salah satu senjatanya, ekonomi kreatif.

Ketiga Pak Fajar mengulangi perkataannya lagi, bahwa salah satu cara untuk menghadapi MEA adalah berbisnis disektor kreatif. Bisnis yang tidak bisa mati, karena berhubungan dengan daya kreasi. Artinya diperlukan kreasi tanpa henti, untuk menjadikan bisnis berkembang.

Akhirnya, bagi saya, industri kreatif bukan hanya berbicara masalah uang dan cara untuk kita tetap hidup.

Lebih jauh, tentang bagaimana kita menggunakannya untuk promosi Indonesia ke masyarakat dalam negeri hingga mancanegara. Kita bisa mengenalkan ke mereka misalnya melalui game dan film.

26 KOMENTAR

  1. kalo gak salah inget pas aku ikut seminar “Menuju Ekonomi Asean” bisnis yg gak akan pernah mati itu kuliner, fashion, dan properti, ketiganya malah akan semakin berkembang. tinggal kita gimana mau mengolah jadi yg beda dan stand out

  2. saya termasuk ekonomi kreatif gak nih? saya suka minum yoghurt, jadi suka nyetok banyak yoghurt, jadi seklalian dikonsumsi sekalian jualan juga, kalo gak habis ya dimakan sendiri hehe

  3. Tapi pemerintah itu kadang lucu mas, ekonomi kreatif kadang hanya boleh dalam tahap industri rumah tangga, gitu booming nasional macem Gojek langsung dihajar sana sini, dibilang gak memenuhi standar ISO lah, standar kenyamanan, keamanan dan seterusnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here