Bubur Kacang Hijau Ketan Hitam Kota Batu sandi iswahyudi
Salah satu makanan favorit

Bubur Kacang Hijau Ketan Hitam Kota Batu: Harga Rp 3.000 Rasa Walikota — Kalau sudah cinta, tahi kucing pun rasanya cokelat.  Itulah peribahasa yang menggambarkan kekuatan cinta. Sama halnya seperti rasa, kalau sudah cocok dengan lidah, jauh pun akan dikejar.

Fenomena itu saya temui saat jalan-jalan pagi (Senin, 24/8/2015) ke kawasan wisata Alun-Alun Kota Batu. Gerobak sederhana, bertuliskan, “Bubur Kacang Hijau Ketan Hitam” dengan warna dominan putih. Ternyata dikerumuni oleh banyak sekali pelanggan. Mulai dari yang jalan pagi seperti saya, sampai yang pakai mobil bisa dijumpai.

Saya yang awalnya ingin ke sana, saya urungkan sejenak. Sebab pasti ngantre dan saya kurang bisa menikmati tiap suapan buburnya. Apalagi pagi itu, saya sambil menunggu teman lama untuk berbincang-bincang, Barok namanya. Akhirnya saya menunggu di gazebo alun-alun sambil menghubungi dia dan sesekali saya menengok ke arah gerobak kecil itu.

Gerobak yang letaknya konsisten di sudut alun-alun, depannya Masjid An-Nur Kota Batu. Memiliki tempat yang sederhana, pengunjung bisa duduk lesehan dengan tikar karet yang sudah tergelar. Atau bisa juga makan di daerah alun-alun.

Beberapa kali jalan-jalan pagi ke alun-alun, pasti selalu bertemu dengan si gerobak. Ketika saya tanya kepada penjualnya, Pak Iwan, beliau menetap berjualan di sudut barat alun-alun, sejak alun-alun dibuka. Sebelumnya beliau berjualan selalu berpindah-pindah.

Setelah saya lihat, pengunjung sudah tidak begitu ramai. Saya langsung menuju kesana untuk menyantap bubur dan berbincang-bincang dengan beliau.

Bubur kacang hijau edisi terbatas  

Pak Iwan sudah berjualan bubur selama sembilan tahun, lama juga ya. Saya amati, bubur Pak Iwan tidak berjualan sampai malam. Sampai siang saja, sekitar pukul 12.00 s/d 14.00 WIB, tidak pernah terlihat.

Setelah saya tanya-tanya ke beliau ternyata buburnya pukul 10.00 WIB sudah habis. Bahkan jika akhir pekan, pukul 8.00 WIB sudah habis terjual. Hem, untung saat ke sini saya menyantap bubur kacang hijau dan ketan hitam di hari kerja. Jadi bisa puas menikmatinya.

Kalau Anda ingin menikmati bubur ini, sebaiknya ke sini pagi-pagi ya! Sekalian menikmati udara Kota Batu 🙂

Kalangan bawah sampai atas: dari pejalan kaki, walikota Batu sampai rumah sakit

Saya di sini cukup lama, sekitar dua jam, satu jamnya untuk menunggu Barok. Satu jam lagi bincang-bincang dengan dia.  Saat proses dua jam itu, banyak hal yang saya dapatkan dan saya cukup tercengang dibuatnya.

Pertama penikmat bubur Pak Iwan mulai dari kalangan bawah sampai atas. Seperti pejalan kaki kayak saya, hingga walikota Batu Pak Eddy Rumpoko dan istrinya, suka makan bubur di sini.

“Bapak dan ibu walikota Batu biasanya juga suka makan bubur di sini mas. Biasanya beliau pagi hari ke sini,” kisah Pak Iwan sambil saya sesekali menikmati tiap suapan bubur buatannya sendiri.

Ha? Saya awalnya kaget juga mendengarnya, pak walikota suka dengan bubur beliau. Sampai-sampai kemarin, pernyataan beliau saya ulang lagi, untuk menegaskan kembali benar tidaknya.

Kedua biasa dipesan oleh ibu-ibu untuk acaraseperti tahlilan, sekolah, dan rumah sakit. Ketiga dari mulai konsumen yang cantik dan tampan, pejalan kaki hingga yang bermobil suka dengan bubur kacang hijau dan ketan hitam Pak Iwan.

Kemarin saat saya menikmati bubur ini, melihat seorang bapak berpakaian seperti PNS membawa mobil kemudian memesan bubur beliau.

Hem… memang seperti peribahasa di atas. Jika lidah sudah cocok sama rasa bubur Pak Iwan, di mana pun akan dikejar :D. Untung saja, Pak Iwan jualannya selalu menetap. Sehingga pelanggan dan konsumen baru, mudah untuk menemukannya.

Murah, namun bukan murahan

Percaya tidak, kalau saat ini masih bisa menemukan makanan sekelas bubur kacang hijau dan ketan hitam satu porsi Rp 3.000,- dengan rasa serta kualitas baik?

Anda harus percaya! Bubur Pak Iwan Kota Batu, satu porsi hanya Rp 3.000,- saja. Rasa dan kualitas tetap juara.

Bagi Anda pecinta kuliner Batu, Malang/di mana pun berada. Anda harus mencoba dan merasakan sendiri, kuliner tradisional yang masih terjaga hingga saat ini.

Bubur kacang hijau Pak Iwan sampai sekarang tetap Rp 3.000,- dengan porsi yang cukup. Saya saja kemarin makan di tempat cuma satu porsi saja. Satu porsi lagi saya bungkus untuk dibawa pulang :D.

Bahkan kemarin Pak Iwan bercerita, kalau ada pelanggannya yang dari Surabaya,  pernah makan sampai tiga porsi sekaligus—makan di tempat. Terus ada juga yang sampai tambah lagi sampai empat porsi. Hebat ya?

“Lo ko enak ya mas buburnya? Saya tambah lagi mas,” ucap Pak Iwan menirukan perkataan pelanggannya.

Walaupun buburnya untuk ukuran saat ini terbilang murah/terjangkau, namun bukan berarti murahan. Gula yang dipakai pun gula pasir, bukan gula sintetis. Pernah ada konsumen yang tidak percaya tentang bahan-bahan yang digunakannya.

Pak Iwan pun menjawabnya dengan santai, silahkan pak kalau bubur saya diuji. Saya siap ko. Karena saya membuat bubur dari bahan-bahan yang tidak berbahaya bagi tubuh.

Harga Rp 3.000 rasa enak dan bikin ketagihan

Saya sudah sejak lama menyukai kuliner tradisional ini. Biasanya ibu juga suka membuatnya, kalau lagi di rumah. Namun kalau ibu membuatnya bubur ketan hitam saja.

Bubur Pak Iwan ini rasanya enak, manisnya pas, dan tidak bikin enek, malah bikin ketagihan seperti paparan saya di atas. Apalagi kalau ke sini, Anda jalan/lari-lari pagi merasakan udara dingin dan sejuk Kota Batu.

Tubuh menggigil, apalagi bagi yang belum terbiasa udara dingin Kota Batu. Maka cara yang pas untuk mengusirnya, adalah pesan makanan atau minuman hangat, salah satunya bubur kacang hijau atau ketan hitam Pak Iwan. Dijamin habis dalam sekejap, bisa-bisa tambah lagi, kayak saya :).

Saat bubur ini tersaji, mangkuk hangat, terlihat dari kepulan udara panasnya. Bubur saya aduk-aduk, kemudian saya rasakan satu suapan. Hem…, dingin langsung terusir diganti dengan hangatnya bubur.

Saya kemarin memesan bubur kacang hijau dan ketan hitam. Makanya sebelum makan saya aduk-aduk dahulu supaya merata. Rasa manisnya pas, tubuh yang lelah setelah berjalan kaki dari rumah di Desa Beji ke Kota Batu dengan waktu tempuh 1 jaman—dimulai sekitar 5.15 sampai 6.20 WIB, terbayar.

Perlahan-lahan tubuh kembali pulih, apalagi sambil merasakan hangatnya cahaya matahari serta aktivitas warga Kota Batu. Saya pun tidak ingin menghabiskan bubur ini cepat-cepat. Saya ingin menikmati tiap suapannya.

Saya kemarin menikmati bubur sambil mencari inspirasi dan menuliskan di buku catatan kecil. Mengamati sekitar, kemudian bincang-bincang dengan warga dan mencari ilmu kehidupan adalah hal yang saya suka.

Saran saya kalau merasakan bubur di sini, bisa sendiri, berdua atau ramai-ramai. Habis olahraga pagi, berhenti sejenak menikmati bubur Pak Iwan. Jangan buru-buru dihabiskan, sebaiknya nikmati sambil bincang-bincang!

Bagaimana apakah Anda—pecinta kuliner Kota Batu, Malang, dan sekitarnya—tertarik untuk merasakan bubur kacang hijau dan ketan hitam Pak Iwan? Buburnya tidak kalah ko, sama makanan tradisional sejenis seperti ketan legenda yang lokasinya di daerah Alun-Alun Kota Batu juga.

Bisa ajak saudara/anak-anak Anda, sekalian jalan-jalan dan mengenalkan makanan tradisional ke mereka. Saya yakin, tidak banyak anak-anak zaman sekarang yang tahu makanan tradisional. Olah karena itu mari kita dukung dan lestarikan kuliner nusantara.

Pelajaran yang dapat diambil dari Pak Iwan tukang bubur kacang hijau dan ketan hitam Kota Batu

Pertama, pelayanan, harga, rasa, dan tempat konsisten adalah kuncinya

Empat hal itu yang saya lihat dari beliau, terutama terkait pelayanan dan tempat konsisten. Walaupun rasa dan harganya sesuai, namun pelayanan kurang memuaskan, konsumen tidak akan menjadi pelanggan setia.

Begitu juga dengan tempat, tempat harus menetap/konsisten supaya konsumen dan pelanggan setia mudah mencarinya.

Kedua, tidak usah berlebihan mengejar uang, banyak bersyukur

“Saya gak ngoyo-ngoyo mengejar uang, disyukuri saja mas,” tutur Pak Iwan.

Beberapa kali beliau mengucapkan hal itu, ketika saya tanya, kenapa tidak membuka cabang atau tidak berjualan sampai malam.

Padahal kalau hari biasa saja sekitar pukul 10.00 WIB sudah habis. Sedangkan akhir pekan, pukul 8.00 WIB.

Keuntungan perharinya pun sekitar Rp 300.000. Kalau misal saya kalikan dalam 1 bulan: 30 hari, menjadi Rp 9.000.000. Wouw hebat bukan? Melebihi gaji PNS.

Beliau pun menjawab, saya gak ngoyo-ngoyo (memaksa/berlebihan) mengejar uang, disyukuri saja. Kalau mengejar uang tidak ada habisnya mas.

Kuliner Bubur Kacang Hjau dan Ketan Hitam Pak Iwan Kota Batu

Jam buka : Pagi sampai pukul 10.00 WIB. Akhir pekan pukul 8.00 sudah habis Harga : Rp 3.000,- per porsi Menu : bubur kacang hijau, bubur ketan hitam, atau campur (kedua-duanya) Menerima pesanan, nomor beliau 087859067365

20 KOMENTAR

  1. Harganya hampir sama kayak di jakarta. Masih ada yg jual 3.000.
    Tapi kalau nnomongin rasa ya kayaknya bedaa..
    Penasaran sama rasa bubur kacang hijau ketan hitamnya.
    Tolong paketin ke Jakarta ya, Mas. Aku pesan satu. Jangan lupa ketan hitam dan santannya dibanyakin. *ehhh

  2. Wah. Tips usahanya Pak Iwan patut dicontoh nih. Terutama pas bagian ‘banyak bersyukur’. Masya Allah. Mudah2an sukses dunia akhirat orang2 model gini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here