yayasan gskb sandi iswahyudi
Ini kegiatan saat GSKB mengajak adik-adik panti ke Kebun Teh Wonosari

Saya selalu percaya, kualitas tempat bukan komponen utama untuk menghasilkan ide-ide hingga mimpi besar.

Bahkan saya mengalami sendiri, tempat nongkrong santai di pinggir jalan misalnya, malah menghasilkan ide hingga mimpi besar.

Pasti sebagian dari kamu juga pernah/mungkin sering melakukan hal ini. Saya sendiri malah senang, kalau bincang-bincang di lokasi yang terbuka, sederhana, dan langsung bersinggungan dengan masyarakat.

Kondisi tersebut bagi saya malah memicu untuk selalu menghasilkan ide hingga mimpi besar.

Tempat yang santai, membuat pikiran bebas berpikir ke mana saja tanpa halangan, bahkan inspirasi-inspirasi baru akan mengalir.

Senin (19/10/2015) kemarin, saya merasakan kembali, bincang-bincang santai di pinggir jalan. Saya bertemu dengan tiga orang sesepuh GSKB (Gerakan Sadar Kebaikan Buku), yaitu Mas Kukuh, Mas Fajar, dan Mas Mei.

Sebuah komunitas di Malang, Jawa Timur yang bergerak menyebarkan kebaikan buku pada adik-adik di panti asuhan.

Komunitas GSKB telah saya kenal sejak 2014 dari seorang kawan, yaitu Doni, mahasiswa jurusan peternakan UMM. Saya pun mengikuti pertama kali saat mereka berkunjung di panti asuhan yang terletak di Kota Batu.

Baru setelah itu aktif kembali saat saya menjadi pemateri dengan adik-adik panti asuhan tentang kepenulisan, hingga sekarang.

Pertemuan kemarin, saya bincang-bincang dengan mereka tentang konten yang ada di blog GSKB, yaitu komunitasgskb.wordpress.com. Di mana blog tersebut, saya inisiasi dan saya kelola, untuk kemudian menunjang branding GSKB di dunia online.

Sebab saya tahu, di dunia offline GSKB sudah memiliki jam terbang tinggi, mereka telah memiliki jaringan yang luas, dan kerja sama dengan berbagai kalangan. Maka dari itu, saya membantu dari segi branding online-nya.

Sebab branding online dan offline haruslah sinergi dan konsisten. Sehingga kedepan manfaatnya akan dirasakan langsung oleh adik-adik panti asuhan.

Santai, banyak canda, dan di situ banyak sekali pembelajaran

Saya pikir awalnya, pertemuan kemarin akan berlangsung sebentar. Dikarenakan saya cuma membahas dari segi konten di blog dan pembagian tugas untuk menulisnya.

Namun dugaan saya salah, dari pukul 10.30 WIB perbincangan selesai sekitar 12.00 WIB. Apa yang terjadi?

Perbincangan tersebut diselengi dengan banyak canda satu sama lain. seperti Mas Mei yang suka melemparkan candaan, yang kemudian disambut oleh Mas Fajar, begitu pun sebaliknya.

Sedangkan Mas Kukuh diam dan mendengarkan, sesekali beliau juga berbicara sambil mengawasi bisnis jajanan Hongkong serta Toko Pusat Suvenir UMM.

Kondisi seperti ini tidak membuat saya marah. Malah saya menyukainya. Membuat pikiran segar dan biasanya ide-ide itu mengalir.

“Saya itu gak suka kalau rapat serius. Rapat itu harus diselingi dengan candaan,” tutur Mas Mei.

Saya pun setuju dengan Mas Mei, rapat yang diselingi dengan tawa dan canda, membuat pikiran peserta rapat segar serta semakin dekat satu sama lain. Bahkan kadang inspirasi baru muncul dari candaan tersebut.

Kemudian dari perbincangan yang mengasyikkan sambil minum jus di depan Toko Buku UMM, ada dua hal yang membuat saya takjub dan kagum akan Komunitas GSKB.

Pertama mimpi besar memiliki unit bisnis sendiri

Komunitas sosial yang digerakkan oleh masyarakat biasanya akan bertahan karena mendapatkan dana dari donatur atau mendapatkan dari unit bisnis.

Dana itu nanti tentu sangat berdampak bagi kelangsungan komunitas.

Salah satu fakta inilah yang menjadikan Mas Kukuh—alumni komunikasi UMM dan salah satu pendiri GSKB—mendorong GSKB memiliki lini bisnis sendiri.

Sekarang bisnis yang sudah ada, yaitu Hongkong, menjual bermacam jajanan yang diambil dari berbagai distributor.

Terus mimpi Mas kukuh kedepannya, GSKB memiliki bisnis yang besar dan berkembang. Agar ke depan, mampu menjangkau lebih banyak adik-adik panti asuhan.

Aamiin, semoga mimpi itu terwujud ya mas. Nanti saya siap bantu promosi lewat blog sandibrand.com.

Kedua GSKB mempunyai lembaga pendidikan dengan luas 5 Ha

Mimpi kedua ini juga saya dengar sendiri saat bincang-bicang santai sambil makan gorengan serta minum teh hangat bersama Mas Mei.

Sambil saya makan gorengan, Mas Mei menceritakan pada saya tentang mimpi jangka panjang GSKB.

“Mas mimpi kami ke depan GSKB akan memiliki tanah yang luas. Di dalamnya dibangun lembaga pendidikan yang diprioritaskan untuk adik-adik yatim piatu.

Mas Yusuf juga sudah memetak-metakkan tanah 5 Ha itu di isi apa saja. Kira-kira kami nanti membutuhkan dana sebesar 500 Milyar.

Saya sih yakin mas, karena melihat yang kemarin kami bisa mendapatkan dana yang besar untuk kegiatan sosial. Salah satu contohnya, saat GSKB mengadakan acara di DOME UMM bersama adik-adik panti asuhan Malang Raya.”

Wouw, luar biasa pikir saya. Komunitas sosial semacam ini memiliki mimpi besar dan jangka panjang.

Saya pribadi juga percaya, bahwa mimpi ini akan terwujud. Hal yang membuat saya yakin, saat pukul 12.30-an saya ikut mengantarkan Mas Mei mengurus dokumen yayasan GSKB.

Kerenkan? Padahal pengurusan dokumen untuk pembentukan yayasan tidaklah murah biayanya. Namun komunitas GSKB mampu.

Hem… saya yakin, selama berniat, bergerak, dan bermimpi untuk adik-adik panti asuhan. Selama itu Allah akan memberikan kemudahan dan kelancaran dalam segala hal.

Pertemuan kemarin cukup berkesan, membangkitkan memori dahulu saat saya menjabat di organisasi intra kampus. Serta memberikan jalan, tentang keterampilan yang bisa saya kontribusikan untuk adik-adik panti asuhan nantinya.

Semoga saya dan rekan-rekan di GSKB terus diberikan konsistensi dalam berbuat kebaikan untuk adik-adik panti. Semoga langkah-langkah kecil ini nantinya bermuara pada manfaat yang besar untuk mereka.

Hal sekecil apapun bisa kita kontribuskan untuk adik-adik panti.

14 KOMENTAR

  1. “Saya selalu percaya, kualitas tempat bukan komponen utama untuk menghasilkan ide-ide hingga mimpi besar.”

    Saya suka quote ini 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here