Kisah Unik, Proses Meliput Kuliner Soto Ayam Super Lamongan P. Djari

Soto Ayam Lamongan P. Djari Kota Batu

Inilah rupa kuliner legendaris Soto Ayam Lamongan P. Djari Kota Batu (Dok. Pribadi)

Ternyata mencari informasi, berbekal niat baik saja tidaklah cukup. Kita harus mengutarakan alasan dan untuk tujuan apa kita mencari informasi kepada informan. Setidaknya dengan tindakan semacam itu, kita akan berhadapan dengan 2 kemungkinan, diterima/ditolak. Kalau misal kita tidak sampaikan alasan, persentase terbesarnya ditolak.

Hal itulah yang saya rasakan, ketika bulan Maret 2015 meliput kuliner di Kota Batu, Soto Ayam Super Lamongan P. Djari yang bertempat di jalan Diponegoro 82A Kota Batu.

Sebenarnya saya ke tempat ini sudah dua kali, pertama diajak dosen dan kedua saya ingin merasakan nikmatnya makan soto ayam di sore hari. Baru ke tiganya, saya ingin meliputnya, mengingat ada tiga hal unik yang saya temukan di sini:

  1. Ada tulisan besar berwarna merah yang terpampang jelas “Tidak Buka Cabang.”
  2. Tempatnya tidak terlalu luas dengan desain yang sederhana.
  3. Walau tempatnya sederhana dan tidak terlalu luas, pelanggan kuliner Soto Ayam Super Lamongan banyak sekali. Dari buka hingga menjelang tutup.

Lengkapnya bisa dibaca di sini: Pesona Soto Ayam Super Lamongan Kota Batu Sejak 1988: Sederhana, Sedang, dan Pelanggan Setia

Dari ketiga komponen itulah saya meliput kuliner ini. Proses peliputannya pun cukup menarik dan berkesan. Berikut, proses peliputannya.

Pertama, saya memesan soto ayam biasa, saat itu harganya Rp 12.500,- ditemani dengan kerupuk sebagai pelengkap. Saya menguji organoleptiknya terlebih dahulu, mulai dari aroma, rasa, dan warna. Setelah itu, penilaian langsung saya ketik di HP.

Kedua, saya mengamati suasana sekitar. Mulai dari ruangan, pelanggan, pelayanan, kebersihan, dan peka pada sekitar. Maksudnya peka di sini, saya ingin mencari informasi terkait kuliner ini dari pelanggan yang datang. Biasanya, mereka spontanitas memberikan pendapat tentang kuliner yang dirasakan.

Ketiga, saya menulis semua informasi itu lewat HP. Saya lakukan ini agar apa yang saya lakukan tidak diketahui orang. Sebab kalau menggunakan tulisan tangan, orang akan mudah mengenalinya.

Keempat setelah saya selesai menyantap dan mendapatkan berbagai data. Kemudian saya mencari informasi ke pemilik soto ayam—beliau seorang ibu yang membuat racikan soto—sambil membayar.

Beberapa pertanyaan saya ajukan. Kemudian ada satu pertanyaan yang membuat sang ibu terlihat tidak terlalu suka.

“Ibu kenapa tidak membuka cabang?” Ucap saya.

Sang ibu menjawab dengan singkat dengan raut muka yang tidak menyukai pertanyaan tersebut, “Tidak mas.”

Saya pun tak berani bertanya lebih jauh lagi.

Mungkin, saya adalah pelanggan ke sekian kalinya, yang menanyakan pertanyaan seperti ini. Sehingga saat saya bertanya, jawabannya singkat, padat, dan jelas.

Akhirnya perkataan itu saya tutup dengan kata terakhir, “Terima kasih bu.”

Malamnya saya langsung membuat tulisan tentang liputan ini. Berselang sekitar 1-2 jam, tulisan itu pun langsung saya kirim ke Ibu Tri Editor Citizen Reporter Harian Surya.

Wah cepet amat?

“Hihi, yang membuat cepat, karena saya terpacu dengan sikap yang kurang mengenakkan itu (ini penilaian pribadi saya sendiri). Selain itu, saya juga suka meliput kuliner terutama yang skalanya menengah ke bawah. Tapi memiliki ciri khas yang luar biasa. Kemudian saya juga ingin melihat bagaimana respon sang ibu ketika kulinernya masuk di Harian Surya.”

Alhamdulillah beberapa hari kemudian, sekitar 1 minggu setelah tulisan saya kirim. Liputan Soto Ayam Super Lamongan pun terbit di Harian Surya kolom Citizen Reporter. Saya senang sekali, saat itu juga, saya ke Kota Batu, beli 3 buah koran. Masing-masing saya gunakan untuk arsip, laporan di kampus, dan saya kasih ke pemilik soto ayam.

Saat memasuki warungnya jantung saya berdetak agak cepat. Sebab saat itu, saya akan menyerahkan hasil kerja saya. Entah sama beliau akan diterima atau tidak.

Alhamdulillah beliau suka. “Terima kasih mas,” ucap sang ibu, saat saya memberikan bukti kulinernya yang terbit di Harian Surya. Sang ibu pun, kemudian melihat dengan seksama tulisan saya, kemudian beliau memberi komentar lagi,

“Ini gambar sotonya bukan milik kita ya mas. Soalnya piringnya bukan milik sini.”

Dengan lembut saya menjawabnya, iya bu benar, itu soto ilustrasi dari editor. Sebab hasil foto saya tentang soto ibu jelek. Jelek karena kualitas kamera yang rendah.

Saya pun kemudian pulang, dengan perasaan senang dan nikmat—merasakan soto ayamnya yang super lezat dan mantap.

Dari sini saya dapatkan hikmah lagi, kalau sebaiknya membeli kamera untuk menunjang aktivitas liputan saya. Maklum kualitas kamera HP sekarang masih 5 megapixel. Semoga ke depan, mimpi untuk membeli kamera segera terlaksana. Sehingga hasil peliputan kuliner lebih maksimal. Aamiin

2 Comments

Reply