perjalanan travel blogger sandi iswahyudi5 Romantika Perjalanan Dari Batu-Samarinda, Menjadi Pembicara di Universitas Mulawarman — Aduh le, ko ora numpak travel (mobil yang langsung dari Malang-Junda Surabaya)ae se? Opo engkok gak kari? (Waduh nak, kenapa tidak naik travel saja? Apa nanti tidak terlambat?)” tanya ibu dari telepon saat saya dalam perjalanan ke Arjosari, naik angkutan umum Malang ADL (Arjosari-Dinoyo-Landungsari).

Saya pun menjawab dengan santai dan menyakinkan, “mobile bek bu, Insyaa Allah mboten (Mobilnya penuh bu, Insyaa Allah tidak).”

Itulah perbincangan singkat saya yang mewarnai perjalanan menuju Bandara Udara Juanda Surabaya, untuk berangkat menuju Balikpapan, Kalimantan Timur dalam rangka menjadi pemateri di acara Seminar Branding, Universitas Mulawarman.

Memang kemarin Kamis (22/10/2015), banyak sekali pelajaran yang dapat saya ambil. Pelajaran tersebut saya rangkum dalam lima romantika, dari Batu ke Samarinda.

Kemarin pagi, sebenarnya saya sudah berencana untuk naik mobil travel, yang langsung ke Juanda Surabaya, namun sudah penuh penumpangnya. Alhasil, saya memutuskan untuk naik seperti biasa.

Yaitu naik bus patas dari Arjosari ke Terminal Bungurasih (Terminal Purabaya), baru kemudian ke Juandanya naik taksi atau ojek.

Pertama, romantika di rumah dan naik angkutan umum

Pilihan saya naik seperti biasa ini juga kurang didukung oleh orang tua saya. “Enak numpak mobil travel ae ta le, penak langsung teko gene (Enak naik mobil travel saja nak, enak langsung sampai di tempatnya),” kata bapak sambil melihat saya mempersiapkan berbagai keperluan.

Akhirnya saya pun berangkat dengan keyakinan diri akan sampai tepat waktu, dan saya berdoa pada-Nya agar perjalanan nantinya lancar serta dimudahkan.

Saya berangkat dari rumah pukul 6.00 WIB, terus naik angkutan umum Batu Landungsari (BL) sampai 6.15 WIB. Berlanjut dengan naik angkutan umum ADL sampai Terminal Arjosari 7.15 WIB.

Selanjutnya pukul 7.35 WIB saya naik bus patas ke Surabaya. Kata orang di sekitar bus saat saya tanya bedanya bus patas dan tidak.

Kalau yang bus patas masuk tol mas, jadi lebih cepat dan harganya pun ya lebih mahal.

Memang terkait tarif bedanya 10 ribu, kalau saya naik bus biasa cuma bayar 15 ribu. Tapi, kalau ada keperluan seperti ini, saya memilih yang lebih mahal dan cepat tentunya.

Kedua, romantika di bus patas

“Biasanya kalau sampai di Terminal Bungurasih berapa jam pak? Waduh gak bisa ditentukan mas, sekitar satu jam setengah. Paling lama dua jam ya pak? Iya kalau  lancar mas,” itulah perbincangan saya dengan bapak tukang karcis bus Patas Malang-Surabaya.

Waduh, kalau lebih dari dua jam bagaimana. Apalagi kalau di Surabaya dibeberapa ruas jalan macet. Namun saya langsung menyakinkan diri sendiri, bismillah lancar dan Insyaa Allah dimudahkan oleh-Nya.

Bagi saya penting ketika kita jalan-jalan, untuk selalu menunjukkan wajah santai/tidak kebingungan. Salah satu caranya, dengan menyakinkan diri sendiri, jika semua akan berjalan lancar.

Karena, kalau saya panik, juga tidak menyelesaikan masalah. Malah bisa jadi, menambah masalah baru.

Alhamdulillah pukul 10.00 WIB saya sudah sampai di Terminal Bungurasih.

Jalan-jalan sendiran itu enaknya, kita bisa menentukan pilihan sendiri. Sedangkan jika berdua, harus memutuskan bersama-sama. Apalagi jika salah satu rekan perjalanan kita, orangnya mudah panik.

Ketiga, romantika antara taxi dan ojek untuk ke Juanda Surabaya

Pilihan awal saya setelah turun dari bus, adalah naik taxi menuju Bandara Udara Juanda. Namun saat saya tanya tarifnya mahal, yaitu 90 ribu.

Hem, untung sama ibu saya sudah diingatkan untuk menawar dahulu harga taxinya.

Nak ojo lali lalek kate numpak taxi, takonono sek hargane, lek wes tawaren (Nak jangan lupa kalau mau naik taxi, ditanya dahulu harganya baru nanti kamu tawar).”

Alhasil dari tarif awal 90 ribu, turun menjadi 40 ribu.

Saya pikir, harga taxi itu menyesuaikan sama meterannya. Kan kalau yang saya tahu, biayanya berapa, tergantung dari berapa jauhnya. Tapi pengalaman saya kemarin tidak, kita harus melakukan lobi/tawar.

Akhirnya saya memutuskan untuk memilih ojek, karena saya pikir lebih murah dan juga cepat. Awalnya pak tukang ojek, minta 40 ribu, dan saya tawar turun menjadi 35 ribu.

Alhamdulillah, ada selisih 5 ribu, lumayan untuk nanti beli yang lain :). Ternyata saya salah, sama saja antara taxi dan ojek, hehe.

Saat sudah sampai Jaunda, saya langsung membayar dengan memberikan uang 100 ribu. Dikarenakan saat itu saya tidak mempunyai uang pecah, selain pecahan satu buah 20 ribu dan seribuan.

Dari situ bapaknya memberikan kembalian dengan raut muka bingung.

“Maaf mas, tidak ada kembaliannya, ini cuma ada 61 ribu. Iya sudah pak, kalau memang tidak ada, tidak papa. Seadanya saja.”

Hehe, jadinya kalau saya hitung-hitung lagi, saya naik ojek 39 ribu, walau awalnya perjanjian awal 35 ribu, hehe. Kalau saya bandingkan sama taxi sampai Juanda cuma bayar 40 ribu saja.

Kalau rekan-rekan traveler, dikondisi saya milih yang mana? Pasti sebagian besar memilih taxi ya 😀

Dari sini, saya diajarkan untuk responsif dengan keadaan sekitar, tidak malu untuk melakukan lobi, serta mudah adaptasi dengan kondisi yang tidak terduga.

Keempat, romantika naik pesawat terbang pertama kali

Rekan-rekan traveler pasti sudah biasa naik pesawat terbang ya? Hehe, saya baru pertama kali kemarin.

Memang kalau orang tidak pernah, pasti kelihatan kayak gimana gitu. Hal ini juga saya alami ketika naik pesawat terbang menuju Balikpapan.

Saya saat datang langsung cari-cari lokasi untuk melakukan chek in. Saat saya sudah menemukan di sisi kiri saya, terus saya melihat orang-orang masuk ke situ dengan menunjukkan kertas/hp sebagai bukti pemesanan tiket.

Saya tidak langsung masuk, saya lihat di papan digital yang menunjukkan jadwal penerbangan. Ternyata pesawat terbang saya masih belum ada.

Saya tunggu sampai pukul 11 lebih, tapi ko masih belum terlihat di papan digital itu. Terus saya beranikan diri untuk tanya ke petugas dengan menunjukkan pemesanan tiket di tablet ASUS Fonepad 8.

“Pak ko kode pesawat terbang saya ke Balikpapan belum muncul di situ (papan digital) ya? Wah, mas jangan lihat di situ. Mas ini sudah waktunya chek in. O… terima kasih pak,” perbincangan saya dengan pak petugas.

Terus saya masuk di ruangan yang besar dan luas, saya amati sekitar. Banyak orang duduk, penjual, petugas kebersihan, dan juga orang mengantre dipetugas yang di atasnya ada nama Balikpapan.

Saya lihat beberapa orang, dia memberikan kertas ke petugas dan mendapatkan semacam kertas lagi dengan rupa yang berbeda.

Saat itu saya ingin sekali bertanya ke penumpang lain, namun saya urungkan. Saya lebih memilih untuk langsung tanya ke petugas.

Ternyata benar, itu adalah petugas untuk chek in, dan saya akan mendapatkan karcis. Alhamdulillah penerbangan dari Surabaya ke Balikpapan lancar.

Dengan naik pesawat, saya bisa merasakan sensasi di udara dan melihat awan, hehe. Saya jadi rindu untuk melihat awan dari gunung.

Romantika di Juanda, mengajarkan saya untuk mengamati kondisi sekitar sebelum bertanya. Memberi senyum ketika bertanya, dan menampilkan wajah santai.

Kelima, romantika Balikpapan ke Samarinda

Kalau di Balikpapan kemarin lucunya itu saat saya belum menyadari perbedaan waktu satu jam dari Jawa.

Alhasil saat Mas Zulmi—salah satu panitia acara Seminar Branding, yang bertugas menjemput saya—mengajak saya untuk naik semacam bus pukul 16.40 WITA saya tidak langsung mengiyakan.

“Lo, inikan masih pukul 15.30 WIB ko buru-buru berangkat,” pikir saya dalam hati sambil melihat ke arah jam tangan.

Ternyata keraguan saya ditangkap oleh Mas Zulmi, “kan bedanya Kalimantan sama Jawa satu jam mas.” Hehe iya ya, saya baru sadar.

Saat itu juga saya langsung rubah jam tangan sesuai dengan waktu setempat.

Waktu tempuh menuju Samarinda, tiga jam. Untung di busnya, ada fasilitas TV-nya. Jadi saya bisa menunggu sambil menonton TV.

Tapi saat di perjalanan kemarin, saya banyak tidurnya. Pas di Balikpapan, saya melihat hutan yang tidak lebat. Kata Mas Zulmi, kalau dari luar hutannya tidak lebat. Namun ketika di dalam, hutannya lebat.

Oya kemarin, saya sudah mengisi materi di Seminar Branding. Saya dibagian, “Bagaimana membangun branding lewat tulisan” di GOR Universitas Mulawarman bersama dua pemateri keren lainnya. Untuk liputannya seperti apa, tunggu ya.

Semoga ini langkah awal saya untuk melompat lebih tinggi, meraih sukses, berkolaborasi dengan orang-orang hebat dan positif, serta keliling Indonesia. Aamiin

Hikmah perjalanan dari Batu ke Samarinda

  1. Jalan-jalan, mengajarkan saya untuk yakin dan siap hadapi segala kondisi yang terjadi. Kalau diterapkan di kehidupan, kita harus siap hadapi segala kemungkinan dan terpenting kita harus selalu bersandar pada Dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
  2. Jalan-jalan mengajarkan saya untuk cekatan, responsif, dan cepat adaptasi dengan kondisi/lingkungan sekitar.
  3. Tetap santai dan senyum jika menghadapi kondisi yang tidak kita inginkan. Pikiran yang positif sangat dibutuhkan, minimal untuk tidak menambah masalah baru.
  4. Jangan malu untuk bertanya! Perjalan menyadarkan saya, kalau teknik komunikasi antar personal sangat diperlukan.
  5. Perjalanan mengajarkan saya untuk bersyukur atas apa yang telah dimiliki. Karena masih banyak yang kondisinya di bawah kita.

17 KOMENTAR

  1. kadang kalo lagi buru-buru memang angkutan umum kurang bisa diandalkan. Aku biasanya gak berani naik angkutan umum kalo mepet gitu, gambling dan bisa senewen sendiri di jalan 😀

  2. Perjalanan yang seru mas 😀 yang penting naik pesawat pertama kalinya nggak hampir ketinggalan kayak saya dulu. Dulu saya hampir ketinggalan karena nggak ngeh kalau naik pesawat itu harus cek in dulu~ untung pesawatnya masih mau nunggu 😀

    • hehehe iya mas. alhamdulillah dengan sikap gak malu bertanya bisa tertolong mas. walau kayak orang gimana gitu hehehe… tapi alhamdulillah selamat sampai tujuan 🙂 Kalau mas dulu itu pas ke mana mas?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here