Srabi Notosuman Ny. Handayani Menjaga Ke Khasan Sejak 1923

Srabi Notosuman Ny. Handayani Solo

Pembuatan srabi yang masih mempertahankan cara lama, yaitu arang (Dok. Pribadi)

Srabi Notosuman tidak berkuah, digulung dan dikemas daun pisang, ditaruh dalam kardus. Pembuatannya masih menggunakan arang, ini yang menjadikan khas dan prosesnya agak lama.

Mata saya takjub ketika membaca Srabi Notosuman dibuat sejak 1923 dan bisa bertahan hingga sekarang. Terus bisa melihat pembuatannya secara langsung tanpa sekat.

Srabi dibuat masih mempertahankan cara lama, yaitu menggunakan arang. Tidak efektif memang, terbukti mereka yang beli setidaknya harus mengantre satu jam lamanya.

Tapi sepertinya ini salah satu yang orang cari, ke khasan yang tetap terjaga hingga sekarang. Jika misalnya Srabi Notosuman, menggunakan gas untuk proses pembuatannya agar lebih efektif. Saya jamin tidak akan bertahan lama usahanya.

Seperti kemarin, sambil menunggu pesanan, saya dan Mas Agus, teman lama yang kuliah S2 di UNS, jalan-jalan disekitar lokasi. Saya melihat penjual srabi juga, namun menggunakan gas. Apa yang terjadi, sepi pembeli. Kontras dengan tempat saya beli, yang ramai dan harus menunggu satu jam lamanya.

BACA JUGA: 5 Tips Bagi Anda Supaya Tidak Terjerumus Saat Pertama Kali Pilih Blog Self Hosted

Ada yang menunggu di dalam, ada juga yang di luar ruangan. Saya sendiri menunggu di luar sambil melihat jalanan.

Tempat membuat srabi bersebelahan dengan tokonya. Saya melihat-lihat tempat pembuatan srabinya sambil motret. Ada tiga orang lelaki memakai kaos seragam merah muda yang memasak adonan srabi menjadi srabi yang hangat, enak, dan siap makan.

Tangan-tangan mereka cekatan sekali dalam membuat srabi. Ini menjadi atraksi yang menarik, sambil menunggu kita bisa melihat pembuatannya langsung.

Sehingga pembeli semakin yakin akan kenikmatan srabi yang akan dinikmati nantinya. Sebab di zaman sekarang, masih bisa menemukan penjual yang gunakan arang untuk proses pemasakan. Walaupun menjadi semakin lama, namun soalnya rasa, hem… Silakan buktikan sendiri.

Setelah satu jam menunggu, akhirnya pesanan kami siap. Kami langsung makan di lokasi, mumpung masih hangat dan kami lapar. Kesan pertama saat menggigit srabinya, kenyal, gurih, enak, dan bikin cepat kenyang.

Srabi di sini digulung kemudian dikemas dengan daun pisang dan dimasukkan ke dalam kardus. Beda dengan srabi di Bandung, kalau di sana, srabinya diberi santan hangat untuk langsung disantap.

Srabi memang cocok disantap saat masih hangat. Kami pesan dua rasa, yaitu original dan cokelat. Saya suka kedua rasanya, masing-masing memiliki keunikan.

Srabi Notosuman Ny. Handayani Solo

Salah satu ke khasan Srabi Notosuman Ny. Handayani, masih menggunakan daun pisang untuk membungkus (Dok. Pribadi)

Kemarin saya makan srabi tiga-empat buah. Itu saja saya sudah eneg. Memang kalau makanan yang bersantan, kalau kita makan banyak dalam satu waktu pasti mudah bosan/eneg.

Makanya kemarin si srabi tidak langsung kami habiskan. Srabi Notosuman Ny. Handayani berada di jalan Moch. Yamin No. 51, Solo Jawa Tengah.

BACA JUGA: Diary Ramadan #2: Tamparan Prof. Dr. Hamka di Kala Berbuka Puasa

Di lokasi ini kami menemukan dua tempat yang berbeda. Satu berwarna hijau dengan pagarnya yang tinggi, satunya lagi tempatnya berwarna dominan orange.

Kemarin yang warna hijau tutup, kemudian kami memilih beli yang di tempat warna orange. Untung saja kami sampai lokasi pukul 16.30-an. Soalnya kalau misal pukul 17.00-an kami datang, jelas kami tidak mendapatkan srabinya.

Seperti kemarin saya melihat dua wanita yang datang pukul 17.00 WIB dan mereka kehabisan. “Sudah habis mbak srabinya,” ucap pak tukang parkir.

Srabi Notosuman memang menjadi primadona, dan kuliner wajib ketika ke Solo, Jawa Tengah. Saya dua kali ke Solo, selalu direkomendasikan dengan teman-teman untuk mencoba srabi ini. Tapi kunjungan kedua, saya baru bisa merasakannya.

Saya sangat senang dan puas kemarin bisa merasakan langsung makanan ini. Apalagi proses pembuatannya masih tradisional.

BACA JUGA: Kisah Unik, Proses Meliput Kuliner Soto Ayam Super Lamongan P. Djari

Bau dan rasa yang dihasilkan dari pembakaran arang sangatlah khas. Bau dan rasa seperti ini membuat saya rindu akan kampung halaman di Blitar. Di sana, nenek saya masih menggunakan kayu bakar untuk memasak nasi dan lauk pauk.

Memang dampaknya waktu yang dibutuhkan cukup lama. Tapi semua itu terbayar dengan cita rasa yang dihasilkan.

Jadi, bagi Anda yang mampir ke Solo, wajib mencoba Srabi Notosuman Ny. Handayani. Rasakan srabi yang dibakar khas dari arang.

Minimal Anda akan merasakan kerindu pada kampung halaman. Apakah Anda siap kembali ke masa lalu lewat srabi ini?

Tiga tips membeli Srabi Notosuman Ny. Handayani

  1. Belilah srabi yang campur. Anda akan merasakan srabi rasa original dan cokelat.
  2. Berangkatlah pada pagi/siang hari. Jika sore, bisa jadi Anda akan kehabisan srabinya.
  3. Belilah bersama teman, bawa buku/hal lainnya. Sehingga saat nanti Anda menunggu satu jam lamanya, tidak bosan atau tidak membuang waktu.

Srabi Notosuman Ny. Handayani

Alamat: Jl. Moch. Yamin No. 51, Solo Jawa Tengah

Tersedia dua rasa, original dan cokelat

Buku dari 4.30 s/d 18.00 WIB

Harga Srabi Notosuman Ny. Handayani:

Srabi biasa Rp 2.300

Srabi cokelat Rp 2.500

1 kotak srabi biasa Rp 23.000

1 kotak srabi cokelat Rp 25.000

1 kotak srabi campur (5 biasa + 5 cokelat) Rp 24.000

13 Comments

Reply