kereta api sandi iswahyudiMenikmati 2 Sisi Indonesia dari Kereta Api dan Bus — Transportasi bus dan kereta api menunjukkan dua sisi berbeda tentang wajah Indonesia. Cobalah keduanya, kamu akan mendapatkan banyak hikmah.

Pernahkah kamu naik kereta api atau bus dalam perjalanan jauh? Baik itu dalam rangka traveling, kerja atau silaturrahmi ke teman-keluarga. Biasanya kalau bepergian jauh kamu lebih memilih transportasi darat—sepeda motor, mobil, bus atau kereta api—atau udara—pesawat terbang.

Kalau misalnya kamu belum pernah naik transportasi umum bus atau kereta api. Saya sarankan cobalah sesekali. Kemudian nikmati sensasinya. Kamu akan dapatkan banyak cerita unik dan hikmah.

BACA JUGA: Puthuk Setumbu Magelang: Merekam Sisi Mistis Candi Borobudur Saat Matahari Terbit

Salah satunya kamu akan lebih mencintai Indonesia. Kamu akan melihat Indonesia dari dua sisi yang berbeda. Berikut pengalaman saya, saat menggunakan dua transportasi ini.

Kereta api jati diri Indonesia

Indonesia negara agraris. Indah dengan pertaniannya, berwarna hijau atau warna lainnya yang memesona. Menenangkan hati dan pikiran, ketika dipandang.

Dari pertanian, Indonesia menjadi berlian bagi negara lain. Inilah jati diri bangsa. Sayangnya saat ini pertanian semakin tergerus keberadaannya.

Sisi pertama: menikmati pertanian dan alam yang indah 

Ketika saya naik pertama kali kereta api dari Banyuwangi ke Malang 2011-an. Saya langsung jatuh cinta. Saya bisa menikmati indahnya sawah-sawah yang hijau.

Kadang ada perpaduan warna kuning dan hijau, dihasilkan dari daun yang masih segar dan mulai layu.

BACA JUGA: ASUS ROG STRIX GL502VM: Notebook Gaming Gahar Kelas Elit, Tapi Tipis

Kemudian melihat bentang alam yang memesona, membuat lelah setelah perjalanan jauh, perlahan-lahan hilang. Ketika diperjalanan waktu itu, saya bisa melihat banyak panorama yang menakjubkan. Alhasil rasa cinta dan kerinduan untuk menikmati kereta api membekas hingga saat ini.

Alhamdulillah Jumat (11/9/2015) saya mendapatkan kesempatan untuk menikmati kembali sensasi naik kereta api. Saya berangkat ke Solo menggunakan Kereta Api Molioboro Ekspres pukul 8.25 WIB dari Stasiun Malang.

Untuk menghadiri acara Festival Payung Indonesia dan bertemu dengan rekan kerja. Momen ini kembali mengingatkan saya akan kenangan 2011 silam.

Saya bisa melihat sawah yang hijau, bentang alam yang indah, petani yang sedang membajak sawah dengan kerbau berbadan besar, serta kegiatan penduduk di samping rel. Kamu pernah melihatnya? Saya sendiri jarang melihat hal semacam itu. Kalau di daerah saya, untuk membajak sawah petani sudah menggunakan mesin.

Padahal kalau menggunakan kerbau atau sapi, si petani juga mendapatkan manfaat ganda. Yaitu kotoran kerbau atau sapi menjadi pupuk organik bagi sawah. Selain menghemat pengeluaran petani.

BACA JUGA: Daftar Harga Resmi ASUS Zenfone 3 Series Mulai dari 1-11 jutaan. Anda Pilih yang Mana?

Pemandangan alam adalah persentase terbesar yang disajikan selama di kereta api

Beruntung sekali saya bisa melihat sawah yang hijau, menguning atau sedang proses pengolahan tanah. Maklum, saat ini sawah-sawah dibanyak daerah mulai berganti dengan bangunan.

Kayak di tempat saya, Kota Batu. Banyak sawah yang beralih fungsi menjadi perumahan, tempat wisata atau lokasi perbelanjaan.

Maka, bagi saya, naik kereta api adalah proses untuk mengenal-memahami bangsa Indonesia lebih jauh.

Keindahan yang tak terkelola dengan baik

Bukan hanya keindahan yang saya lihat. Namun juga rasa sayang. Sayang saat melihat sawah yang luas belum terkelola dengan maksimal. Ada sawah yang dibiarkan saja tanpa dirawat dengan maksimal.

Terus juga melihat sungai yang banyak sampahnya. Sayang sekali bukan? Hem… saya berharap sekali, beberapa tahun ke depan sawah-sawah ini masih terjaga. Dalam artian sawahnya tidak berganti menjadi perumahan/gedung bertingkat.

Supaya generasi muda nanti, bisa menikmati indahnya Indonesia dari kaca mata kereta api. Alhasil perjalanan dari Malang ke Solo selama kurang lebih 6 jam. Terbayar dengan melihat panorama indah dan mendamaikan.

Sisi kedua: bus, melihat wajah modernitas Indonesia

Lain halnya dengan bus. Kamu akan melihat sisi modernitas suatu kota. Biasanya kalau di Indonesia bus itu identik dengan macet, melihat bangunan-bangunan kota besar, aktivitas penduduk perkotaan, dan romantis di kala malam.

Terus kamu juga akan melihat perbedaan wajah kota sebagai pusat bisnis dan pinggiran. Biasanya kalau pusat bisnis, fasilitas lengkap, maju, dan bersih. Sedangkan di pinggiran kota sebaliknya.

Saya pernah merasakan bus dengan rute jarak jauh dari Malang ke Lombok, dengan waktu tempuh satu hari lebih. Di sana saya dapatkan makan dua kali sama selimut. Terus pernah juga dari Yogyakarta-Malang. Berangkat malam sampai Malang pagi. Di situ saya dapat makan satu kali.

Saat naik bus tidak jarang macet melanda. Saya biasanya menangani kebosanan, dengan mainan HP, tidur, kalau tidak begitu menikmati kondisi macetnya hehe.

Kemudian kalau bus yang eksekutif jarak tempat duduk satu dengan lainnya luas. Namun kalau yang bus biasa, jarak antar tempat duduk sempit. Alhasil kaki saya terjepit dan sakit. Atau biasanya badan sakit semua.

Kalau dalam menanganinya saya biasanya memilih jauh dari jendela, supaya kaki bebas bergerak. Padahal tempat yang asyik itu, saat dekat dengan jendela :). Kadang itu yang membuat saya dilema.

Pilih kereta api atau bus? 

Saya pilih dua-duanya karena masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan. Berikut ulasan kekurangan dan kelebihan setelah saya merasakan keduanya.

Harga

Bus harganya cenderung stabil dan konstan. Kalau dalam satu bus, harganya sama untuk tujuan yang sama.

Kalau kereta api, harganya naik turun. Kalau lagi beruntung saya biasanya dapat harga murah. Namun saat tiket murah habis dapat yang mahal. Seperti sekarang yang ke Solo, saya dapat tiket harga Rp 140.000,-.

Ternyata teman saya, Pak Malik dengan tujuan sama naik bus cuma Rp 105.000 saja. Hehe… Lumayankan perbedaannya :).

Panorama yang disajikan

Seperti ulasan saya di atas, kereta api memberikan pemandangan alam Indonesia yang memesona. Sedangkan bus, menyajikan pemandangan kota. Dua-duanya memberikan sensasi, hikmah, dan inspirasi berbeda-beda.

Maka, saya sarankan kamu untuk mencoba keduanya.

Kenyamanan

Dilihat dari jalurnya. Kereta api enak dan nyaman. Tidak seperti bus, yang bisa membalap satu sama lain. Belum lagi kalau misal jalannya bus tidak bagus/rata.

Terus kereta api tepat waktu. Jika ada penumpang yang terlambat datang langsung ditinggal. Sedangkan bus masih ditunggu, hingga penumpang tersebut datang.

Kemudian dari segi tempat duduk. Bus tempat duduknya lebih privasi. Kalau kereta api tidak. Kecuali untuk kereta api kelas eksekutif, tempat duduknya seperti bus. Tapi ya begitu harganya lebih mahal 😀

Enaknya kalau tempat duduk di bus, kita bisa bebas tidur dan tidak malu. Soalnya, kalau yang saya tahu, rupa wajah paling jelek saat kita tidur.

Saya hingga saat ini menggunakan kereta api dan bus. Melalui tindakan ini, saya juga mendukung kampaye pengurangan gas emisi.

Lima tips menggunakan trasnportasi bus atau kereta api

  1. Kalau naik kereta api, pilihlah tempat duduk yang dekat jendela. kamu bisa menikmati pemandangan dengan puas. Begitupun ketika naik bus. Namun jika tinggi kamu melebihi 170 cm seperti saya, ada baiknya kamu timbang-timbang memilih tempat duduk.
  2. Untuk menghemat, bawalah sendiri makanan dan minuman. Serta jangan lupa sampahnya dibawa kembali ya/dibuang di tempat sampah.
  3. Sebelum berangkat jangan lupa berdoa. Supaya tetap aman dan lancar.
  4. Bersikaplah sopan, sabar, dan ramah. Di bus atau kereta api kamu akan menemukan banyak karakter.
  5. Terus, ada baiknya kamu bandingkan dahulu harga bus dan kereta api. Agar mendapatkan harga sesuai kantong dan kebutuhan.

Terakhir, lewat postingan ini, saya tidak ada niatan untuk menjatuhkan salah satu transportasi. Melainkan saya ingin mengajak pada masyarakat, untuk menggunakan transportasi massal. Mari kita dukung transportasi massal.

Jika ingin jalanan tidak macet, kemudian udara lebih segar dan membantu masyarakat kecil. Jangan lupa menggunakan transportasi massal ya! Mari kita dukung dengan tindakan nyata!

Banyak hal unik dan menarik yang hanya bisa didapatkan dari kaca mata bus serta kereta api. Selamat berpetualang! 🙂 Kamu punya kisah unik naik bus atau kereta api?

17 KOMENTAR

  1. saya baru sekali (berangkat + pulang) pakai kereta, itu pun cuma jogja-solo. dan ternyata mengasyikkan. hehe

    betul, harus naik kendaraan umum harus dinikmati sensasinya, jangan cuma mengejar sampai saja. 🙂

  2. Saya suka keduanya. Tergantung kebutuhan sih ya
    Selain kereta jarak jauh, saya adalah pengguna kereta jabodetabek sejak dulu. Ngalamin banget tuh transformasi kereta dari ekonomi, ekpres, ac ekonomi hingga sekarang menjadi commuter line. Udah kenyang deh sama yang namanya desak2an sampai nyaris susah nafas dikereta, udah hafal juga sama kereta mogok, anjlok, hilang sinyal, rel banjir dan segala masalahnya. Tapi seiring waktu PT KAI terus memperbaiki diri, kondisi sekarang jauuuuuuuh lebih nyaman dibanding 10 tahun lalu meski masih ada beberapa kekurangan. Semoga kedepan semakin membaik seiring juga dengan perbaikan kelakuan penumpang sebagai pengguna jasa kereta api ini 🙂

    • Wahh sudah berpengalaman malang melintang nih si ibu. Kalau saya merasakan yang 2011 itu. Keretanya yang bisa dimasukin penjual itu bu. Sampai sekarang yNg lebih nyaman dan aman Hihi. Moga kedepan terus di tingkatkan lagi ya bu

  3. AKu sepakat. Kereta api itu jati diri kita juga kapal laut seperti dari suku Bugis itu 🙂
    Btw suasana hatiku langsung mellow kalo liat poto rel kereta. Rasanya syahdu banget. Nice pict!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here