sandi iswahyudi travel blogger video animatorTerus terngiang-ngiang, bahwa tiap inci dalam kehidupan kita, pasti ada hikmahnya.

Alhamdulillah. Setidaknya, kalimat di atas yang membuat semacam benteng dalam diri, untuk tidak jatuh terlalu ke dalam jurang.

Ia menjadi tameng, agar diri tak terperosok pada penyakit hati yang menyakitkan.

Jika sudah terkontaminasi efeknya bisa ke mana-mana. Karena, hati nyambungnya dengan pikiran.

Baik buruknya diri kita tergantung dari apa yang kita pikirkan. Itulah ringkasan yang saya dapat dari buku Terapi Berpikir Positif yang ditulis oleh Dr. Ibrahim Elfiky.

***

Salah satu momen yang sejak kemarin saya mulai abadikan adalah kehadiran saya bekerja di MataQu.

Sebenarnya agak lambat juga saya meresponnya. Masak tiga bulan sudah bekerja, baru mulai menulis kemarin?

Ko’ gak dulu-dulunya begitu.

Tapi tak ada sesuatu yang sia-sia. Kategori ini, saya khususkan untuk menangkap pelajaran ketika saya bekerja di sini.

Bersinggungan dengan ragam orang dan tempat baru. Maka pasti akan ada banyak hikmah yang bisa dipetik, syaratnya jika saya peka dan MAU.

Maka, menulis adalah salah satu cara merespon dan mengabadikannya.

Sepakat?

Pelajaran hari ini yang ingin saya abadikan tentang BEKERJA HATI.

Maksudnya?

Sebenarnya kita bekerja itu tak hanya sekadar menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Tidak hanya itu, bahkan ada yang lebih penting untuk diselesaikan dan dijaga, itulah hati.

Dia harus dirawat dan dikemas agar tak tergores, terluka, apalagi mati. Kita tahulah, bahwa hati adalah pusat diri.

Jika hati baik, seluruh tubuh akan baik. Sebaliknya jika hati buruk, maka tubuh juga ikut buruk.

Maka yang berat dari bekerja dengan bersinggungan dengan orang-orang berbagai karakter ialah menjaga sang hati.

Mudah untuk terjangkit iri dan dengki. Tapi kewajiban kita agar menjaganya untuk tetap syukur.

Syukurlah yang membuat kedamaian, ketenangan, dan diri mampu menerima masukan orang lain.

Sifat ini juga penarik nikmat Allah lainnya.

Tapi memang, pertempuran yang berat dan tak pernah lelah dilakukan ya, hati.

Kita harus selalu mengajaknya berkomunikasi, mengingat Allah, dan membersihkan dari segala kotoran. Agar tak terjangkit penyakit hati.

Jika terjangkit, jelas, sulit pengobatannya. Lebih baik mencegah, daripada mengobatikan?

Oleh karena itu, yang perlu dilakukan selain upgrade keterampilan ya perbarui hati. Selalu ajak komunikasi, biasakan syukur hingga tentu saja, memohon pertolongan padanya.

Itulah pelajaran penting yang saya dapatkan, ketika merantau di daerah yang selalu disapa gunung dan keindahan yang menyertainya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here