yayasan gskb sandi iswahyudi
Lihat senyum mereka. Ini momen terakhir di Kebun Teh, Wonosari saat mereka diajak akting untuk proses pengambilan gambar (Dok. Yayasan GSKB)

Alhamdulillah akhirnya tulisan ini selesai juga. Tulisan ini selesai kira-kira sudah satu minggu yang lalu. Dan hari ini saya baru bisa upload ke blog ini.

Walau nantinya, insya Allah tulisan ini akan diterbitkan dengan tulisan 19 adik panti lainnya. Saya tetap upload di sini.

Untuk menjadi kenangan. Untuk menjadi penarik. Siapa tahu, Anda mendapatkan manfaat dari tulisan ini. Atau bahkan ingin memesan bukunya nanti 🙂

Sebelum Anda membaca tulisan saya di bawah ini. Sebaiknya Anda membaca terlebih dahulu tentang latar belakang dibalik pembuatan buku antologi ini. Ya supaya Anda gak bingung gitu.

Jadi intinya begini, buku ini lahir dari program ‘Untuk Mereka’ yang Ahad (11/12) kami laksanakan di Kebun Teh, Wonosari, Lawang. Sebenarnya mengajak 22 adik panti. Namun, saat hari H, tiga orang berhalangan hadir.

Ok begitu saja, lengkapnya baca di tulisan ini: (+Vlog) Untuk Mereka: Mengajak 22 Adik Panti se-Malang Raya Berani Menulis Buku dengan Hadiah Utamanya ke Luar Negeri


Kontemplasi: Aku Belajar dari Mereka

Aku duduk dibebatuan. Melihatmu, dia, dan mereka dari kejauhan

Aku menenangkan syaraf, menenangkan pikir, dan menghela nafas.

Aku ingin menenangkan diri, dengan melihat mereka. Aku ingin dapatkan banyak hal dari mengamati-dekat dengan mereka. Kesempatan ini takkan kusia-siakan.

Daun-daun melambai-lambai. Menyebarkan ketenangan dan kedamaian. Udara segar, suasana nyaman, dan burung-burung bersahutan. Berikan simfoni alam yang selalu kurindukan.

Sambil terus melihat mereka. Tanpa bosan, tanpa letih, dan tanpa ragu

Aku terus melihat mereka

Teringat ketika aku umur segitu, aku masih bermain bebas. Aku masih malu untuk sekadar berkata, “Halo, saya Sandi.” Aku masih malu untuk melangkahkan kaki ke depan, untuk jadi pusat perhatian.

Aku masih malu. Maka ketika kemarin aku melihat mereka yang masih berdiam di tempat duduknya. Aku sadar, jika aku dulu seperti itu.

Tapi kemarin mereka beda. Lebih baik dan hebat dari aku. Mereka seperti itu, telah melangkah jauh. Telah melihat dan memaknai kehidupan sebegitu jauhnya.

Mereka tahu tentang makna kehidupan. Mereka mengerti jika bahagia itu amat sederhana, tidak begitu sulit.

Makan bersama, susah senang bersama, dan bermimpi bersama, adalah kebahagiaan yang tiada tara. Itu yang aku pelajari dari mereka.

BACA JUGA: Buku Mindset Carol S. Dweck, PH.D: Membuat Anda Sukses dengan Memahami Kekuatan Pola Pikir

Aku takjub, aku belajar dari mereka. Walau mungkin, aku dan teman-teman yang seolah-olah mengajak mereka untuk mengerti akan hidup. Tapi sebenarnya aku banyak belajar dari mereka.

Saat aku berdiri di antara mereka untuk sampaikan salam pembuka. Kulihat sorot mata mereka tertuju padaku. Seolah-olah mereka tidak sabar lagi dengan rangkaian formalitas ini.

Memang alam pagi itu begitu memesona. Aku sangat bersyukur Allah meridhoi acara kami. Walau sejak pagi sebelum kami berangkat, suasana sudah mendung. Alhamdulillah aku sangat bersykur, semoga Allah melancarkan dan memberkahi apa yang kami lakukan.

Kulihat senyum, harapan, dan optimisme terlihat dari sorot mata mereka. Aku senang dan aku belajar dari mereka. Umur SMP-SMA, mereka sudah sejauh ini. Sedang aku dulu, masih belum bisa seperti mereka. Bahkan aku dulu baru mengerti pentingnya cita-cita dan berkarya ketika menghadapi UN SMK.

Ya… sekali lagi, aku selalu tersenyum melihat mereka.

Momen-momen indah yang tak ingin aku lupakan, adalah ketika aku berkeliling di sekitar kebun. Melihat dan mengamati satu persatu tiap kelompok yang ada. Aku sungguh takjub, mereka seperti menemukan dunia baru.

Mereka fokus pada apa yang ada digenggaman tangannya. Mereka menikmati: ada yang duduk beralas tanah dengan punggung bersandar tanah, ada yang duduk di batu, hingga ada yang beratap tanaman teh.

Memang alam, tak akan pernah membuat kita bosan. Alam selalu mengajarkan kita banyak hal.

Saya selalu percaya dan telah membuktikan sendiri. Bahwa jika kita dekat dengan alam. Kita menyatu dengannya. Mengamati dan memikirkan tentang ragam fenomena yang terjadi padanya. Akan selalu memberikan banyak sekali manfaat dan hikmah.

Al-Quran juga telah menjelaskan, jika alam adalah ciptaan Allah yang tak sia-sia. Ketika kita memikirkan apa yang ada di dalamnya, akan selalu menemukan hikmah yang berharga.

Salah satunya tentang ketenangan, inspirasi, kedamaian, dan konsentrasi. Terbukti kemarin mereka menikmati proses menciptakan karya bersanding dengan alam.

Suasana sejuk, hembusan angin, simfoni alam, suara pengunjung bermain-main, menjadi serpihan-serpihan indah untuk pemanis tulisan.

Satu hari itu, aku belajar banyak pada mereka. Tentang ketegaran, ketabahan, kebahagiaan, optimisme, dan mimpi. Walau mereka tak banyak bicara. Tak banyak cerita, tapi aku seperti bisa membaca apa yang mereka pikirkan.

Lewat pengalaman singkat ini, aku tahu bahwa mereka juga ingin seperti kita. Bermain, jalan-jalan, dihargai, hingga berkarya.

Mungkin selama ini, kita menganggap bahwa mereka senang jika mendapatkan bantuan dari orang-orang secara cuma-cuma. Dapatkan uang, makanan, pakaian, dan banyak hal tanpa mereka minta. Duduk di gedung, semua datang.

Tapi, mereka akan lebih bahagia lagi, ketika diajak terlibat langsung dalam suatu kegiatan. Misal outbond, pelatihan memasak, atau hal lainnya.

Itu akan membuat mereka aktif, lebih berkembang, dan bisa menikmati pengalaman yang berbeda.

Pasti kita akan lebih suka bermain lumpur, kotor-kotoran, mendapatkan banyak pengalaman, bisa merasakan tawa, canda, dan tangis tentang suatu hal. Daripada hanya berdiam diri pada rutinitas yang itu-itu saja bukan?

Mereka juga sama.

Ya… Ahad (11/12) di Kebun Teh, Wonosari, Lawang, akan menjadi kenangan yang indah. Pengalaman yang tak terlupakan, aku dan 19 adik panti se-Malang Raya menulis bersama. Berkarya bersama, untuk sesuatu yang abadi.

Untuk sesuatu yang kita yakini akan kebermanfaatannya.

Karya ini, bukan hanya dalam goresan pena, yang diabadikan dalam buku. Tapi lebih tepatnya telah terpatri dalam sanubari. Aku berdoa, semoga esok, kitakan bertemu lagi dalam kondisi yang berbeda-beda. Lebih sukes tentunya dengan mimpi masing-masing.

Lihat juga vlog bagaimana keseruan mereka menulis di alam: 

Ini kesan dan pesan dari tiga peserta terbaik tentang acara ini:


Semoga esok, mereka mampu menginpirasi lebih banyak orang. Dan semoga esok, kita bisa dipersatukan di surganya kelak, aamiin.

Terakhir

Jika Anda ingin membaca 19 tulisan adik panti lainnya. Ingin tahu sudut pandang mereka, dan inspirasi yang bisa didapat dari tulisan mereka. Anda bisa mulai memesan bukunya ke saya ya.

Insya Allah Anda akan dapatkan manfaat lewat buku ini.

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here