nikah-sandi-iswahyudiAlhamdulillah, akhirnya saya dapatkan kesempatan menulis lagi. Tulisan ini lanjutan seri kedua dari tulisan pertama, Aku Nikah 2018.

Peruntukannya masih tetap, khusus untuk kamu yang belum menikah saja. Tapi kalau kamu sudah menikah, sebaiknya jangan baca, takut gak manfaat! Tapi jika ingin membaca ini gak papa juga sih 😊, atau mau membaca yang lain di sini.

Insya Allah akan ada manfaat yang bisadiambil.

Sudah siap mengosongkan gelasnya dahulukan? Yuk sama-sama ucapkan bismillah dahulu biar berkah!

Siap?
Sip yuk lanjut!


Tulisan ini merupakan kumpulan beberapa pertanyaan, yang menurut saya mendasar tentang pernikahan. Harapannya, memperkuat fondasi saya dan menyakinkan gerak saya untuk menikah 2018. Serta mengajak pembaca untuk siap menikah.

Kenapa menikah?

Pasti pertanyaan ini yang muncul pertama kali apabila seseorang ingin menikah. Kamu sudah tahukah jawabannya dari pertanyaan di atas?

Jika misal sudah tahu jawabannya, apakah jawaban itu sudah berdasar agama? Jika belum segera lengkapi.

Sebab, jawaban dari ‘kenapa’ nantinya berdampak pada fondasi pernikahan kita. Kalau niatnya karena Allah, insya Allah akan langgeng selamanya, bahkan bersama-sama di SurgaNya. Aamiin.

Kalau misal sekarang, kamu masih bingung menjawab pertanyaan ini. Baiknya baca sampai habis. Kamu boleh banget contek jawabannya ko 😊

Yuk baca!

Pertama perintah Allah dan RosulNya serta menjaga keturunan manusia.

Dalam QS. An-Nur (32) Allah berfirman, “Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.”

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, menganjurkan dan memotivasi kita untuk menikah. Al-Bukhari meriwayatkan dari Abdurrahman bin Yazid RA, ia berkata:

Aku bersama Alqamah dan al-Aswad menemui Abdullah, maka Abdullah mengatakan: Dulu kami bersama Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam sebagai pemuda yang tidak memiliki apa-apa. Lalu Nabi bersabda kepada kami,  “Wahai para pemuda, barang siapa yang mampu menikah maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat memelihara pandangan dan menjaga kemaluan. Barang siapa tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa dapat mengekang keinginannya.” (HR. Al-Bukhari (5/1950) dan Muslim (2/1018)).

Kedua menentramkan hati.

Majdi bin Manshur bin Sayyid asy-Syuri dalam bukunya Mahkota Pengantin mengatakan, “Pernikahan adalah solusi bagi ketentraman dan kebahagiaan individu serta masyarakat. Manusia tak punya pilihan lain untuk mewujudkan kebahagiaan secara paripurna di luar pernikahan.”

Ketiga menjaga kesehatan. Poin ini yang saya baru tahu, saat membaca buku Mahkota Pengantin. Ternyata menikah itu membuat kita tetap sehat, jika tidak, maka pada umur tertentu kita akan terserang penyakit.

Saya langsung kutipkan dalam bukunya, di halaman 13, “Galinus mengatakan, pada umumnya terdapat pada sperma adalah api dan udara, serta campurannya adalah panas yang lembab. Karena ia merupakan darah murni yang dihasilkan oleh anggota tubuh yang asli. Apabila sperma tersebut terus tertahan dan tidak disalurkan ke pasangan yang halal, maka ia dapat menyebabkan penyakit yang buruk, di antaranya, was-was, gila, stress, dll.”

Masya Allah, dari membaca poin ini, saya jadi tahu, betapa dahsyat dan sempurna Allah menciptakan sistem di alam semesta ini. Semuanya memiliki hikmah yang besar. Semoga kita dimudahkan olehNya untuk bisa memahami tiap hikmah yang ada.

KESIMPULAN: Kita harus menikah dan mempersiapkan pernikahan itu, terutama dalam hal ilmunya.


Kenapa memilih wanita/pendamping yang beriman?

Mungkin pertanyaan ini juga ada dibenakmu, dan kamu belum bisa menjawabnya.

Setalah saya baca buku dan mendengarkan ceramah dari beberapa ustadz. Mereka mengatakan, kriteria pendamping yang utama adalah agamanya.

Dalilnya, terdapat dalam ash-Shahihain darinya, dari Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

“Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, kedudukannya, kecantikannya, dan agamanya, maka pilihlah wanita yang beragama agar engkau tidak menjadi hina.” (HR. Al-Bukhari (5/1958) dan Muslim (2/1086)).

Dahulu sebelum saya kuliah, masih memandang wanita ya berdasar kecantikannya, agama tidak menjadi poin intinya. Namun setelah saya kuliah dan bergelut dengan dunia saya jadi tahu, kenapa agama adalah poin utama dalam memilih pasangan.

Kenapa agama jadi pilihan? Logikanya seperti ini, kalau calon pasangan saya takwa dengan pemilik alam ini, berarti ia juga akan patuh pada manusia yang lemah dan tak berdaya seperti saya.

Yakan?

Kalau misal pasangan saya gak bertakwa pada Allah, pemilik segala sesuatunya. Bagaimana ia bisa patuh dan membersamai saya dalam suka dan duka, yang notabene manusia itu lemah dan tak berdaya?

Makanya, alhamdulillah Allah masih kasih saya kesempatan untuk bisa mengubah mindset bahwa agama adalah kriteria utama dalam memilih pasangan.

Sebagai penutup pertanyaan ini, saya hadirkan hadist nabi dalam Shahih Muslim dari hadis Abdullah bin Umar, ia berkata,  Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Dunia adalah kesenangan dan sebaik-baik kesenangan dunia ialah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim)

KESIMPULAN: Pilihlah pasangan berdasar agamanya. Jadikan ini pilihan utama, sebab Allah dan RasulNya lebih tahu yang terbaik buat kita.

Kemudian pilih yang sebanding dengan kondisi kita. Pilih yang bisa menerima kita. Itu akan membuat kita bahagia dalam menjalani kehidupan pernikahan.


Disiapkan atau gak pernikahan itu?

Disiapkan dong, terutama ilmunya. Logikanya begini. Kegiatan kampus yang cuma satu hari dengan lingkup nasional misalnya, harus disiapkan minimal dua bulan. Apalagi kehidupan setelah pernikahan?

Tulisan ini, adalah salah satu cara saya untuk mempersiapkannya. Kalau untuk urusan pesta pernikahan, saya sih inginnya sederhana saja. Jadi saya fokus ke ilmu berkeluarga ala Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam 😊.

Kalau kamu bagaimana?

Saran saya sih, ya dipersiapkan juga, sebab jika salah langkah, sulit untuk diperbaiki. Insya Allah gak sulit ko, soalnya sudah ada panduan lengkap dari Allah dan RasulNya. Yakan?

Jadi yuk kita siapkan!

Penulis buku Mahkota Pengantin mengatakan, “Air berbau busuk. Berawal dari busuk tanahnya. Kebusukan kaum.Berawal dari kebusukan nikahnya.


Apa saya akan dipertemukan dengan jodoh?

Jawab singkatnya, pasti.

Allah sudah berjanji dalam QS. Ar-Rum (21): Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.

Kemudian misal hingga kini kamu belum menemukan jodohmu. Mungkin kamu belum memantaskan diri, yakin, dan belum memohon kepada Allah.

Ingat, Allah sesuai dengan prasangka hambanya. Maka kenapa kita selalu dianjurkan oleh agama berprasangka positif. Selain itu baik bagi kesehatan, juga menjadikan kita semakin dekat dengan Allah.

KESIMPULAN: Jodoh kita sudah disiapkan oleh Allah. Tinggal sekarang, kita yang harus yakin, mempersiapkan diri terutama ilmu, berdoa, dan berusaha menjemput jodoh. Insya Allah, Allah akan segera mempertemukan jodoh masing-masing.

Yakinkan?

Harus yakin ya!

Sip.


Apa nanti saya bisa cari rezeki untuk keluarga?

Mungkin ada di antara kamu, yang sekarang masih belum 100% ingin menikah, sebab masih belum yakin apa bisa menafkahi keluarga nantinya.

Tenang, jangan khawatir. Jawabnya bisa!

Dahulu saya sempat khawatir, bisa gak ya, menafkahi anak dan istri.

Alhamdulillah seiring berjalannya waktu, Allah bukankan hidayah.

Bahwa memang menikah itu salah satu yang membuat rezeki lancar. Bahkan teman saya satu organisasi sudah membuktikan ini juga.

Ust Khalid dalam cerahmnya berjudul Saudaraku, Inilah Rahasia Rezkimu, menjelaskan beberapa poin pelancar rezeki, salah satunya dengan cara menikah.

Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Ada tiga golongan yang berhak mendapatkan pertolongan dari Allah: orang yag berjihad di jalan Allah, budak yang ingin memerdekakan dirinya, dan orang yang menikah yang ingin memelihara kesucian diri.” (Hasan, diriwayatkan Ibnu Abi Ashim dalam al-Jihad (1/274), at-Tirmidzi dan an-Nasa’i)

Dari Abdullah bin Mas’ud RA, ia mengatakan:

“Carilah kecukupan dalam pernikahan. Karena Allah berfirman, Jika mereka fakir, maka Allah mencukupi mereka dari karunia-Nya. Dan Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (HR. Ath-Thabari (18/126).

KESIMPULAN: Menikah akan mendatangkan kelancaran rezeki. Jadi pasti kita bisa mencukupi keluarga, karena Allah dan RasulNya sudah berjanji.


Konsep keluarga nanti seperti apa?

Insya Allah ini konsep yang saya ingin bangun esok bersama keluarga saya, yaitu membangun keluarga sesuai contoh Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam.


Itu beberapa pertanyaan umum tentang pernikahan. Semoga memberikan wawasan dan juga memperkuat fondasi saya dan teman-teman lainnya untuk segera menikah. Aamiin

Siapkan?

Menikah 2018 ya?

😊


REFERENSI:

Majdi bin Manshur bin Sayyid asy-Syuri. 2009. Mahkota Pengantin. Pustaka at-Tazkia. Jakarta

Ceramah Ust. Khalid Basalamah tentang pernikahan

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here