ngobrol bareng mpr pemuda sandi iswahyudi
Merekam #NgobrolBarengMPR dalam sebuah kamera agar tetap abadi

Masih Indonesiakah?

Yap, sesuai sama judulnya, tulisan ini saya peruntukkan hanya untuk pemuda saja. Baik yang muda karena umur, atau yang menganggap jiwanya masih muda.

Kamu diposisi mana? 😊

Jika kamu ada kriteria di atas, baiknya membaca ini sampai habis, Insyaa Allah akan ada manfaat yang bisa kamu ambil pelajaran.

Sip?

Tentulah saya juga pemuda, dan tak akan sia-siakan kesempatan dengan menulis sesuatu yang gak bermanfaat diblog ini. Tahu sendiri jika menulis diblog, membutuhkan proses yang lama dan tidaklah singkat.

Sehingga saya selalu berusaha menghadirkan tulisan yang memang bermanfaat buat saya pribadi terlebih buat pembaca.

Kenapa pemuda?

Tulisan kali ini saya membahas tentang pemuda. Posisi saya sekarang. Posisi yang gak mudah, sangat menentukan, dan geraknya berdampak.

BACA JUGA: Khusus Kamu yang Mau Praktik! Berikut Cara Agar Kamu Bahagia Setiap Harinya

Dampaknya bukan hanya untuk pribadi, melainkan juga negara. Tak heran, jika kita tahu dari para tokoh, Indonesia saat ini sedang diserang dengan beragam hal yang dapat merusak kualitas pemuda, seperti pornografi, narkoba, game, dan semacamnya.

Tujuannya apa? Yap, agar potensi maksimal dari pemuda Indonesia tidak tersalurkan ke hal-hal positif dan produktif.

Jika tersalurkan dengan positif, perkataan Presiden Ir. Soekarno, “Beri aku 1.000 orang tua niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia,” akan terjadi.

Tidak hanya Ir. Soekarno yang menyinggungnya, bahkan penulis muslim buku best seller La Tahzan Dr. A’idh Al-Qarni, MA menulis khusus buku tentang pemuda berjudul, “Selagi Masih Muda.”

Ini menandakan, kalau pemuda itu sangat penting perannya. Bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga negara.

Di dalam buku Selagi Masih Muda dijelaskan, masa muda, adalah masa yang sangat bernilai, segala potensi, minat, bakat, kemamuan dan kemampuan berkumpul di dalamnya.

Sepakat akan hal inikan?

Sip.

Dari sini, mari kita merenung, di posisi mana kita sekarang?

Posisi pemuda yang ikut berkontribusi positif lewat karya

Atau hanya pemuda yang menjadi penikmat yang biasanya hanya berpangku tangan tanpa melakukan apa pun?

Selain di posisi mana, kita juga tahu, masalah apa yang dihadapi oleh Indonesia saat ini.

Masih banyak pemuda yang berjuang

Jika mungkin menurutmu, pemuda saat ini sering galau, mudah tersulut, gak produktif, dan semacamnya, eits… ada yang salah nih dengan pandanganmu.

BACA JUGA: Belajar Menulis dan Tertampar Oleh Guru

Sebab dari yang saya tahu kemarin Sabtu (4/11) di Surabaya bertempat di Fairfield by Marriott Surabaya, saat mengikuti acara #NgobrolBarengMPR saya bertemu dengan para pemuda dari berbagai profesi, mereka tidak seperti yang kamu bayangkan.

Meraka peduli dengan Indonesia.

Mereka memahami perbedaan adalah rahmat, keindahan, dan kekayaan. Bukan sebaliknya, sebagai pemincu konflik, dll.

Sehingga, alhamdulillah, dari pertemuan ini, saya jadi tahu jika masih banyak pemuda yang peduli dan mengisi masa mudanya dengan sebaik mungkin.

Ada yang mengisi dengan menuntut ilmu setinggi mungkin, berkarya lewat media online, menulis buku hingga berkompetisi di tingkat dunia.

Semua dilakukan untuk menunjukkan kebanggaannya pada Indonesia.

Menunjukkan, kontribusinya pada ibu pertiwi.

Kamu pilih mana?

Pertanyaan selanjutnya kamu pilih mana? Menjadi pemuda yang memberi kontribusi positif bagi diri, lingkungan dan negara.

Atau sebaliknya, menjadi pemuda yang hanya melalui harinya dengan biasa saja, tanpa karya.

Bahkan mungkin, tanpa sadar menjadi pemuda yang suka nyinyir.

Hayo dibagian mana?
Mari sama-sama kita introspeksi diri. Sebab gini, saya menyadari jika tantangan ke depan tidaklah mudah. Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi negara maju.

Hanya saja sepertinya itu tidak akan berjalan mulus. Sebab tentulah akan ada musuh yang menghalanginya.

Sepakatkan?

Kemudian kita hidup ini juga tak lama. Kita hidup juga tidak tahu, pada usia mana akan dipanggil oleNya. Maka dari itu, masak kita mau bermain-main dengan kehidupan ini?

Enggakkan?

Masak nanti kita akan menjadikan nama kita dikenang sebagai seorang musuh negara, bukan sebagai pejuang negara?

Ngerinya lagi… jika kita meninggalkan dunia, namun tak punya karya positif. Terus nanti, Allah minta pertanggungjawaban hidup kita bagaimana? Bagaimana kita harus menjawabnya?

BACA JUGA: Buku Muhammad Karya Martin Lings: Membuatku Tersadar Tuk Pelajari Lebih Lanjut Tentang Nabi Muhammad SAW

Hem….

Oleh karena itu, saatnya kita kembali dan memutuskan jalan mana yang dipilih. Jalan kebaikan/keburukan. Kebaikan akan dapatkan tempat bahagia abadi bernama Surga, sedangkan keburukan, akan dapatkan tempat kesedihan yang abadi, bernama Neraka.

Semua ini pasti, dan mau tidak mau, kita semua harus menerima ketentuan ini.

Maka…

Dengan pasti, dan tanpa pikir panjang, kita semua akan sepakat memilih jalan kebaikan. Jalan untuk berjuang dan memberikan yang terbaik bagi agama dan negara.

Setujukan?

Sip, mari kita lanjut.

Solusi yang bisa dilakukan olehmu, sebagai pemuda

Solusi paling mudah yang bisa kita terapkan sebagai pemuda, sebagai berikut.

Pertama berjanji berpikir dan bersikap positif

Sejak sekarang, berjanjilah pada dirimu dan Allah Azza wa Jalla, untuk selalu berpikir dan bersikap positif dalam segala situasi.

Dampaknya, Anda akan merasakan perubahan diri yang lebih baik lagi. Bagi lingkungan dan negara, Anda tidak akan lagi menghasilkan sesuatu yang buruk/merugikan orang lain.

Secara tidak langsung pada poin ini, Anda sudah mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila pada sila Ketuhanan yang Mahasa Esa dan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Kedua berkaryalah sesuai dengan minatmu

Berkaryanya tetap ya yang positif. Lakukan dengan sebaik mungkin dan nikmati tiap prosesnya.

Kerja keras tidak akan menghianati hasil. Karya yang kamu buat dengan sungguh-sungguh dan memiliki nilai positif, tentu akan berdampak pada lingkungan, dan mungkin negara.

Kamu melakukan ini, secara tidak langsung, telah menerapkan sila ke-5 Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Ketiga menjadi agen perubahan khas zaman now

Yap, kamu anak muda zaman now, daripada update status yang gak manfaat, bahkan merigukan orang lain. Lewat status yang galau, bernada negatif, dll.

Lebih baik dan tepat, jika kamu menjadi agen perubahan lewat statusmu itu.

“Dalam konteks negara kita diingatkan harus bijak, harus pandai2 dalam memanfaatkan perkembangan teknologi informasi ini, itu bukan sekadar saran. Tapi itu adalah sesuatu yang harus benar-benar kita laksanakan,” tutur Pak Andriyanto Kepala Bagian Pengolahan Data dan Sistem Informasi Sekjend MPR RI.

Jadi lakukan update status tentang nilai positif, kebaikan, kebangsaan dan kenegaraan.

Cinta tanah air bisa banget kamu sebarkan lewat sebuah status.

Sekilas mungkin tak terlihat. Namun jika kamu sadar, statusmu itu memberi dampak yang luar biasa bagi warganet.

Maka selalu biasakan diri untuk update status positif saja.

Status/konten negatif akan selalu ada. Maka alangkah baiknya, kamu pemuda memilih jalan dengan selalu update status positif. Ini salah satu cara sederhana berkontribusi bagi negeri.

Bagaimana siap?

Kesimpulan

Terakhir, agar kamu tak tergerus oleh zaman, dan memiliki kebanggaan pada bangsa, salah satunya dengan menerapkan 4 Pilar MPR.

Yaitu:

Pancasila sebagai negara dasar dan ideologi negara.

UUD’45 sebagai konstitusi negara

NKRI sebagai bentuk negara, dan

Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara

Kata Pak Maruf Cahyono, Sekjend MPR RI mengatakan, terapkan ini, dan share ke yang lain dengan bahasa kalian.

Kita semua punya tanggung jawab untuk jaga Indonesia. Jaga persatuan dan kesatuan.

Indonesia lahir sudah bhineka. Tugas kita gak melawan perbedaan, tapi mensyukuri dengan menjaga dan merawatnya.

Siap?

Aku, kamu, dan kita semua, adalah bagian dari Indonesia. Indonesia yang diperjuangkan oleh para pahlawan, dan hadiah dari Allah Azza wa Jalla.

Oleh karena itu tugas kita sekarang tinggal mengisi kemerdekaan, kolaborasi, dan saling menjaga NKRI.

Kemarin sebelum acara #NgobrolBarengMPR selesai, Pak Maruf membacakan puisinya dihadapan peserta.

Berikut cuplikannya…

Masih Indonesiakah kita

Setelah sekian banyak jatuh bangun

Setelah sekian banyak tertimpa dan tertempa

Setelah sekian banyak terbentur dan terbentuk

Masikah kita meletakkan harapan di atas kekecewaan

Persatuan di atas perselisihan

Musyawarah di atas amarah

Kejujuran di atas kepetintangan

Ataukah ke Indonesiaan kita telah pudar

Dan hanya tinggal slogan dan gambar?

Tidak!


Terima kasih atas kesempatannya, sehingga saya bisa mengikuti acara #NgobrolBarengMPR dan mendapatkan informasi berharga tentang bagaimana seharusnya pemuda berkontribusi bagi negara di era sekarang.

6 KOMENTAR

  1. Itu acara ngobrol bareng MPR-nya di Malang ya mas?
    Wah keren, saya belum pernah ikut acara sejenis 😀
    BTW kita harus selalu optimis bahwa msh banyak kok kaum muda yg berkarya dan berprestasi. Moga2 bangsa ini makin besar krn karya mereka ya 😀

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here