ssg santri siap guna daarut tauhiid bandung sandi iswahyudi

Khusus untuk siapa pun yang ingin berkontemplasi dalam perjuangan.

Ide hadir saat perjalanan pulang berkawan letih melewati Kampus UPI dari pelatihan pekan ke-6 SSG 35.

***

Lari, jilati tanganmu setelah makan, jangan sisakan nasi satu butir pun, push up, menembus rintik hujan, berkawan malam, lakukan kompromi dengan diri, menahan beban, menerjang rintangan, dan….

Berhentilah sejenak.

“Esok Sabtu-Ahad ngapain lagi ya? Penasaran.”

Berhentilah sejenak.

Ya… esok akan memasuki pekan ke-7, Insyaa Allah enam pekan lagi SSG (Santri Siap Guna) 35 akan selesai.

Maka, berhentilah sejenak, dari ragam aktivitas.

Lakukanlah kontemplasi (perenungan).

Jika tidak, takut semua ini akan sia-sia belaka ☹

Uang, tenaga, waktu, latihan fisik, pikiran, dsb tak ada artinya. Artinya investasi yang dilakukan rugi ☹

Maka, berhentilah sejenak!

Mari berkontemplasilah wahai diri!

***

Bismillah

Terima kasih tubuh

Terima kasih ya Rabb atas kesempatan ini, sehingga tubuh mampu mengikuti SSG hingga pekan ke-6.

Terima kasih tangan, kaki, hingga pikiran yang telah menemaniku. Maaf bila ternyata masih ada kekurangan. Maaf bila engkau aku paksa untuk mengubah kebiasaan yang bersantai jadi berolahraga tiap hari.

Terus maaf juga bila engkau aku ajak jalan kaki jauh melebihi batas yang selama ini sudah biasa ditempuh. Memang berat awalnya, tapi semakin ke sini, jadi mudah. Alhamdulillah.

Sekali lagi terima kasih atas kerja sama yang engkau berikan. Engkau tak pernah mengeluh. Aku ajak ke tempat yang Allah ridho atau gak.

Jika engkau dapat berbicara, mungkin engkau akan lari meninggalkan aku. Sebab aku tak mengajak engkau menuju fitrah manusia, yaitu menghamba padaNya.

Salahkah aku mengajak tubuh bicara? Tidak! Seharusnya malah sering aku lakukan.

Sudahkah saudara hingga detik ini berterima kasih padaNya dan tubuh? Sudahkah saudara mengajak anggota badan bicara?

Sadarkah jika selama ini saudara tak sendiri? Ada mata, tangan, kaki, pikiran hingga hati yang selalu menemani. Mereka sejatinya hidup, dan mendengar kita.

Hanya saja mereka tak diizinkan menjawab dan membantah perintahNya. Mungkin jika diizinkan, mereka akan lari, sebab kemaksiatan yang diri ini lakukan.

Renungkan hal ini duhai diri!

Berhenti sejenak, koreksi nahkoda

Nahkoda dalam melakukan sesuatu adalah alasan kenapa melakukan itu. Perlu untuk terus mengoreksinya, apakah sudah sesuai atau ada yang salah.

A post shared by SantriSiapGuna Daarut Tauhiid (@ssg_dt) on

Jika tidak, bisa jadi dalam melakukan sesuatu kering dan kurang berenergi. Dampak buruknya, diri akan terhenti mengerjakan aktivitas itu.

Ini yang menakutkan.

Sebagai contoh, beberapa kali saya melakukan dialog dengan diri tentang alasan kenapa saya harus menulis. Ini saya lakukan agar saya tetap konsisten menulis.

Jika saya tak lakukan, kemungkinan besar saya akan berhenti menulis. Karena memang, konsisten itu butuh berat dan perjuangan.

Setujukan?

Sama halnya seperti mengikuti SSG atau aktifitas lainnya.

Apa sih alasan yang membuat kita harus tetap bertahan?

Apa sih manfaatnya buat diri dan masa depan jika mengikutinya?

Jawablah!

Mari renungkan! Alasan yang kuat, membuat diri akan tetap konsisten apa pun yang terjadi. Alasan yang kuat, juga yang membuat kita akan melakukan sesuatu dengan baik.

Jika saat ini kita merasa ingin terhenti di pertengahan jalan, kemungkinan besar, alasannya belum kuat.

Berhenti sejenak, carilah alasan kenapa harus melakukannya!

Ikat, jangan biarkan lari

Sadar atau tidak, pengalaman, ilmu dan hikmah dalam sebuah perjalanan begitu mahal. Bahkan ada yang melakukan perjalanan sama, tapi tak dapatkan apa-apa selain letih.

Maka sudah sewajarnya, pengalaman, ilmu dan hikmah yang didapat diikat dengan karya.

Sebuah kiriman dibagikan oleh SantriSiapGuna Daarut Tauhiid (@ssg_dt) pada

Sayang jika tak diikat, dia bisa hilang. Sebagaimana air dalam gelas akan menguap tak tersisa bila dipanaskan diterik mentari.

Kita bisa mengikatnya lewat tulisan, foto, video, atau suara. Apa pun itu ikatlah, sebelum menguap!

Sekelas Ali bin Abi Thalib rodhiyallahu ‘anhu saja menyarankan menulis untuk mengikat ilmu. Apalagi kita?

Mari renungkan! Mari mulai mengikat ilmu, pengalaman dan hikmah yang didapat. Ini karunia, sangat sayang jika kita menyia-nyiakan.

Setuju?

Ikat, kemudian sebar ke yang lain! Semoga ini menjadi jalan orang lain dapatkan manfaat!

Terakhir…

Sebuah puisi

Sebuah kiriman dibagikan oleh SantriSiapGuna Daarut Tauhiid (@ssg_dt) pada

Relakah?

Lelah yang telah mengalir.

Keringat yang telah bercucuran.

Tak akan pernah kembali ke dalam tubuh.

Ia sudah hilang, berganti dengan ilmu, hikmah dan pengalaman, menyatu dalam diri. Sayang, ketiga hal di atas, tak abadi jika tak diikat dengan karya.

Bisa dengan menulis, foto, video, atau suara model podcast.

Sebagaimana sahabat mulia, Ali bin Abi Thalib rodhiyallahu ‘anhu mengatakan, ikatlah ilmu dengan menulis.

Intinya ikatlah ketiga hal di atas, jangan biarkan ia pergi seperti angin lalu!

Sayang sekali jika itu terjadi. Sebab jika kita sadar, banyak saudara kita yang belum dapatkan kesempatan belajar ini.

Maka lakukan sesuatu, ikat, berkolaborasi, dan praktikkan!

Ingat akan uang, tenaga, waktu, dll yang telah kamu korbankan hingga bisa mengikuti SSG sampai hari ini!

Ingat akan perjuangan yang sabar kamu jalani.

Keringat menetes, lelah melanda, berselimut malam yang dingin, rintik-rintik hujan, jalan panjang, mendobrak diri, dsb.

Apakah engkau rela itu semua berlalu, kemudian pergi begitu saja?

Tak ada yang sia-sia dalam setiap kejadian di hidup ini. Pasti selalu ada hikmah!

Pertemuan dengan teman-teman yang sevibrasi, siap berubah, siap mengingatkan, satu rasa, sama-sama belajar, dsb

Relakah kamu berlalu begitu saja?

Tanpa ada hikmah, ilmu, pengalaman, hingga kolaborasi yang terjadi?

Jika di jalan ini, hanya untuk numpang keren, dapat gelar, dan semacamnya.

Tentu rugi yang didapat.

Terus, relakah perjuangan dan segala pengorbanan yang dikeluarkan hanya untuk sebuah gelar?

Relakah semua berlalu begitu saja?

Berkacalah wahai diri, sebelum terlambat!

***

Tulisan ini hadir sebagai pengingat untuk diri penulis, dan untuk siapa saja yang sedang berjuang.

Salam dari Sandi, Pleton 11, di Ledeng, Bandung.

4 KOMENTAR

  1. Hayuk tetap berbicara dengan anggota tubuh tidak hanya bernegosiasi agar tubuh tetap kuat melainkan bernegosiasi agar mereka mau bersaksi kelak di hadapan Alloh bahwa kaki ini pernah melangkah jauh dengan dzikir yang tak hentinya terucap atau dalam hati bahwa manusia yang Alloh amanahi tubuh ini meminta ampunan atas setiap dosanya yang melambung tinggi (Mudah-mudahan betul setiap langkah ini adalah dzikir meminta ampunan bukanlah langkah yang sia-sia).

    Hayuk terus jilati tangan, tidak menyia-nyiakan sebutir nasi atau makanan lainnya, terus bergerak dengan cepat, terus berolahraga, terus melakukan cara makan dan minum yang betul, terus berusaha melakukan yang terbaik, terus menerapkan dalam hidup 5 pantangan, 2B2L, TSP, BRTT, 3S,PDLT, (Kalo lupa artinya baca lagi!), dan lakukan hal yang lainnya yang sudah di ajarkan selama pelatihan, tak hanya cukup saat pelatihan melainkan tetap amalkan sampai selesai pelatihan, sampai kehidupan selanjutnya terus amalkan untuk keluarga dan orang lainnya.

    Hayuk abadikan setiap pekan, setiap hikmah, setiap ilmu, setiap kisah dari berbagai orang yang kita temui, kita abadikan dengan berbagai macam cara untuk kita sulap menjadi sebuah kisah indah untuk kita hadiahkan ke keluarga,sahabat, dan siapapun itu, untuk mengisi tabungan amal Jariyah, jadi JANGAN berhenti MENULIS untuk terus memotivasi bagi kami yang belum atau proses perlahan menulis (hehehe senyumdulusikit).

    Hayuk melangkah lagi ke pekan 7
    Hayuk terus melangkah sampai pelantikan

    Jadi tidak ada yang sia-sia melainkan Insya Alloh bermanfaat .
    Judul Coment “Hayuk”

  2. Ternyata hanya tubuh yang mampu setia dengan kita, hingga berada dalam liang kubur,,

    Thanks Akhi, sangat bermanfaat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here