pengalaman kuliah sandi iswahyudi sandibrandAlhamdulillah 18 April 2017, sah diri ini terlepas dari belenggu. Sah diri ini memasuki kehidupan yang lebih luas. Sah diri ini memasuki tahap berikutnya. Sah diri ini mulai fokus pada sesuatu yang selama ini dikerjakan.

Dan beragam makna lainnya. Intinya hari itu, alhamdulillah, diri ini telah dinyatakan ‘lulus kuliah.’ Setelah hari itu saya mulai merapikan segala sesuatu, dan tetap menyelesaikan revisian 😃 .

Ahad (7/5), alhamdulillah Allah azza wa jalla masih beri kesempatan untuk saya menuliskan tentang pengalaman di kuliah.

Tulisan ini Insya Allah tidak ada tendensi apa pun selain ingin berbagi manfaat dan siapa tahu inspirasi, khususnya bagi kamu yang masih berada dibangku kuliah.

Ok lanjut ya ke topik intinya.


Mimpi yang terkabul

Ya, kuliah adalah mimpi yang terkabul. Saya baru berani bermimpi untuk kuliah saat masa-masa persiapan UN. Sebelum itu, belum terbersit dalam pikiran untuk kuliah setelah sekolah kejuruan.

“Aku ingin kuliah.”

Insya Allah itulah kalimat yang saya tulis saat malam hari mendapatkan sesi motivasi dari seorang trainer di sekolah. Dan… rencana Allah begitu indah, dan tak disangka-sangka. Alhamdulillah akhirnya saya bisa kuliah di jurusan ITP (Ilmu dan Teknologi Pangan) Universitas Muhammadiyah Malang.

Sadar akan pentingnya organisasi

Saya masih ingat, dulu saat di SMK N 02 Batu, saya termasuk orang yang gak suka ikut organisasi. Alhasil soft skill saya kurang. Seperti malu dan takut bicara di depan umum. Kemampuan diri yang masih kurang, dan banyak hal lainnya.

Alhamdulillah saat memasuki semester 1, dosen ITP, memberikan gambaran tentang pentingnya menempa diri di organisasi. Beliau juga memberikan beberapa data yang menunjukkan jika kemampuan yang didapat dari organisasi, mempengaruhi nilai jual seseorang ketika melamar di suatu perusahaan.

Dari hal itu, ditambah dengan introspeksi diri. Akhirnya saya memutuskan untuk ikut di organisasi. Alhamdulillah sampai sekarang saya masih aktif di organisasi.

Berikut daftar organisasi/komunitas yang saya ikuti mulai dari awal masuk kuliah sampai sekarang: IMM Adolesensi, HMJ ITP, UKM FDI UMM, Booklicious Malang, Yayasan GSKB, Indonesia Medika, FIM (Forum Indonesia Muda) Reg. Malang, Malang Citizen, dan beberapa komunitas blogger.

Pelajaran 1: berbicara

Berbicara itu mudah, jika pada diri sendiri. Tapi sulit, jika di depan orang.

Hehe, mungkin semua sepakat ya? Saya termasuk orang yang malu atau kesulitan jika bicara di depan orang. Padahal setelah saya pelajari, berbicara di depan orang/umum, adalah salah satu keterampilan yang harus dimiliki oleh tiap orang.

Apalagi bagi orang yang bermimpi menjadi pemimpin, minimal harus memiliki keterampilan ini. Pemimpin apa pun, terutama skala rumah tangga. Jadi bagi kamu yang belum menikah pelajari keterampilan ini ya. Penting banget untuk kita miliki, apalagi bagi cowok, sebagai pemimpin keluarga.

Terkait pengalaman berbicara ini, saya belajar dari aktif di organisasi. Seperti saat rapat anggota, presentasi ide, hingga menjadi ketua pelaksana suatu kegiatan. Ya walau tentu, saya masih kalah dengan beberapa teman lain, yang mereka sudah aktif organisasi sejak SMA/SMK.

Pernah saat itu, saya diejek teman karena bicaranya mbulet (gak to the point). Awalnya agak bagaimana begitu ya, merasa terganggu. Tapi saya timbang-timbang lagi, kenapa saya hiraukan ini. Lebih baikkan saya pusatkan diri untuk berproses.

Rintangan awal yang harus dimaklumi semua yang ingin maju, adalah ‘ejekan/cacian.’ Ya, ini sudah sunnatullah. Jadi, disenyumin saja, dan kita nikmati prosesnya.

Alhamdulillah sekarang, saya tidak lagi takut maju/bicara di depan umum. Buat vlog juga tak lagi malu. Walaupun begitu, sekarang saya masih belajar bagaimana bicara yang efektif dan mengena.

Namanya juga hidup, di atas langit masih ada langit. Tak ada alasan, untuk tidak belajar. Hidupkan sejatinya belajar, yakan?

Pelajaran 2: melatih emosi

Organisasi itu, bertemu dengan orang baru yang beda dalam banyak hal. Tapi harus satu tujuan.

Alhasil pertentangan satu sama lain, kadang tidak bisa dielakkan lagi. Tapi, tujuan harus diselesaikan bagaimana pun caranya. Itulah seninya di organisasi. Baik organisasi intra dan ekstra, mengajarkan tentang mengelola emosi.

Emosi boleh dikeluarkan, tapi tak semua hal harus dikeluarkan. Ada kalanya harus sabar, melihat teman perjuangan yang emosi. Ada kalanya harus bergerak sendiri, ketika teman acuh tak acuh.

Semua ini mengajarkan tentang prinsip. Prinsip hidup harus tetap dipegang, dan dijaga. Niatan tulus terjun diorganisasi pun harus tetap dirawat, agar apa pun yang dilakukan memberikan manfaat, bukan sebaliknya.

Tapi memang, ketika menikmati liku, dan kita melihat sudut yang lain. Maka senyum dan syukur akan terucap dari mulut bersumber dari hati.

Pelajaran 3: kontribusi

Apa yang bisa kamu berikan pada organisasi?

Pertanyaan ini, yang membuat kita produktif untuk berkontribusi pada organisasi yang kita anut. Enaknya di organisasi, kita bisa mengeksplorasi sesuatu yang kita belum kuasai/sudah kuasai.

Terpenting tidak takut untuk berkontribusi. Tidak takut untuk menyampaikan pendapat. Tidak takut untuk melakukan sesuatu yang dibisa. Misal nanti kontribusi kita tidak dianggap yang lain misalnya.

Ya… gak usah dihiraukan. Fokus saja, nikmati, dan terus perbaiki niat. Bahwa apa yang dilakukan ini bukan untuk orang lain, melainkan untuk beribadah padaNya. Maka pasti, apa pun yang terjadi, kita akan tetap berkontribusi.

Pelajaran 4: berubah

Waktu terus berputar, masa terus berubah. Kita?

Ya kita harus terus berubah, perbaiki diri. Jika tidak, tentu akan tergerus oleh zaman. Aktif di organisasi terbukti membuat diri terpacu untuk selalu memperbaiki diri. Pertemuan dengan teman yang berbeda, memiliki ilmu, pemahaman, dan kedewasaan yang tak sama. Membuat diri selalu merasa bodoh, dan tak lelah untuk belajar.

Salah satu perubahan yang terasa dan saya terapkan hingga sekarang, yaitu adaptasi. Keterampilan ini sangat penting dalam kondisi apa pun, terutama saat saya memasuki lingkungan baru.

Selain adaptasi, pelajaran yang saya dapatkan salah satunya adalah tentang menikmati proses. Ya nilai yang harus selalu ditanamkan dalam diri.

Pelajaran 5: visioner

Mungkin jika tak bergabung di organisasi, saya tidak mengerti pentingnya berpikir jauh ke depan. Padahal visioner adalah sesuatu yang penting, untuk dimiliki setiap manusia.


Sebenarnya manfaat organisasi itu banyak sekali, tapi semua kembali pada masing-masing orang. Seberapa besar minat dan kontribusinya, berhubungan erat dengan yang didapatkannya.

Jangan sampai kamu ikut organisasi hanya untuk dapatkan sertifikat atau pengakuan saja! Kalau itu niatanmu, pastikan kamu akan rugi dan menyesal.

Tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat. Tak ada hal yang perlu untuk disesali, karena semuanya pasti indah dan baik untuk saya. Hanya saja apabila sekarang saya belum tahu maksudnya, maka esok, semoga Allah membukakan hikmah itu, agar saya paham.

Salah satunya lewat tulisan bertema ‘Alhamdulillah 7 Tahun,’ saya mencoba melihat sisi lain perjalanan kuliah saya. Semoga bermanfaat buat pembaca, terkhusus buat saya pribadi.

Terima kasih telah bersedia untuk membaca. Terima kasih kepada rekan-rekan yang tidak mampu saya sebutkan satu persatu, yang telah banyak membantu-menginspirasi. Selamat berkarya lewat organisasi.

4 KOMENTAR

  1. Alhamdulillah untung saat mahasiswa saya juga ikut organisasi dan komunitas. Memberikan banyak manfaat juga walaupun sebelumnya tidak tertarik sama sekali.

    Btw, selamat atas kelulusannya Mas Sandi. Semoga lancar terus buat karir dan impian di masa yang akan datang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here