menikah sandi iswahyudi

Sesungguhnya ini bukan perjalananku, melainkan perjalanan dengan pertolonganNya.

Aku tak malu untuk menikamu dengan sederhana.

Karena aku tahu, bahwa ternyata engkau juga menyukainya.

Alhamdulillah, aku bersyukur padaNya, karena telah mempertemukan diriku denganmu.

Aku juga tak malu mengetuk pintu rumahmu dengan membawa pesan aku ingin menikahimu.

Lantaran aku sadar, menikah adalah kata terhormat daripada harus tersakiti oleh semu.

Tentu sebelum berangkat, aku telah siapkan diri untuk diterima atau ditolak.

Aku juga telah siapkan jawaban kenapa aku ingin menikahimu dengan cepat hanya dalam waktu dua bulan terhitung sejak bertukar CV melalui murrobi (mak comblang).

Sadar bibir ini tak terlahir seperti motivator andal kek Jamil Azzaini.

Atau selincah MC kondang, Irfan Hakim.

Tapi yakin akan doa yang diucapkan oleh Nabi Musa as ketika menemui Firaun.

Do’a ini terdapat pada firman Allah Ta’ala,

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

“Musa berkata, Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku” (QS. Thoha: 25-28).

Allah akan menolong hambaNya yang yakin padaNya. Dia pasti tak akan menyia-nyiakan hambaNya.

Alhamdulillah walau saya tak biasa ngobrol panjang, pertemuan itu melahirkan kesepakatan untuk saya langsung lamaran plus akad pada Jumat (24/8) di Bandung.

Alhamdulillah, Allahu Akbar, jika bukan karena sifat Rohman RohimNya, mustahil bisa mempersuntingmu.

Perjalanan ke rumahmu saja, aku diantar angkot, gojek, terus jalan kaki.

Ya mungkin inilah yang disebut dengan jodoh. Allah mudahkan segala sesuatunya. Bila bukan karenaNya, pasti tak mungkin terjadi. Dalam waktu yang terhitung cepat, jari manismu berbalut cincin emas, tanda bahwa engkau telah ada yang memiliki.

Tahukah pada prosesnya, aku terus lantunkan doa, memohon padaNya agar dilancarkan, dimudahkan, diberkahi hingga dicukupkan olehNya.

Kenapa?

Teringat perkataan saudara (yang sekarang jadi tim kerja) bahwa jangan tinggalkan doa padaNya!

Sebab Allah yang berkuasa pada segala sesuatunya. Dan doa mampu mengubah takdir. Doa senjatanya kaum Muslim.

Doa bentuk kerendahan diri serta ketinggian Sang Kholiq. Ia memberikan ketenangan dan kenyamanan. Alhamdulillah, terima kasih akhi atas nasihat berharganya itu.

Menikah sederhana karya

Adalah bentuk kemasan memasuki gerbang kehidupan dengan jalan karya.

Aku ingin mengajakmu dalam karya. Tak hanya sekadar hidup bersama berdua. Tapi lebih dari itu. Berkarya bersama, bahkan mengajak yang lain, dengan tujuan Allah dan RasulNya.

Ketika tujuannya itu, tak ada lelah dalam menjalani hidup. Tak akan habis cinta dan kasih sayang.

Ia akan terus membara tanpa henti. Kenapa? Karena tujuan kita ke pusat cinta. Bahkan, ia akan abadi hingga insya Allah bertemu dengan wajahNya yang mulia di surga. Aamiin.

Menikah sederhana karya, merupakan dua konsep tentang berkarya dengan sederhana. Dengan segala hal pemberian dariNya.

Menysukurinya kemudian mengubahnya menjadi sebuah karya. Indahkan?

Ya dibayangkan saja sudah terasa indahnya, apalagi jika sudah diterapkan? Semoga Allah ridhoi, berkahi, lindungi serta bimbing selalu kita semua. Aamiin

Ada begitu banyak makna yang muncul dari kata “sederhana.” Tinggal kita pandai melihat segala sesuatunya dari bermacam sudut.

Mata, kaki, telinga, dan tangan kita masing-masing dua. Kenapa? Salah satu hikmahnya agar kita tak hanya melihat sesuatu dari satu sudut pandang saja. Iyakan?

Kesimpulan

Menikah bukanlah sebuah akhir dari perjalanan karya. Melainkan menjadi awal untuk melompat lebih tinggi lagi.

Karena tak sendiri lagi dalam berkarya. Jika dulu hanya seorang diri yang berjalan. Sekarang dan ke depan, insya Allah, akan berkarya minimal denganmu. Alhasil inspirasi-inspirasi itu akan semakin deras.

Beberapa jam sebelum akad, diri ini semakin sadar bahwa memang segala sesuatunya adalah karenaNya.

Tak mungkin akan dimudahkan bila Dia tak berkehendak.

Tak mungkin akan dipertemukan bila Allah tak izinkan.

Ha… Perjalanan merantau dari Malang ke Bandung untuk SSG 35 Daarut Tauhiid.

Bertemu dan berkenalan dengan banyak teman, salah satunya akhi Dany. Kemudian berkenalan lagi dengan akhi Iip.

Kita bertiga bekerja bersama di Kampung Qur’an MataQu, Puncak Bogor.

Perjalanan itu, memberikan banyak hikmah, ilmu, hingga dorongan untuk segera menikah ^_^.

Beranikan diri berkenalan, ternyata ta’aruf dengan sesama SSG 35 yaitu dirimu. Allahu Akbar.

Proses yang cukup singkat, dua bulan lamanya. Allah persatukan kita dipelaminan. Alhamdulillah.

Jelas jika bukan karenaNya, tak mungkin diri ini bisa memasangkan cincin di jari tengahmu itu.

Aku terdiam dalam sunyi.

Tersadar, semua ini ada karenaNya. Proses yang panjang dan berliku, mengajarkan banyak hal. Salah satunya, jangan pernah sia-siakan kesempatan ini!

Syukuri dengan karya. Syukuri dengan manfaat.

Tak ada sombong. Tak ada hebat. Lantaran semua ada karenaNya. Dan sewaktu-waktu semua bisa hilang, bila Allah berkehendak.

Ya Rabb, dengan segala sifat Rohman dan Rohimmu, bimbing, jaga, berkahi, ridhoi keluarga kami serta seluruh kaum Muslimin.

Jadikan kami bagian dari mereka yang mencintai dan berjuang di jalanMu.

Kumpulkan kami dengan orang-orang baik, dalam keadaan baik, dan di tempat yang baik. Serta matikan kami dalam keadaan baik, di tempat yang baik, dan bersama orang-orang baik. Aamiin.

Terima kasih buat semua atas doa, dorongan, ilmu, dll sehingga saya sampai ke titik ini. Jazakumullah Khoiron.

Semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan. Aamiin.


Ditulis di Masjid At-Taqwa KPAD Bandung, bus menuju Leuwi Panjang, diselesaikan di rumah teteh Heni pada 2.02 WIB (24/8).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here