Jika kuberjalan di kota dengan pernak-pernik kebisingan dan kepenuhan motor serta mobil, teringat dibenak, kampung yang berlokasi di puncak.

Jika kulihat udara yang telah berevolusi dengan keringat jalanan. Teringat dihidung, segarnya udara saat pagi menyapa.

Telinga pun merengek ingin berlama-lama di tempat itu. Karena dia telah jatuh cinta ditembak syair-syair hewan-hewan dan tetumbuhan.
Merdu dan syahdu.

Kaki yang berjalan lincah ditanah basah juga demikian. Tak ingin lepas bergandengan dengan tanah yang diinjak oleh para penghafal Alquran.

Terus terbayang-terbayang pada mata, akan pesona yang tak bisa dilukiskan dikawasan itu.

Hati terus berkata padaku, “Semoga engkau dan mereka yang sefibrasi di tempat ini. Berlama-lama, membangun peradaban dan berjihad di jalanNya.”

Kuterhenti disenja yang akan berganti malam, kemudian berbisik, “Allah tempatkan dirimu di sini, pasti tak sia-sia. Sadarlah!”

Kulihat sekitar, sepanjang mata memandang, daerah ini akan jadi tempat yang penuh dengan keberkahan, insya Allah.

Kenapa? Karena tanpa henti, tiap hari lantunan ayat-ayatNya dibaca, dihafal dan diamalkan.

Inilah Kampung Qur’an MataQu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here