Bila jarak memisahkan, maka masakan itu menjadi salah satu perekat yag tak pernah putus. Rindu, dan masalah rasa adalah hal yang tak mudah untuk.

Bila jarak memisahkan, maka masakan itu menjadi salah satu perekat yang tak pernah putus. Rindu, dan masalah rasa adalah hal yang tak mudah untuk.

Alhamdulillah, hari ini memasuki hari Idul Fitri kedua. Saya yang biasanya merayakan di Kota Batu bersama keluarga besar, untuk tahun ini harus bersabar di tanah rantau Kota Bandung, bersama istri, anak yang belum berumur satu bulan, mertua dan keluarga di sini.

Rindu, ketika melihat informasi tentang mudik dan ingin balik serta menyesap kembali bau khas Kota Batu dan dapur sang ibunda.

Namun apa daya, kami harus bersabar sejenak, sampai sikecil, Aisyah siap untuk dibawa traveling jauh.

Salah satu yang kurindu saat Idul Fitri adalah masakan ketupat sang ibunda. Beliau membuat ketupat dan lontong sendiri, dengan kuah kuningnya, lauk tempe, tahu, kentang yang dipotong dadu dan kadang ada tambahan seperti telor, udang/ayam.

Tahukah proses pembuatan ketupat dan lontong membutuhkan waktu yang panjang, lebih dari 2 jam lamanya. Mungkin inilah salah satu yang membuat tiap gigitan masakannya terasa nikmat. Sebab ada sisi kerja keras dan kesabaran dalam proses pembuatan kuliner satu ini. 

Itu adalah masakan favorit yang selalu saya tunggu-tunggu. Biasanya saya ambil lontong satu dengan lauk dan kuah yang banyak. Hehe… soalnya kuah buatan ibu nikmat. Banyak tambahan rempah-rempah.

Dan biasanya pada hari itu, saya gak hanya makan sekali, tapi lebih.

Sekarang, Opor ayam Bandung

Sekarang saat di Bandung, belum merasakan seperti itu. Tapi alhamdulillah sudah ada gantinya, yakni opor ayam dengan kuah putihnya ditemani dengan ketupat buatan sang mertua. 

Alhamdululillah…

Beda memang antara opor ayam mertua dan masakan ketupat Idul Fitri buatan ibu. Namun ada kesamaan, yakni cinta.

Mereka berdua membuat tentu dengan cinta yang besar untuk keluarga tercinta. Semoga cinta itu Allah balas dengan kebaikan berlimpah dunia akhirat. Aamiin.

Teringat perjuangan istri ketika membersamai anak kami, Aisyah, begitu besar dan luar biasa.

Kira-kira seperti itulah perjuangan orangtua kita. Hem…

Kita sebagai suami atau anak, harus selalu bersyukur dan membalasnya dengan kebaikan dengan hadirnya ibu atau istri yang membersamai. Itu adalah salah satu nikmat besar dariNya.

Semoga esok, saya dan keluarga bisa merasakan kembali masakan ketupat ibu ^_^. Aamiin.

Kita tak akan pernah bisa membalas semua kebaikannya. Walau hanya untuk sepiring opor ayam atau masakan ketupat mereka.

Selamat berlebaran teman-teman semua. Salam buat keluarga ya ^_^


Untuk referensi resep opor ayam, saya sajikan salah satu contohnya dari channel Rudy & Sahabat, silakan ditonton!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here