karya menulis blogger sandi iswahyudi
Ketika diri sudah terjun dalam zona karya. Jangan setengah-setengah, masuklah secara penuh!

Bismillah

Tulisan ini hadir, saya hadiahkan khusus buat Eka, pengingat diri sendiri, dan umumnya untuk seluruh warganet yang mereka mulai terjun ke zona karya.

Zona yang hanya bisa dimasuki oleh mereka yang berani mencoba, praktik, dan siap menghadapi kegagalan. Zona bagi mereka yang siap untuk membagikan ilmu dan pengalaman dalam kemasan karya.

Jika saudara termasuk di antara mereka yang akan masuk/baru masuk di zona karya. Insyaa Allah tulisan ini akan bermanfaat bagi saudara.

Namun jika saat ini, saudara sudah ditahap, sudah lama berkarya, tak perlu membaca tulisan ini, supaya waktu saudara tidak terbuang dengan percuma.

Sip?

Langsung masuk ke intinya ya 😊

***

“Ya Allah, Masya Allah, Alhamdulillah bahagia banget,” itulah kalimat yang terucap dari Eka Widiya Sari via grup whatsapp, gadis dari Panti Asuhan Reverside, Malang, pemenang lomba menulis yang diadakan oleh Yayasan GSKB.

Bagaimana saudara mendeskripsikan bahagia bangetnya Eka?

Sejatinya kalimat itu tak mampu menjelaskan secara gamblang bagaimana perasaan Eka, saat tulisan reportase pertamanya dengan satu foto besar tentang dirinya, terpampang di rubrik citizen reporter Harian Surya.

Begitupun dengan perasaan orang-orang terkasih saat tulisan dan wajah Eka ada di Harian Surya, untuk pertama kalinya.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, adalah kalimat yang pas mengawali kebahagiaan ini.

Kalimat yang sebaiknya selalu diucapkan oleh seorang muslim, sebagai bentuk rasa syukur padaNya.

Saya juga merasakan bahagia banget, saat tulisan pertama kali saya terbit di media cetak, Harian Surya, kemudian saya kabarkan ke ibu.

Jadi, Jumat (29/12), saya dapat kabar membahagiakan dari editor Harian Surya, Ibu Tri Hatma, beliau men-tag saya dua kali di facebook, sebab karya saya berjudul Diary Perjalanan, Agar Jalan-jalan menjadi Sangat Menyenangkan dan karya Eka Widya Sari berjudul Menyelami Gelombang Keunikan Sade terbit di Harian Surya.

Tulisan terbit di versi cetak juga, pada Sabtu (30/12)

Saya pun langsung share link ke grup whatsapp. Paginya, Sabtu (30/12) saya beli koran di Kota Batu, seharga Rp 2.000,-, mendapati tulisan saya dan Eka bersanding dalam satu halaman.

Alhamdulillah…

Tulisan dengan tema sama tentang Lombok. Malam harinya, setelah Eka tahu versi cetak dari tulisannya dia membalas dengan kalimat, “Ya Allah, Masya Allah, Alhamdulillah bahagia banget.”

Latar belakang singkat tentang Eka

Di sini saya tulis latar belakang singkat tentang Eka. Supaya saudara tidak bingung 😊.

Jadi Eka salah satu adik panti yang sebelumnya mengikuti lomba menulis yang diadakan oleh Yayasan GSKB.

Di mana dari lomba tersebut diikuti oleh lebih dari 90 karya adik panti asuhan se-Malang Raya. Karya-karya yang terseleksi, kemudian dibukukan dengan judul, “Aku Bahagia.”

Eka kemudian menjadi pemenang juara satunya, dan berhak mendapatkan hadiah liburan ke Lombok selama empat hari.

Sebelum liburan Eka dan Dela—juara dua dari lomba menulis juga—diberi bekal tentang menulis reportase dan public speaking.

Saat di Lombok, mereka ditantang untuk menulis reportase selama di Lombok untuk dikirim ke Koran Harian Surya.

Teringat tulisan pertama saya yang lolos di Harian Surya

Setelah tahu jika karya Eka lolos di Harian Surya, diri ini Alhamdulillah bersyukur banget. Allah mudahkan dia untuk menggerakkan diri, berani memasuki zona yang belum dia tahu.

Alhamdulillah.

Terus saya jadi teringat akan perasaan saya dahulu mengetahui tulisan dan foto saya nampang dengan gratis di koran, hehe.

Bukan karena tindak kriminal—naudzubillah—melainkan karya.

BACA JUGA: Kreator dan Sampah. Untukmu yang Sedang Galau untuk Berkarya

Akhirnya saya pun berkeinginan untuk menulis sedikit kisahnya dan motivasi berkarya di blog. Tulisan itu sekarang sedang saudara baca.

Menulis adalah bagian dari anggota tubuh

Disadari atau tidak, menulis adalah bagian dari tubuh. Tiap anggota tubuh menulis dengan perintah Allah.

Jika saat ini misalnya, tulisan saudara diterima di media cetak/online, ada beberapa hal yang perlu saudara lakukan dan sadari.

Pertama, bersyukurlah

Bersyukurlah saudara, masih diberi kesempatan oleh Allah untuk berkarya.

Bersyukurlah saudara, masih dibimbing oleh Allah untuk menggerakkan tubuh untuk menulis.

Sebab di luar sana, masih banyak orang-orang yang tak gunakan kesempatan yang Allah berikan untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat dan produktif.

Padahal tulisan adalah salah satu cara untuk mendapatkan ridhoNya. Salah satu cara untuk berjuang di era sekarang.

Kedua, tanda bisa

Karya pertama kali saudara yang terbit di cetak/online, membuktikan jika saudara mampu untuk melompat lebih tinggi lagi. Saudara bisa.

Sekarang, buang segala pikiran negatif dalam diri, yang membuat saudara tidak berani untuk melompat lebih jauh. Tidak berani untuk melangkah.

Membuat saudara, lebih memilih menjadi penikmat, daripada penghasil konten.

Ketiga, jadilah akar

Akar, menjadi fondasi pada pohon besar untuk bertahan dari ragam gempuran alam.

Akar yang membuat pohon tetap berdiri tegak menghasilkan ragam manfaat bagi sekitar.

BACA JUGA: Saya Temukan Makna Sharing & Traveling di Rona Nusantara ke-7

Maka karya pertama ini jadikanlah akar. Jadikan ia fondasi untuk saudara melompat lebih tinggi lagi.

Jadikan karya pertama ini sebagai pijakan untuk menuju tangga tertinggi. Sehingga jika nanti dalam proses berkarya misalnya saudara gagal, saudara tak akan putus asa.

Saudara akan tetap berada di jalan penghasil karya.

Keempat, kenikmatan yang dibuat

Kenikmatan itu selain bisa didapat dari luar, juga bisa kita buat. Salah satunya dengan menulis.

Menulis terbukti telah memberi kedamaian bagi siapa saja yang rela merangkai huruf demi huruf menjadi kata, kemudian menjadi kalimat. Kalimat bertransformasi menjadi karya utuh.

Bila saudara menulis menghadirkan hati sejak awal, mengawali dengan bismillah, maka insyaa Allah kenikmatan itu akan didapat.

Syaratnya, tulislah hal yang positif dan bermanfaat. Maka tulisan itu akan memberi bunga-bunga kedamaian pada diri.

Niatkan menulis bukan untuk orang lain, melainkan untuk diri sendiri dan Allah. Sebab jika untuk orang, maka pasti tulisan itu akan ada yang mencibir. Ketika tulisan dicibir, bisa berdampak pada penurunan motivasi/bahkan sampai pada tak mau lagi berkarya.

Sedangkan jika niatan menulis untuk Allah, maka ketika ada orang yang mendukung/mencibir tak jadi soal. Tetap berjalan, sebab yang dituju adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Kelima, berenang sekalian

Jangan setengah-setengah, jika sudah basah, sekalian berenang!

Jika saudara tulisannya sudah pernah terbit di media cetak/online, sekalian saja dalami dunia tulis-menulis. Jangan setengah-setengah, biar gak sia-sia!

Saya dahulu setelah tulisan reportase terbit di Harian Surya, saya terus tingkatkan diri. Saya kirim tulisan ke media skala nasional. Terus belajar resensi buku. Selanjutnya saya membuat blog, buzzer, hingga sampai saat ini bekerja dibagian sosial media.

Saudara pun sebaiknya begitu, terus dalami dan konsisten di jalan penulis.

Keenam, praktik dan nikmati prosesnya

Terakhir, praktik dan nikmati prosesnya.

Apa pun itu jika tak praktik, pasti hanya akan jadi angan. Nikmati prosesnya. Bermain-mainlah dengan proses, hasil hanyalah bonus.

Jika saudara menikmati proses, bersiap-siaplah untuk mendapatkan hasil yang tak terduga.

Siap?

Begitu saja tulisannya untuk kali ini, semoga bermanfaat buat semuanya, khususnya bagi diri saya.

BACA JUGA: Saya Berjenggot, Saya Muslim, Tapi Saya Bukan Teroris

Maaf jika ada sesuatu yang sengaja atau tidak, menyinggung saudara. Tak ada niat dalam diri saya untuk menyinggung. Saya hanya berniat untuk berbagi saja.

Selamat berkarya. Selamat menikmati karya 😊

Ingat selalu, tulislah selalu karya-karya positif dan manfaat! Semoga ia akan menjadi penguat ditimbangan amal nanti. Aamiin

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here