angkutan kota terminal kota batu sandi iswahyudi
Terminal Kota Batu

Romantisme Angkot yang Mulai Memudar — Lama aku bersama angkot (angkutan kota). Ragam waktu telah aku rasakan. Siang, pagi, sore, hingga malam aku pernah bersama transportasi favorit ini.

Entah era ini apa masih bisa dikatakan favorit. Rasa-rasanya sih tidak, karena banyak orang yang lebih memilih naik mobil atau sepeda motor pribadi. Yang maaf, menjadi salah satu penyebab macet, hehe 🙂 .

Romantisme itu bukan hanya soal keindahan. Tapi juga tentang sesuatu yang dikata orang jelek, bagi kita baik.

Romantisme di angkot itu banyak sekali. Seperti tentang rasa yang mudah menyebar. Bila ada rasa marah/gak mood di angkot, penumpang lain, bisa terpengaruh dengan rasa ini.

BACA JUGA: 100 Hari Keliling Indonesia: Percayakah Anda Indonesia itu Indah? Bacalah Buku Ini!

Yang asyik lagi seperti malam kemarin (11/12). Atau beberapa momen di malam sebelumnya. Ada beberapa penumpang yang sepertinya mereka belum terbiasa naik angkot malam.

Alhasil ketika menanti lama angkot tidak berangkat-berangkat, dikarenakan penumpang belum penuh betul. Mereka komplain. Mereka marah pada sopirnya. Menginginkan cepat jalan.

Tapi marah bukan dihadapan sopirnya langsung. Kalau marah sama sopirnya langsung, pasti mereka akan dimarahi balik 🙂

Tahukah jika sopir angkot ini harus mengantre lama?

Bahkan saya pernah mendengar jika mereka dapatkan antrean pukul 6 malam harus sudah antre sejak siang.

Hayo lamaan mana yang antre? Apa gak kasihan, kalau kita naik angkot, terus agak menunggu agak lama dikit, kita sudah marah-marah.

BACA JUGA: Daftar Lengkap Jalur Operasi Angkot di Kota Batu dan 4 Tips Menaikinya

Maka dari itu sangat tidak pas. Jika kita tidak menghargai. Jika Anda sebagai penumpang yang tak sabar menunggu.

Santai saja bro, sopir juga mengingkan cepat jalan. Tapi kalau angkotnya belum penuh? Ya kita harus sabar, dan bahkan menikmatinya.

Ya kalau misal ingin cepat, gak mau berdesakan, dan cepat sampai. Ya sebaiknya jangan naik angkot, naik ojek atau taksi saja.

Kan lebih enak itu. Tapi tentu harga lebih mahal.

Terus bagaimana menikmati angkot dan apa romantisnya?

Jika ada di antara Anda sedang/akan naik angkot. Tidak ada salahnya Anda mengubah persepsi yang membosankan menjadi mengasyikkan.

Ketika Anda bosan menanti misalnya, Anda bisa melihat sekitar. Jika Anda suka foto, momen-momen di angkot dan sekitarnya sangatlah menarik untuk diabadikan.

BACA JUGA: Buku Mindset Carol S. Dweck, PH.D: Membuat Anda Sukses dengan Memahami Kekuatan Pola Pikir

Jika Anda suka menulis, diamlah sejenak, tutup mata dalam beberapa saat. Kemudian tulislah bayangan yang terdapat dalam benak Anda. Bisa dibuku atau lebih enak smartphone.

Jika Anda suka buku. Lebih enak baca buku. Anda akan mendapati waktu akan berlalu begitu cepat.

Jika tidak suka seperti yang saya sebutkan di atas, Anda bisa tidur melepas lelah. Hehe…

Ini lebih baik, daripada Anda menghina dan semacamnya. Anda tidak akan dapatkan kedamaian dan kenikmatan, malah sebaliknya.

Membuat orang terganggu.

Terakhir, saya menyadari dunia semakin berkembang. Kita menginginkan sesuatu yang cepat, efisien, dan terjangkau. Namun semua itu tidak akan bisa menggantikan romantisnya ketika Anda naik angkot.

Percaya? Anda wajib tidak percaya. Artinya, Anda harus mencobanya sendiri.

2 KOMENTAR

  1. Aku masih sangat suka naik angkot Mas sandi. Nyantai sambil ngantuk. Tapi nyeseg juga kalo angkotnya leletna setengah mati.. Harusnya motoran seperempat jam sampe, eh ini harus sejam. Jadi kalo urusan antar jemput. no deh naik angkot. Untukk sekedar ngalamun atau males macet, say yes to angkot. Waspada copet jugak 😀

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here