Rona Nusantara 7, Sandi Iswahyudi. Ini ceritaku. Mana ceritamu?

Inilah salah satu perjalanan yang membuat makna sharing dan traveling dalam diri berubah.

Entah mulai dari mana saya harus menulisnya. Banyak pelajaran yang saya dapatkan dari mengikuti kegiatan Rona Nusantara yang diadakan oleh Rumah Zakat di Kampung Leles, Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten pada Jumat-Ahad (24-26 November 2017).

Bismillah,

Saya mulai dari ucapan itu, agar semoga tulisan ini abadi untukku, serta bermanfaat bagi setiap orang yang membacanya.

Aku berharap, kamu, bisa mendapatkan banyak pelajaran dari tulisan dan foto-foto yang dihasilkan.

Saranku, baca tulisan panjang ini dari awal hingga akhir. Insyaa Allah kamu akan dapatkan banyak manfaat.

Sip?

Mari kita mulai.

Tulisan saya bagi tiga bagian, sebab panjang tulisan total 2.600+ kata. Saya pisah gini, supaya kamu tetap nyaman untuk membacanya.


Perkenalan dengan Rona Nusantara

Insyaa Allah perkenalan saya dengan Rona Nusantara dimulai dari pertemanan saya via facebook dengan Mas Yazid, alumni FIM (Forum Indonesia Muda) sekaligus program manager di Relawan Nusantara, Rumah Zakat.

Saat itu, saya diinformasikan oleh beliau tentang pembukaan acara Rona Nusantara di daerah Yogyakarta. Sayangnya saya belum bisa daftar.

Alhamdulillah baru pada Rona Nusantara ke-7, saya dapat kesempatan untuk mengikutinya.

Sebelum memastikan diri ikut, saya menonton video dokumentasi kegiatan Rona Nusantara sebelumnya di youtube.

Dan… setelah melihatnya dari satu video ke video yang lain, keinginan untuk mengikutinya semakin kuat.

Bukan karena kuliatas videonya yang bagus, tapi memang disebabkan oleh pesan yang terkandung dalam makna sharing and traveling. Jika kamu membuka link Rumah Zakat tentang Rona Nusantara, maka kamu akan menemukan kata yang membuat diri serasa ingin ikut, yaitu desa-desa terpencil di Indonesia.

Sebelum lanjut, baiknya kamu lihat video dokumenter di bawah ini:

Bagaimana menurut pendapatmu?

Apakah kalimat ini muncul dibenakmu setelah melihat videonya?

Bagaimana rasanya hidup sehari di desa terpencil ya?

Apa saja pelajaran yang saya dapatkan jika mengikuti Rona Nusantara ini?

Apakah saya mampu berbuat sesuatu untuk saudara-saudara saya di desa-desa terpencil itu?

Sepertinya menarik, konsep sharing and traveling-nya. Gak hanya bersenang-senang, melainkan berbuat sesuatu untuk daerah yang dituju.

Jika iya, kemungkinan besar, kita memiliki kesukaan yang sama, yaitu traveling, dan berbuat sesuatu untuk daerah yang ditinggali.

Perjalanan ke Bandung, berlanjut ke Masjid Agung Sukabumi sebagai titik poin

Akhirnya, saya pun mendaftar Rona Nusantara 7, dan inilah catatan perjalanan, hikmah, dan pelajaran yang saya dapatkan. Saya abadikan sejak hari pertama di Bandung, hingga saya berpisah dengan Desa Sawarna yang memesona.

***

Kusiapkan segala sesuatunya untuk menuju ke Bandung. Membawa sepatu, alat tulis, buku bacaan, dan ragam keperluan dengan tas gunung besar berwarna dominan biru. Tak lupa tas kecil, untuk menaruh alat-alat yang sering dibutuhkan.

Saya tak langsung ke titik kumpul, yaitu Masjid Agung Sukabumi. Melainkan saya pergi ke basecamp Komite Relawan Nusantara dahulu, di Bandung untuk berangkat bersama-sama dengan peserta Rona Nusantara lainnya.

Bertahan selama 22 jam (8.10 WIB s/d 6.30 WIB) lebih di atas Kereta Api Ekonomi Pasundan menuju ke Stasiun Kiaracondong, Bandung.

Saya memotret penumpang kereta yang sedang asyik menikmati pemandangan di luar kereta. Pemandangan indah alhamdulillah selalu tersaji saat saya naik kereta api ke Bandung

Ha 22 jam? Yap.

Kalau normal tak ada hambatan, perjalanan Surabaya-Bandung, 15 jaman. Namun kemarin dikarenakan ada kendala di jalur daerah Tasikmalaya.

Kereta yang saya tumpangi pun, baru sampai pukul 6.30-an di stasiun. Apakah lelah?
Jelas lelah merayapi tubuh ini, berjam-jam duduk dan tidur di dalam kereta.

Tapi alhamdulillah, saya tak lelah pikiran. Saya mengontrol diri agar tak kecewa, sedih, dan semacamnya akibat lingkungan.

Pikiran saya fokus pada petualangan yang akan saya lalui, teman-teman baru, serta hikmah yang besar dibalik musibah ini.

Sesungguhnya musibah, cobaan, atau rintangan merupakan kepastian dalam hidup. Diri ini tak mampu lepas/lari dari semua itu. Tapi diri ini punya pilihan, antara menerima dengan berprasangka baik pada Allah atau tidak.

Lewat cara itu, tubuh yang lelah teratasi, alhamdulillah.

Penting untuk diingat, lelah pikiran/perasaan itu lebih berat daripada lelah tubuh. Jika lelah tubuh, dalam kondisi normal, bisa sembuh dalam hitungan hari.

Sedangkan lelah pikiran/perasaan biasanya lebih dari itu. Dan penyembuhannya tak mudah, jika diri sendiri tak yang menyadarinya.

Akhirnya kereta api pun terhenti di Stasiun Kiaracondong. Kami dapatkan informasi, dari pegawai KAI, jika masing-masing penumpang akan mendapatkan makanan dan minuman, sebagai ganti rugi.

“Alhamdulillah,” ucap saya saat masih di dalam kereta. Tapi, saat saya turun, ternyata saya dan beberapa orang yang saya temui hanya mendapatkan minuman.

BACA JUGA: Khusus Kamu yang Mau Praktik! Berikut Cara Agar Kamu Bahagia Setiap Harinya

La… makanan yang dijanjikan mana? ☹

Saya duduk, dan minum untuk melegakan tubuh dan pikiran.

“Alhamdulillah sampai Bandung,” ucap saya.

Kemudian saya kontak Mas Andre—pekerja di Komite Relawan Nusantara sekaligus peserta Rona Nusantara—untuk meminta alamat basecamp.

Jari beralih ke aplikasi Gojek, dan memasukkan alamat penjemputan dan alamat yang dituju. Beberapa menit kemudian saya dikontak pengendara dan kami langsung meluncur ke lokasi.

Sesampai di basecamp, saya disambut oleh Mas Andre, dan di ruang tamu sudah ada peserta lainnya, Bang Indra—asal Batam.

Beberapa menit kemudian datang peserta lain, Indah—wanita berjilbab, yang kerja di Bandung.

Dari perbincangan singkat, saya tahu kalau ternyata Mas Andre aslinya dari Kediri dan kuliah di Universitas Brawijaya, satu angkatan sama saya.

Sedangkan Bang Indra, seorang relawan yang aktif. Banyak pelajaran yang saya dapatkan dari beliau.

Beberapa menit kemudian, Agus—mahasiswa UGM, Yogyakarta, datang dengan tas ranselnya. Dia seorang mahasiwa yang keren, mendapatkan beastudi etos dari Dompet Dhuafa.

Lima orang tim dari Bandung sudah berkumpul di basecamp, tapi kami belum berangkat, disebabkan masih menunggu Lita—mahasiswa Malang, yang keretanya kena hambatan juga.

Akhirnya sampai pukul 11an, kami memutuskan untuk menjadi dua grup. Grup satu—saya, Bang Indra, Agus, dan Indah—berangkat duluan, dengan terlebih dahulu sholat Jumat di masjid area Terminal Leuwipanjang.

Sedangkan grup dua—Mas Andre dan Lita—menunggu kedatangan Lita, baru berangkat.

Sekitar pukul 1 siang, kami menuju bus MGI, yang tujuannya ke Sukabumi. Biayanya hanya Rp 30.000,-.

Tiga jam kemudian kami sampai di Sukabumi. Disambut dengan rintik-rintik hujan yang meneduhkan.

Kami menyapanya dengan senyum. Hujan tak seyogianya dicaci. Dia juga makhluk Allah. Hujan kita sapa dengan lembut akan memberikan ketenangan dan kedamaian hati.

Seolah-olah tiap butiran air yang jatuh ke bumi, perontok gelisah dan lelah dalam diri.

Sejurus kemudian kami sudah sampai di Masjid Agung Sukabumi. Tempat titik kumpul peserta Rona Nusantara.

Saya menaruh tas, mandi, dan melakukan sholat ashar.

Masjid penenang bagi kami. Lelah yang melanda luruh dengan ketenangan masjid. Cobalah untuk diam sejenak di masjid. Ajak diri untuk menikmati. Bila berontak, paksa diri untuk tetap di masjid. Sejatinya, fitrah tubuh rindu pada penciptanya. Dan masjidlah, rumah Allah itu.

Ternyata begini jalanan menuju Kampung Leles

20 KOMENTAR

  1. 👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍 Tiada perjalanan yg paling indah, melainkan membuat kau semakin dekat dengan_NYA.

  2. Masya Alloh momen Rona Nusantara 7 menjadi sebuah pertemuan serta perpisahan yang bermakna ketika kita bisa menikmati serta mengambil hikmah dari seluruh rangkaian kegiatan yg penuh makna disertai rintikan hujan yg merdu,hehe
    Sayonara Ms Sandi semoga perjumpaan kemaren dapat tersambung dikemudian hari.,
    Amazing ….

  3. Membaca tulisan ini mengingatkan saya kembali, saya benar-benar belum move on dengan kisah dibalik desa sawarna, banyak sekali kenangan dan pengalaman indah yang suatu saat akan saya ceritakan kembali sampe anak cucu, saya masih merindukan sambutan hangat masyarakat ketika kami datang, mulai dari anak-anak di SD Sawarna mereka mengingatkan saya akan masa kecil saya (maklum saya orang desa) dimana kalo kedatangan kakak-kakak dari kota menjadi suatu hal yang sangat menyenangkan selalu ditunggu apa yg akan mereka lakukan itulah pikiran saya ketika saya bertemu dengan adek-adek disawarna, seneng banget bisa share kesehatan ke adek-adek disana hal kecil sebetulnya hanya belajar cara mengosok gigi dengan baik tapi tidak semua anak bisa melakukannya dengan baik sehingga saat penerimaan materipun mereka menerima dengan baik karena mungkin ini adalah hal yg baru untuk mereka. Saya punya kenang-kenangan dengan anak kelas 4 SD Sawarna inih, saat saya mencoba memberikan pengetahuan tentang berbagai tugas profesi tenaga kesehatan dari mulai dokter hingga profesi saya sebagai Penyuluh kesehatan mereka sangat awam sekali dengan profesi saya sebagai Public Health.
    Saat saya menjelaskan dan mengulang-ngulang soal profesi inih saya coba tanyakan kembali untuk memastikan mereka sudah tau profesi kesehatan apa saja beserta tugasnya.

    👩 : adek-adek Dokter apa tugasnya?
    🙇: Mengobatin pasien ka.
    👩: Kalo perawat?
    🙇: Merawat pasien ka.
    👩: Kalo bidan?
    🙇: Menolong persalinan
    👩: Coba kalo SKM atau Kesmas apa tugasnya, sudah di ulang yaa ini nggk boleh salah lagi.
    Saya kasih kode karena mereka kebingungan lupa MEN…… MEN apa coba?
    🙇: MEN Cabut Nyawa kakak.
    👩: saya mencoba mundur sambil menghela nafas MENCEGAH penyakit adek-adek bukan mencabut nyawa.

    Serentak kami tertawa juga mas indra rekan mentor dkelas kami sambil saya bisikan “Mas indra dikelas ini saja profesi saya dikenal sbgai pencabut nyawa”

    Ituhlah banyak sekali hikmah yg saya ambil, bahwasannya wajar mereka tidak tau dengan profesi saya karena sekolah didesa kecil ini beda dengan Sekolahan di Kota yang mana ketika setiap pekan selalu ada Public Health yang datang ke skolah menyampaikan materi2 UKS, P3K, kita belajar seputar kesehatan sudah menjadi rutinitas wajib bagi sekolah di Kota, tapi tidak dengan SD Sawarna saya yakin mungkin hanya beberapa kali saja orang2 Kesehatan datang berkunjung dan itupun pasti ketika Imunisasi atau Vaksin.

    Saat siaga sehatpun saya berkesempatan untuk memeriksa Cek Metabolik di Masyarakat yang mana saya bener-bener kaget dengan hasil mayoritas pendudukan sawarna Tinggi Hypertensi usia masih muda-muda tapi sudah ada riawayat tinggi Hyipertensi.
    Saya selalu tanya kesetiap warga yang sudah saya periksa apa penyebabnya.
    Ternyata kalo saya simpulkan mereka kurang pengetahuan akan makanan bergizi itu seperti apa, makanan mereka masih alami mungkin tidak seperti makanan dikota yang kebanyakan Instan, hanya saja karena kurangnya pengetahuan kesehatan mereka tidak tau gizi seimbang itu seperti apa, jika kelebihan konsimsi makanan A akan berdampak seperti apa. Kemudian selain pengetahuan mereka tidak seperti orang kota yang selalu rutin setiap bulan itu harus cek metabolik minimal, untuk memastikan kadar kolestrol, gula, atw Hypertensi mereka normal tidaknya.
    Penduduk desa sawarna ini ke Yankes hanya saat mereka sudah merasa sakit, saya selalu terkesima dengan dokter siaga sehat pada saat itu, seolah dokter ini sudah paham betul yg mereka perlukan itu apa dokter jarang sekali memberikam resep obat melainkan lebih banyak berdiskusi tentang PHBS dan gizi seimbang. Saat itu saya mulai paham yang dibutuhkan warga sawarna tidak hanya obat melainkan Edukasi kesehatan.
    Saat di kota saya sering mengunjungi masyarakat kota dengan memberikan edukasi tak hanya gizi seimbang melainkan pencegahan-pencegahan penyakit namun tidak dengan penduduk desa sawarna, dengan akses jalan menuju ke desa sawarna ini cukup menyulitkan saya meyakini bahwa mereka hanya mendapatkan fasilitas kesehatan saat posyandu, saat di kota Lansia kita bina untuk menjadi lansia produktif sehat dan bahagia di POSBINDU namun tidak dengan desa sawarna, bahkan desa sawarna tidak memiliki POSBINDU.

    Desa sawarna mengajarkan kita untuk bersyukur.
    Saya sangay bersyukur saya adalah bagian dari Rona Nusantara ke – 7.

  4. Kalau Rona Nusantara ini apa kegiatan tahunan ya? Tapi kalau dah emak2 susah kali ya ikutan haha 😛
    Wah senengnya bisa dapat pengalaman dan temen baru.
    22 jam mah terbayar ya mas 😀

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here