Seandainya sepuluh tahun lalu saya memahami lima pelajaran komunikasi ini, mungkin ada beberapa keputusan dalam perjalanan karier dan bisnis yang bisa saya jalani dengan lebih baik.
Bukan berarti semuanya akan menjadi lebih mudah.
Namun, setidaknya saya bisa lebih siap ketika harus memperkenalkan diri, membangun kerja sama, bernegosiasi, membentuk tim, dan menawarkan kemampuan kepada orang lain.
Tulisan ini terutama saya tujukan untuk kamu yang masih kuliah, sedang bersiap masuk dunia kerja, atau baru memulai karier.
Pelajaran ini lahir dari perjalanan saya sejak terjun ke dunia jurnalistik sekitar tahun 2012, menjadi blogger, bekerja di bidang digital, membangun tim, merasakan kerasnya dunia bisnis, mendirikan perusahaan, hingga sering berdiskusi dengan pengusaha dari berbagai bidang.
Dari perjalanan itu, saya semakin sadar bahwa pentingnya komunikasi untuk karier dan bisnis bukan hanya soal kemampuan berbicara.
Komunikasi adalah kemampuan untuk membuat nilai kita dipahami, membangun kepercayaan, menyampaikan batasan, memahami kebutuhan orang lain, dan membuka peluang.
Berikut 5 pelajaran komunikasi yang saya harap sudah saya pahami sejak dulu.
Daftar Isi
1. Portofolio Lebih Kuat daripada Sekadar Pintar Berbicara
Pintar berbicara tentu menjadi kelebihan.
Kalau kamu punya kemampuan berbicara yang baik dan portofolio yang kuat, itu akan menjadi kombinasi yang sangat luar biasa.
Namun, bagi orang yang cenderung introvert seperti saya, portofolio sering kali menjadi “alat komunikasi” yang lebih meyakinkan daripada penjelasan panjang.
Saat bertemu orang lain, kita tidak harus terus-menerus mengatakan bahwa kita mampu.
Kita bisa menunjukkan karya, proses, pengalaman, dan hasil yang pernah dikerjakan.
Portofolio membuat percakapan menjadi lebih konkret.
Orang lain bisa melihat apa yang sudah kita lakukan, bagaimana cara kita bekerja, dan value apa yang mungkin bisa kita berikan.
Ini portofolio personal saya: https://sandiiswahyudi.com/portofolio/
Kalau ini portofolio saya kirim Alquran ke berbagai daerah dan mancanegara: https://sandiiswahyudi.com/galeri-pengiriman/
Sedangkan ini portofolio perusahaan kami: https://rafazagroup.com/portofolio/
Kamu belum punya portofolio?
Mulailah membangunnya dari sekarang!
Kamu bisa memulainya melalui:
- proyek pribadi;
- kegiatan organisasi;
- pekerjaan sukarela/volunteer;
- magang;
- tulisan;
- desain;
- dokumentasi kegiatan;
- studi kasus sederhana;
- proyek kecil bersama teman
- dll
Jangan menunggu sampai lulus atau sampai ada perusahaan yang memberi kesempatan!
Buat kesempatan kecilmu sendiri!
Hasilnya mungkin belum terasa hari ini.
Namun, satu atau dua tahun ke depan, atau bahkan lebih cepat dari itu, kumpulan karya tersebut bisa menjadi bekal penting untuk mendapatkan pekerjaan, proyek, relasi, sampai peluang bisnis.
2. Belajarlah Menceritakan Portofolio kepada Orang Lain
Punya portofolio saja belum cukup.
Kita juga perlu belajar mengomunikasikannya.
Ceritakan karya dan pengalamanmu ketika bertemu orang, mengikuti komunitas, menghadiri kegiatan, atau membangun personal branding di internet!
Tujuannya adalah membantu orang lain memahami siapa kita, kemampuan apa yang kita miliki, masalah apa yang bisa kita bantu selesaikan, dan value apa yang dapat kita berikan.
Banyak peluang datang bukan hanya karena seseorang memiliki kemampuan yang baik, tetapi karena orang lain mengetahui kemampuan tersebut pada waktu yang tepat.
Dari pengalaman saya, peluang juga sering datang dari arah yang tidak disangka-sangka.
Ada orang yang membaca tulisan kita.
Ada yang melihat karya kita.
Ada pula yang mendengar cerita tentang kita dari relasi lain.
Karena itu, jangan menyimpan semua kemampuan sendirian!
Tunjukkan karya dengan percaya diri, jujur, dan tetap proporsional!
Orang mencari value. Tugas kita adalah membantu mereka melihat value tersebut.
Apalagi dengan sekarang internet dan AI yang makin berkembang, kesempatan itu datang bisa dari mana saja.
Kamu tinggal eksplorasi, dalami, dan tunjukkan itu kepada dunia.
3. Kalau Ingin Bertumbuh Lebih Jauh, Belajarlah Membangun Tim
Ada banyak hal yang masih bisa kita kerjakan sendiri ketika baru memulai karier atau bisnis.
Namun, jika ingin bertumbuh lebih jauh, kita perlu belajar bekerja bersama orang lain.
Di sinilah kemampuan komunikasi menjadi sangat penting.
Membangun tim bukan sekadar mengumpulkan orang-orang yang pintar.
Kita perlu menemukan orang yang dapat saling melengkapi, memahami visi bersama, dan bersedia menjalani proses.
Siap untuk gagal, rugi, ditipu orang, atau bahkan hal-hal gak enak lainnya.
Namanya manusia ya, pengen pasti untung, cuma ya… di dalam bisnis itu banyak hal yang gak pasti, jadi ya… kesiapan di atas, agar mental dan mindset tetap positif serta rumah yang sudah dibangun tetap kokoh.
Untuk tim inti, saya pribadi lebih nyaman bekerja dengan orang yang karakter, kelebihan, dan kekurangannya saya sudah pahami.
Bukan berarti semuanya harus sama.
Justru perbedaan kemampuan bisa menjadi kekuatan selama ada komunikasi yang terbuka, tujuan yang jelas, dan kepercayaan yang terus dijaga.
Dalam proses membangun tim, ada banyak hal yang perlu dibicarakan sejak awal:
- visi dan tujuan;
- peran masing-masing;
- pembagian tanggung jawab;
- cara mengambil keputusan;
- sistem kerja;
- risiko;
- pembagian keuntungan
- serta kemungkinan untung maupun rugi.
Kerja sama yang panjang membutuhkan lebih dari sekadar semangat di awal.
Ia membutuhkan komunikasi yang jujur, kesediaan mendengarkan, dan kemampuan menyelesaikan perbedaan dengan dewasa.
Kalau ingin membangun tim yang kuat, jangan hanya mencari orang yang pintar!
Carilah orang yang bisa diajak bertumbuh, berdiskusi, dan menyelesaikan masalah bersama!
4. Terus Terang Sejak Awal Lebih Baik daripada Menyesal di Akhir
Pelajaran ini beberapa kali saya rasakan sendiri.
Ada saatnya saya tidak menyampaikan keberatan, ekspektasi, atau hal yang kurang sesuai sejak awal.
Akibatnya, saya sendiri yang rugi dan menyesal di belakang.
Karena itu, ketika sedang membicarakan pekerjaan, project, atau kerja sama bisnis, sampaikan hal-hal penting sebelum kesepakatan dibuat!
Misalnya, jika nilai yang ditawarkan belum sesuai dengan beban pekerjaan, sampaikan dengan baik.
Jelaskan kemampuan yang dimiliki, ruang lingkup pekerjaan, kontribusi yang diberikan, serta nilai yang menurut kita layak!
Negosiasi adalah hal yang wajar dalam bisnis.
Terus terang bukan berarti berbicara kasar atau memaksakan kehendak.
Terus terang berarti menyampaikan kondisi dengan jelas agar kedua pihak memahami apa yang sedang disepakati.
Lebih baik berdiskusi secara terbuka sejak awal daripada baru mengetahui ketidaksesuaian ketika pekerjaan sudah berjalan.
Prinsip ini tidak hanya berguna dalam bisnis.
Keterbukaan juga penting dalam pekerjaan, pertemanan, develop tim, bahkan kehidupan rumah tangga.
Kita memang tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan terjadi ke depan.
Namun, komunikasi yang terbuka membantu kita membangun hubungan yang lebih baik dan nyaman.
Ketika muncul masalah, kedua pihak sudah memiliki dasar untuk saling mengerti, saling percaya, dan mencari jalan keluar bersama.
5. Kemampuan Menjual Adalah Bagian Penting dari Komunikasi
Saya bukan berasal dari jurusan komunikasi atau marketing.
Namun, kemampuan menjual mulai saya pelajari ketika terjun ke dunia jurnalistik dan blogging saat masih kuliah.
Pengalaman itu perlahan membantu saya belajar menyampaikan ide, memahami kebutuhan orang, memperkenalkan karya, dan menawarkan value.
Dampaknya saya rasakan sampai sekarang.
Saya menjadi lebih percaya diri berkomunikasi, sales, negosiasi, baik melalui kanal online maupun secara langsung.
Alhamdulillah.
Menjual di sini tidak selalu berarti menawarkan produk.
Dalam perjalanan karier, kita juga perlu “menjual” gagasan, kemampuan, pengalaman, solusi, dan kepercayaan.
Agar prosesnya tidak terasa seperti sekadar pintar berbicara, kita perlu menyiapkan fondasinya:
- siapa diri kita;
- kemampuan apa yang dimiliki;
- masalah apa yang bisa kita bantu selesaikan;
- value apa yang ditawarkan;
- dan bukti apa yang bisa ditunjukkan.
Ketika fondasi tersebut sudah tersedia, proses komunikasi akan terasa lebih natural.
Kita tidak perlu mengarang kehebatan.
Kita hanya perlu menjelaskan kemampuan dan pengalaman dengan jujur, jelas, dan relevan.
Mengapa Komunikasi Penting untuk Karier dan Bisnis?
Dari lima pelajaran di atas, saya melihat satu benang merah.
Komunikasi bukan tentang siapa yang paling banyak berbicara.
Komunikasi adalah kemampuan untuk membuat nilai kita dipahami oleh orang lain.
Portofolio membutuhkan komunikasi agar terlihat.
Kerja sama membutuhkan komunikasi agar berjalan.
Negosiasi membutuhkan komunikasi agar adil.
Tim membutuhkan komunikasi agar tetap searah.
Penjualan pun membutuhkan komunikasi agar solusi bertemu dengan kebutuhan.
Karena itu, orang introvert tidak perlu merasa kalah sebelum memulai.
Kamu tidak harus menjadi orang yang paling ramai di ruangan.
Mulailah dengan membangun karya!
Dokumentasikan prosesnya!
Pelajari cara menceritakannya!
Berlatihlah menyampaikan pendapat!
Dengarkan kebutuhan orang lain!
Lalu, tingkatkan kemampuanmu sedikit demi sedikit!
Skill komunikasi tidak tumbuh dalam satu malam.
Ia dibangun melalui pengalaman, keberanian mencoba, kesalahan, evaluasi, dan kemauan untuk terus belajar.
Mulailah dari Langkah Kecil Hari Ini!
Kalau kamu masih kuliah, baru lulus, atau sedang berada di awal karier, sekarang adalah waktu yang baik untuk mulai melatih kemampuan komunikasi.
Tidak perlu menunggu sampai merasa sepenuhnya siap.
Buat satu karya!
Dokumentasikan prosesnya!
Ceritakan apa yang kamu kerjakan dan pelajaran yang kamu dapatkan!
Dari langkah kecil itu, kamu sedang membangun portofolio, kepercayaan diri, personal branding, dan kemampuan menjual sekaligus.
Kita tetap perlu belajar, bekerja, dan berikhtiar sebaik mungkin.
Setelah itu, hasil dan jalan rezeki kita serahkan kepada Allah.
Semoga lima pelajaran ini membantu kamu menjalani perjalanan karier dan bisnis dengan lebih siap.
Bagikan tulisan ini kepada teman yang sedang kuliah, mencari pekerjaan, atau merintis karier!
Sandi Iswahyudi
AI-Driven Digital Marketing Strategist







