Terhitung tujuh tahun diri ini telah merasakan dunia kuliah. Banyak pelajaran dan pengalaman yang bisa saya petik. Yang nanti insya Allah bisa saya terapkan dalam fase berikutnya.

Salah satunya tentang bekerja mencari uang. Ya, saya menyadari bahwa memang kuliah itu membutuhkan uang yang tak sedikit. Apalagi bagi kedua orangtua saya. Alhamdulillah walau dilihat orang, pekerjaan mereka semacam itu.

Tapi nilai, motivasi, hingga perjuangannya luar biasa. Alhamdulillah Allah menguatkan dan menyakinkan mereka sehingga saya bisa kuliah.

Allah sungguh perencana terbaik, Maha Kaya dan Maha atas Segala Sesuatu. Allah memudahkan kuliah saya, dengan diutus seseorang yang lokasinya di kota besar untuk membantu biaya kuliah saya. Alhamdulillah. Semoga beliau mendapatkan balasan terbaik dari Allah.

Lelaki diciptakan untuk bertarung, berjuang, dan memikul tanggung jawab. Saya pun alhamdulillah, diberi kesempatan olehNya untuk mempelajari hal ini sejak kuliah.

Maka walau orangtua tak menyuruh, tapi saya berinisiatif tuk bekerja sekadar membantu biaya kuliah. Ya walau tak seberapalah uangnya. Tapi ini salah satu bentuk tanggung jawab, fase kedewasaan, dan komitmen.

Saya masih ingat, saat semester satu. Saya izin ke orangtua, untuk bekerja di Malang di sebuah kafe. Masuk kerja pukul 5 sore. Pulang pukul 1/2/3an (lupa pastinya). Di sini saya kerja di bagian dapur. Bukan yang bagian masak, tapi cuci piring dan gelas.

Bekerja di sini cuma bertahan satu bulan. Selain karena Pakde menyarankan Ibu, untuk saya keluar, karena kerja di kafe. Selain itu, saya timbang-timbang juga kuliah saya terganggu. Saya jadi sering tertidur di kelas. Pernah dulu, saya di foto saat posisi tertidur. Haha, dulu malu sih kalau mengingat-ingatnya.

Tapi ya gimana lagi, tenaga terporsir saat kerja malam. Pengalaman pertama ini, mengajarkan saya tentang kenikmatan menggunakan uang, dari tetes keringat sendiri. Merasakan bagaimana seorang bapak mencari nafkah untuk keluarga, serta tak malu untuk melakukan sesuatu yang baik.

Setelah kejadian ini, saya tak lagi bekerja. Tapi dalam diri saya ingin bekerja supaya bisa bantu biaya kuliah. Beberapa hal yang saya lakukan pada masa ini, selain nanya ke teman-temen, saya juga masuk organisasi intra dan ekstra kampus. Terus kadang, saya juga bawa bekal, supaya irit pengeluaran hehe.

Alhamdulillah, ketika diri memberanikan masuk di organisasi intra, UKM FDI UMM. Saya jadi memiliki keterampilan menulis yang bisa saya gunakan untuk berprestasi dan menghasilkan uang. Saya ikut PKM (Program Kreativitas Mahasiswa), lomba menulis esai, sampai LKTI.

Lewat ini saya jadi tahu cara membuat proposal dan bisnis plan. Kemudian saya jadi penulis konten di Togetter Inc Japan, reporter di hellomalangku.com, freelance reporter di careernews.id (UGM) dan menulis di media online dan offline baik reportase, opini, dan resensi buku. Walau tidak seberapa, tapi tidak masalah.

Prinsip saya, uang itu urusan waktu. Keterampilan yang kita miliki dan ketakwaan pada Allah akan mendatangkan uang dari arah yang tidak diduga.

Selain menulis saya juga dapatkan kesempatan belajar wirausaha dengan dosen UMM. Saya diajak untuk ternak belut dan cacing Lumbricus rubellus. Alhamdulillah ternyata beternak cacing mudah, terpenting tidak jijik dengan kotoran ternak :D. Insya Allah esok saya akan ternak lagi.

Kemudian memasuki semester tengah-akhir, saya daftar jadi co. trainer UPT. P2KK UMM. Di sini saya belajar jadi seorang kakak dan guru. Waktu itu, alhamdulillah bayarannya 1 minggu jadi co. trainer seingatku 250.000-an.

Di atas semester delapan, lewat blog sandibrand.com, yang sekarang berganti menjadi sandibrand.id dan sandiiswahyudi.com, saya bisa kerja sama dengan brand lokal-nasional. Fase ini membuat saya memiliki julukan sebagai blogger, dan membuat saya bisa keliling ke beberapa kota di Indonesia, dapat pemasukan, makan di restoran mewah dan tidur di hotel berbintang, serta bertemu dengan orang-orang hebat lainnya.

Setelah itu pas semester tua, April 2016, saat masih galau-galaunya dengan skripsi, saya dapatkan kesempatan menjadi asisten pribadi dr. Gamal Albinsaid, CEO Indonesia Medika. Pekerjaan ini mengantarkan saya dalam satu bulan beberapa kali PP Malang-Jakarta dengan naik pesaat.

Kadang naik dari Malang, atau Surabaya. Saya juga bisa belajar banyak hal dengan beliau, dan bertemu dengan orang-orang penting. Kesempatan luar biasa bisa bekerja dengan sosok motivator dunia, seperti beliau.

Sekitar akhir tahun 2016, saya terjun ke jualan online. Awalnya si gak percaya, tapi saya beranikan diri untuk mencoba, hitung-hitung mumpung masih muda. Alhamdulillah ternyata berhasil, satu bulan saya dapat keuntungan bersih sekitar tiga jutaan.

Awal 2017, saya memutuskan menghentikan semuanya. Sebab saya harus fokus pada skripsi. Saya jadikan ini sebagai prioritas utama. Soalnya kalau gak begitu, pasti saya akan kena DO. Alhamdulillah setelah saya fokus, sekitar 3 bulan lebih, skripsi saya selesai.

Sekarang lagi menunggu jadwal ujian. Insya Allah setelah selesai sidang, akan kembali fokus pada beberapa hal yang ditinggal dan memperbaiki dengan hal lainnya.

Hikmah tujuh tahun kuliah dan bekerja

  1. Hingga detik ini saya menulis. Saya merasakan hikmah yang begitu besar, yaitu tentang kasih sayang Allah. Tuhan pencipta segala sesuatu, yang wajib kita imani. Saya merenung, tidak mungkin orang seperti saya bisa merasakan momen semacam ini—kuliah, bekerja, organisasi, berkarya, dan beraktivitas—bila tidak ditolong olehNya.
  2. Saya juga semakin menyadari, bahwa jika memang ingin maju/mengubah keadaan, harus dimulai dari diri sendiri, berjuang keras, dan bertawakal penuh kepadaNya. Banyak orang-orang yang kondisinya lebih dari saya, mereka menorehkan prestasi yang gemilang. Allah berfirman dalam QS. Ar-Rad: 11 “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” QS. At-Talaq: 3 “Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”
  3. Selain itu saya menyadari pentingnya fokus dan prioritas. Terutama fokus pada tujuan hidup, yaitu ibadah kepada Allah. Ketika kita memprioritaskan segala sesuatu pada Allah, maka dunia seisinya, akan datang ke kita dalam keadaan tunduk. Misalnya dalam keadaan apa pun, selalu memprioritaskan salat jamaah di masjid.
  4. Perjuangan itu artinya bersyukur. Jadi jika kita hanya berjuang, bekerja untuk kehidupan, tanpa bibir ini terbasahi oleh kalimat tahmid ‘Alhamdulillah’ bisa dipastikan perjuangan akan hambar dan tak damai dalam hati. Karena kata kuncinya, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram (QS. Ar-Rad: 28).”
  5. Bekerja dengan yakin sepenuh hati bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah. Serta mengamalkan hal-hal yang mendatangkan rezeki.

Konklusi

Tulisan ini hadir bukan sebagai pembenaran atas langkah yang saya ambil, bukan juga sebagai bentuk kesombongan atau semacamnya. Insya Allah tidak ada rasa itu dalam diri. Tapi lebih tepatnya sebagai bentuk rasa syukur padaNya, karena telah memberi saya kesempatan hingga sampai saat ini.

Kalian mungkin memahami kondisi semacam ini. Atau kondisi saat seseorang masuk di semester tua dengan ragam problem hidupnya. Mungkin ada sebagian dari kalian meremehkannya atau melecehkannya. Tanpa kalian tahu, bagaimana kondisi hidupnya.

Sebaiknya kalian tidak melakukan lagi, bila tak bisa membantu. Cukup doakan yang terbaik buat dia.

Dan hal terpenting lainnya, kita wajib bersyukur atas segala kondisi yang ada pada diri. Yakinlah bahwa pasti ini yang terbaik dariNya. Banyak hikmah yang terjadi disetiap kejadian.

Maka bagi kamu yang mungkin mengalami kondisi yang sama seperti saya. Selalu berbaik sangkalah pada Allah Azza wa Jalla, perbaiki diri, dan tatap masa depan dengan optimisme.

Semoga tulisan sederhana ini bisa menutup luka yang mungkin menganga dalam diri. Memberi senyum syukur dalam diri karena mampu menangkap hikmah yang Allah berikan. Serta bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.

Maaf bila ada kata/tulisan yang kurang berkenan. Terima kasih pada semua pihak. Jazakumullah khoiron.

7 KOMENTAR

  1. inspiratif, suka banget sama quotenya tentang uang itu hanya masalah waktu, saya juga sepakat keterampilan apabila terus diasah insyaa Allah akan mendatangkan rezeki di kemudian hari, tentunya dengan ridho Allah swt

  2. Tesisku juga molor setahun…
    Ngerilah itu prosesnya sempat gagal ujian juga…
    Lika likunya memang ga bisa ditebak
    Lebih beraat prosesnya dr pas skripsi
    Hampir saja molor lagi…

    Kalau pas ngumpul2 sama teman, biasanya kalimat penghiburnya ‘memang seperti ini jalannya’
    Ditambahin becandaan biar ga nelangsa banget, secara 1 smster byrnya 8 digit rupiah.
    ‘Yang lain udah pada ngajar, kita masih ngejar2 (dosen)’

    Jangan mudah baper kalo ada yg ngeledekkin tugas akhir molor, sebagian becandaan dam kedekkan itu ada yag isinya semangat.
    Anak2 tugas akhir ka sudah sepanengan pikirannya klo masih dimais ceramah sepaneng biasanya ga masuk…

    Butuhnya hiburan✌

  3. inspiratif mas, ya juga molor, walau ga di sambi bekerja, memang wajar jika kerja sambil kuliah susah ngatur waktunya. pinginya cepet lulus buat kerja, eh setelah kerja malah pingin kuliah lagi,

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here