Helvy Tiana Rosa sandi iswahyudi
Salah satu penulis yang saya suka, alhamdulillah dipertemukan di FIM 18 (Sumber IG FIM)

Tidak ada kepedulian

Sebelum Mei 2016 saya orang yang tidak terlalu respon dengan gerakan yang dilakukan sama Bunda Helvy Tiana Rosa. Padahal beliau penulis terkenal.

Saya tahu saat bunda keliling daerah di Indonesia untuk edukasi dan mengumpulkan dukungan terkait pemutaran film Ketika Mas Gagah Pergi. Saya juga tahu dari media sosial, jika beliau menolak beberapa tawaran dari produser film.

Alasannya yang saya ingat dahulu, beliau ingin tetap menjaga ruh dan nilai-nilai yang ada di novel. Sehingga antara novel dan film, masyarakat merasakan nilai yang sama.

Tulisan, buku, dan film, merupakan alat efektif untuk memasukkan suatu nilai/pemahaman pada masyarakat banyak.

Saya juga tahu, kalau beliau sampai mencari aktor yang sesuai dengan karakter tokoh di novel. Sehingga si aktor nanti, menjadi contoh-inspirasi bagi penonton-penonton film KMGP (Ketiga Mas Gagah Pergi).

Saya juga tahu, saat beliau mengisi di pondok teman saya tentang film ini. Soalnya saat itu teman saya share infonya di grup whats app Komunitas Booklicious Malang. Tapi saat itu, saya tidak juga respon/peduli.

BACA JUGA: Diary Ramadan #2: Tamparan Prof. Dr. Hamka di Kala Berbuka Puasa

Saya tidak tertarik sama sekali untuk tahu lebih jauh. Tentang kenapa Bunda Helvy, sampai mau mengumpulkan donasi, koloborasi dengan berbagai pihak, dan edukasi ke masyarakat tentang flim KMGP.

Entah waktu itu kenapa bisa terjadi. Mungkin juga karena hal itu tidak ada sangkut pautnya dengan saya. Saya tidak bertemu dan mendengar langsung dengan bunda Helvy. Atau karena kesibukan saya, yang hanya bermain media sosial.

Kalau kamu sendiri nasibnya apakah sama dengan saya?

Setelah Mei 2016, tepatnya 16-20 Mei 2016, semua berbalik. Saya jadi mulai menaruh ketertarikan, simpati, hingga empati. Saya mulai membeli novelnya KMGP terbitan Asma Nadia Publishing House. Saya mulai membaca kutipan-kutipan beliau tentang dunia menulis di situs Goodreads Indonesia.

Hari itu menjadi titik balik saya mengubah persepsi dan arah gerak.

Semuanya berubah

Ceritanya begini, sore itu tepatnya saya lupa, saya sedang mengikuti pelatihan kepemimpinan dan pembangunan karakter yang diadakan oleh BLFIM (Bukalapak Forum Indonesia Muda) di Cibubur, Jakarta. Saya duduk di kursi pojok paling belakang, sisi kanan.

BACA JUGA: SNSC FIMalang: Cara Bangun Keluarga Produktif di Medsos

Saat MC masuk, itu tandanya kita akan memasuki sesi berikutnya. Saya langsung melihat ke sudut tempat pemateri yang biasanya digunakan mereka untuk bersiap-siap menuju panggung.

Saya lihat, seorang ibu yang dia berkacamata, berbaju muslim, dengan tas dipunggungnya. Saya perhatikan lagi, dan saya bilang ke teman samping saya. “Itu sepertinya Bunda Helvy Tiana Rosa, seorang penulis terkenal itu.”

Saat tiga pemateri naik, dan MC memperkenalkan diri mereka satu-satu. Ternyata benar tebakan saya.

Di tempat itu, bunda memberikan inspirasi tentang kepenulisan, menggebu-gebu dengan semangat menggelora. Beliau bukan hanya mentrasfer ilmu, tapi juga nilai, dan semangat yang luar biasa pada kami. “Semua orang bisa nulis dan buat film,” kalimat yang diucapkan oleh Bunda dengan penuh semangat, yang membuat saya tersentak dan mengamininya.

BACA JUGA: CatatanBLFIM #4: 6 Poin Menusuk Helvy Tiana Rosa dan Sebuah Kontemplasi

Dari sesi ini saya tahu tentang kenapa beliau begitu konsen di dunia kepenulisan, islam, dan film. Sampai-sampai beliau rela untuk keliling daerah di nusantara, bertemu-kolaborasi dengan organisasi senafas untuk mendukung dan menyukseskan film KMGP.

Pancaran kesungguhan, ketulusan, keyakinan, dan nilai yang menghujam kuat dalam dada, terlihat dari bagaimana bunda menyampaikan materi pada peserta FIM.

Sehingga kami semua, bertepuk tangan saat beliau selesai presentasi, bertanya dengan antusias saat sesi pertanyaan, serta mendukung film KMGP 2.

Kalimat yang saya ingat, saat kami semua divideokan dengan bunda Helvy, bunda Tatty, dan teman-teman peserta FIM 18, yaitu,

“Forum Indonesia Muda mendukung film Ketiga Mas Gagah Pergi 2.”

Sejak saat itu, semangat saya tuk meningkatkan kemampuan menulis semakin kuat, alasan tuk menulis semakin tebal, dan keinginan untuk membaca karya-karya bunda Helvy semakin menguat.

Maka sepulang dari pelatihan FIM saya langsung beli buku KMGP di toko buku Malang. Membacanya, dan menyadari, kenapa tidak sejak dahulu saya membaca buku ini. Hem… penyesalan memang datang terlambat, tapi alhamdulillah masih diingatkan olehNya.

Ambil peran, bertindak, dan sebar

Kemudian, kemarin saat saya membuka situs kitabisa.com, dan melihat beberapa kampaye yang ada, ternyata ada kampaye Sedekah Tiket KMGP 2. Saya buka, bunda Helvy sendiri yang membuatnya. Tanpa pikir panjang kemudian saya menulis ini. Setelah itu ikut berdonasi di dalamnya.

Bagi saya, donasi seperti ini memiliki dampak jangka panjang. Kita tidak akan bisa merasakan dampak dalam waktu dekat.

Sama seperti kata Menteri Pendidikan, Pak Anies Baswedan tentang Kelas Inspirasi, menyisihkan waktu satu hari, memberi inspirasi sepanjang masa.

Di sedekah tiket KMGP 2 ini juga seperti itu. Inspirasi hingga nilai-nilai yang ada dalam film, akan memberikan inspirasi bagi penonton sepanjang masa.

Kamu masih masih ingat adegan di film, bahkan apa yang dibicarakan sama tokoh utama. Sampai-sampai tingkahnya, mungkin kamu ikuti juga. Itulah salah satu dampak luar biasa dari film.

Jadi izinkan saya mengajak rekan-rekan, mari kita ikut berdonasi di kampaye yang digalakkan oleh bunda Helvy. Cukup klik link DONASI, maka kamu akan saya arahkan langsung ke halaman kampanye bunda.

Jangan pernah berpikir bahwa apa yang kita beri tidak berdampak! Jangan pernah menunda suatu kebaikan! Jangan pernah diam untuk menginginkan sebuah perubahan!

Kita harus bergerak, kalau bisa bersama-sama, jangan sendiri!

Saran saya, setelah kamu donasi untuk tiket KMGP 2. Ajak yang lain, yang suka anak-anak, generasi muda, perubahan, film, budaya, dan Indonesia untuk ikut berdonasi.

Sekali lagi, jangan pernah menunda sebuah kebaikan! Mari kita bergerak bersama-sama. Indonesia tidak akan bisa berubah jika sendirian.

Maka bersama-sama, saling kolaborasi dan selaras dalam aksi adalah jalan untuk Indonesia lebih baik.

Jika tak bisa lakukan hal besar, hal kecil pun cukup. Karena hal besar, dimulai dari yang kecil. Lebih baik bergerak untuk perubahan walau itu kecil, daripada duduk menyalahkan perubahan.

Mari tebar senyum, kebahagiaan, kedamaian, dan optimisme pada Indonesia.

Selamat berdonasi. Selamat bergerak, dan selamat malam :).

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here